Page 114 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 114

pemahaman dan penerapan (C2 dan C3). Akibatnya pembelajaran menjadi kurang
                           bermakna.  Fakta  ini  sejalan  dengan  hasil  temuan  Usaid  dan  Depdikbud  (2013:
                           125)  yang  menyatakan,  “jika  tujuan  mengajar  itu  antara  lain  untuk

                           mengembangkan  siswa  berpikir,  maka  kemampuan  utama  guru  adalah
                           mengajukan  pertanyaan.  Namun  seringkali  pertanyaan  yang  diajukan  hanya

                           membutuhkan  jawaban  YA  atau  TIDAK  pertanyaan  yang  membutuhkan  hanya
                           satu jawaban, atau pertanyaan  yang mendorong siswa untuk mengulang gagasan

                           yang  telah  dikemukakan  guru; bukan pertanyaan  yang  merangsang  siswa untuk
                           mengemukakan gagasannya sendiri.” Bahkan yang lebih merisaukan adalah akibat

                           dari  pertanyaan  kognitif  rendah  dan  cara  guru  mengajukan  pertanyaan
                           menyebabkan  siswa  hanya  menjawab  setengah  dari  jawaban  yang  seharusnya,
                           misalnya;  Bapak  proklamator  adalah……Soekarno  Ha…..?  jadi  siswa  hanya

                           menjawab  TA.    Dapat  dibayangkan  bagaimana  mungkin  pembelajaran  sejarah
                           menarik  minat  dan  mendapat  perhatian,  merangsang  daya  pikir  siswa  jika

                           pertanyaan  dan  cara  bertanya  dilakukan  dengan  pendekatan  yang  jauh  dari
                           pedagogis.  Padahal,  Supriatna  (2008:  223)  menyatakan  “pertanyaan-pertanyaan
                           kritis  yang  dikembangkan  dalam  pembelajaran  sejarah  tidak  hanya  dapat

                           memfasilitasi  para  peserta  didik  untuk  mampu  berpikir  kritis,  tetapi  juga
                           menjadikan dirinya sebagai pelaku sejarah pada zamannya.”

                                 Substansi dan cara bertanya atau keterampilan guru mengajukan pertanyaan
                           perlu  mendapat  perhatian  guru  sejarah  karena  Saud  (2008:  170)  dengan  tegas

                           menyatakan  bahwa  “belajar  pada  hakikatnya  adalah  bertanya  dan  menjawab
                           pertanyaan.”  Dalam  kaitan  ini  pula  Gunawan  (2012:  256)  memberikan  uraian

                           lebih  lanjut  “bertanya  dapat  dipandang  sebagai  refleksi  dari  keinginantahuan
                           setiap  individu,  sedangkan  menjawab  pertanyaan  mencerminkan  kemampuan
                           sesesorang dalam berpikir” Sebenarnya dengan bertanya, maka seseorang sudah

                           menunjukkan  aktivitas  berpikir.  Hanafiah  dan  Suhana  (2009:  74)  menjelaskan
                           bahwa  “proses  belajar  yang  dilakukan  peserta  didik  diawali  dengan  proses

                           bertanya.  Proses  bertanya  yang  dilakukan  peserta  didik  sebenarnya  merupakan
                           proses berpikir yang dilakukan peserta didik dalam rangka memecahkan masalah






                                                                11
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119