Page 111 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 111
perlu diajarkan dan bagaimana proses pembelajarannya.” Dua hal inilah yang
perlu dikuasai dengan baik oleh guru sejarah, yakni “tahu apa dan tahu cara
membelajarkan sejarah.”
Tanpa berpretensi mengabaikan “tahu apa,” yang juga diakui masih
bermasalah hingga kini, maka yang paling krusial dibenahi adalah “tahu cara”
membelajarkan sejarah karena secara konkrit memang menunjukkan pembelajaran
sejarah belum beranjak secara signifikan dari metode ekspositori yang
memposisikan siswa sebagai objek yang terbatas pada kegiatan mendengarkan
dan mencatat. Karena itu, Hapsari (2006:1) menyatakan ”yang membuat siswa
tidak suka belajar sejarah, antara lain proses pembelajaran yang tidak menarik
atau membosankan.” Kumalasari (2005:12-13) mengemukakan penyebab
munculnya masalah dalam pembelajaran sejarah, antara lain “metode
membelajaran sejarah pada umumnya kurang menantang daya inteketual peserta
didik.” Permasalahan pembelajaran sejarah sebagaimana dikemukakan di atas
dapat diakumulasi dalam satu pemahaman yakni proses pembelajaran sejarah
belum efektif.
Terkait proses, ada tiga kelemahan mendasar yang sering ditemukan
dalam pembelajaran sejarah, yakni; pertama, penerapan model, strategi, dan
metode pembelajaran bersifat monoton. Rumus yang paling sering digunakan
adalah one for all. Satu metode untuk membelajarkan semua materi. Suhartini
(2001:6) menjelaskan ”guru cenderung menggunakan satu metode dalam
membelajarkan keseluruhan materi, tanpa mempertimbangkan karakteristik dari
setiap topik materi yang disampaikan.” Metode yang paling sering menjadi
tumpuan harapan guru sejarah adalah metode ceramah. Begitu akrabnya guru
sejarah dengan metode ceramah, maka kesan yang muncul adalah mata pelajaran
sejarah identik dengan ceramah dan bukan sejarah kalau tidak berceramah.
Pembelajaran sejarah belum berhasil melakukan transformasi dari ekspositori ke
model-model pembelajaran lain yang lebih menekankan pada aspek
konstruktivistik dan kooperatif yang sekarang menjadi kecenderungan dalam
pembelajaran. Terkait dengan trend aplikasi cooperative learning dalam
pembelajaran, Hasan (2000:26) menganjurkan, “cooperatvie learning yang
8

