Page 106 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 106

MODEL LACAK JEJAK BERBASIS NARASI IMAJINATIF:
                                  UPAYA MEMBANGUN HIGHER ORDER THINKING SKILLS
                                             DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

                                               IDRUS. A. RORE, S.Pd., S.H.,M.Pd
                                          (Widyaiswara LPMP Sulawesi Tengah – Palu)




                           PENDAHULUAN
                                  Pada  tahun  2004  diimplementasikan  Kurikulum  Berbasis  Kompetensi

                           (KBK)  yang  mereduksi  Kurikulum1994. Pada tahun  2006  KBK disempurnakan
                           menjadi  Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP)  dan  pada  tahun  2013

                           diintrodusir  Kurikulum  2013  sebagai  penyempurnaan  KTSP  yang  kemudian
                           diberlakukan secara bertahap hingga kini. Tercatat, satu dasawarsa terakhir, sudah
                           tiga  kali  dilakukan  penyempurnaan  kurikulum.  Kurikulum  memang  harus

                           senantiasa  dievaluasi  dan  diperbaharui  agar  tetap  sesuai  dinamika  dan  konteks
                           zaman. Karena wajah masa depan bangsa, antara lain ditentukan kurikulum yang

                           diberikan kepada siswa dewasa ini. Muatan kurikulum yang baik, idealnya selalu
                           merefleksikan  jiwa  zaman  karena  setiap  zaman  memiliki  karakter  dan  ciri  khas

                           tersendiri  sehingga  kurikulum  juga  harus  disesuaikan.  Kurikulum  yang  tidak
                           sesuai dengan konteks zaman, tidak akan mencerahkan dan menjawab kebutuhan

                           generasi masa kini dan masa depan.
                                  Pada  tataran  praktis  (sekolah),  kurikulum  lebih  dimaknai  sebagai  mata
                           pelajaran. Karena  itu, eksistensi mata pelajaran ditentukan oleh  kurikulum  yang

                           sedang  berlaku.  Sejak  Indonesia  merdeka,  untuk  pertama  kali  dalam  sejarah
                           kurikulum, mata pelajaran sejarah mendapat perlakuan istimewa. Pada saat KBK

                           dan  KTSP  diberlakukan,  posisi  mata  pelajaran  sejarah  sangat  lemah.  Alokasi
                           waktu yang sebelumnya 2 X 45 menit perpekan perkelas dipangkas menjadi 1 X
                           45  menit.  Bahkan  pada  Jurusan  IPA,  mata  pelajaran  sejarah  ditiadakan  sama

                           sekali. Untuk Jurusan IPS tetap mendapat jatah  2 X 45 menit.  Sungguh  ironis,
                           Pada  satu  sisi  diakui  urgensi  karakter  dan  jati  diri  bangsa  dalam  pembangunan

                           nasional,  akan  tetapi  pada  sisi  yang  lain  justru  mata  pelajaran  sejarah  sebagai




                                                                3
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111