Page 107 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 107
instrumen yang diyakini dapat memperkokoh karakter dan jati diri bangsa,
dinafikan seolah-olah sejarah tidak bermakna. Memang, dalam konteks
pembelajaran sejarah, salah satu gugatan tidak beralasan yang sering
dikedepankan adalah untuk apa belajar sejarah.? Pranoto (2010: 6) mensinyalir
“sering orang khilaf bahwa sejarah tidak mempunyai nilai.”
Bukan hanya siswa yang terjangkit pemahaman keliru melainkan juga
masyarakat pada umumnya bahkan di kalangan guru seringkali terkontaminasi
persepsi negatif bahwa mata pelajaran sejarah tidak kontributif dalam kehidupan.
Ketika rapat dewan guru untuk penentuan dan pembagian jam mengajar, maka
mata pelajaran sejarah lebih dominan ditempatkan pada jam terakhir (jam 12.00
ke atas - siang). Sementara itu, mata pelajaran lain, seperti matematika, fisika,
kimia, dan bahasa Inggris dijadwalkan pada pagi hari (07.00 – 12.00).
Argumentasi yang sering dibangun adalah mata pelajaran tersebut membutuhkan
pemikiran dan konsentrasi yang tinggi sehingga perlu dijadwalkan pagi hari
karena pada pagi hari, pemikiran dan konsentrasi siswa masih segar.
Pengalaman empirik memberikan kesan bahwa stakeholder di berbagai
satuan pendidikan telah “sepakat” mewariskan kepada guru sejarah untuk
melaksanakan pembelajaran pada siang hari. Parahnya lagi, siapapun boleh
mengajar mata pelajaran sejarah. Maka tidak mengejutkan, ketika di sebuah
sekolah tidak ada guru sejarah yang berlatar belakang disiplin pendidikan sejarah,
maka mata pelajaran sejarah “dikeroyok” guru dari berbagai disiplin ilmu lain.
Akan tetapi, ketika guru mata pelajaran matematika dan fisika atau mata pelajaran
eksat lain tidak tersedia di sekolah tersebut, maka sungguh sangat mengejutkan
jika guru sejarah diberikan kepercayaan mengampu mata pelajaran dimaksud dan
sejauh ini kejutan itu belum terjadi.
Argumentasi lain yang sering dikemukakan untuk menggampangkan
pembelajaran sejarah terutama di era pra sertifikasi guru adalah mata pelajaran
eksat dan bahasa Inggris sangat dibutuhkan dan berguna dalam kehidupan sehari-
hari. “Pembenaran” ini, tampaknya relevan dengan kecenderungan berpikir
pragmatis yang sedang menerpa dunia pendidikan bahwa yang disebut nilai guna
harus bersifat langsung dan berwujud material. Padahal, karakteristik sejarah
4

