Page 123 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 123

melainkan  pada  teks  atau  naskah/narasi  imajinatif  juga  mensugesti  siswa  untuk
                           lebih konsentrasi dan serius dalam mengikuti pembelajaran sejarah. LKS LJBNI
                           yang  baik  mampu  memberikan  tantangan  dan  daya  tarik  dalam  pembelajaran

                           sejarah.
                                 Pembelajaran selama ini (bukan hanya sejarah) terlalu fokus pada kognitif.

                           Kecenderungan  ini  terutama  terjadi  sebelum  diberlakukannya  Kurikulum  2013.
                           LJBNI  mengakomodir  ranah  afektif,  kognitif,  dan  psikomotorik.  Melalui  LKS

                           LJBNI, siswa memperoleh nilai-nilai afektif seperti; teliti, sabar, mendorong rasa
                           ingin  tahu,  bekerjasama  dalam  kelompok,  dan  membangun  komunikasi    untuk

                           melacak  jejak  -  menemukan  fakta  (pengetahuan  –  kognitif),  dan  pada  akhirnya
                           terampil melakukan eksplanasi merangkai  fakta  menjadi satu alur narasi sejarah
                           dan  kemudian  mempresentasikan  secara  lisan  (keterampilan  –  psikomotorik).

                           Dengan  demikian  LJBNI  tidak  hanya  cognitive  oriented,  melainkan  juga
                           menekankan pada afektif dan psikomotorik sehingga pembelajaran sejarah sesuai

                           dengan misi utamanya mengembangkan kepribadian, jati diri, dan karakter siswa.
                           Selain itu, sejalan pula dengan assessment authentic yang menghendaki penilaian
                           dilakukan  pada  tiga  ranah  secara  simultan  sebagaimana  diamanatkan  dalam

                           Kurikulum 2013.
                                 Model  LJBNI  tidak  hanya  mendukung  penilaian  autentik  melainkan  juga

                           relevan  dengan  pendekatan  saintifik  sebagai  salah  satu  ciri  utama  dalam
                           Kurikulum  2013.  Semua  tahapan  saintifik  terlihat  jelas  dalam  implementasi

                           saintifik.  Proses  mengamati  diawali  dengan  membaca  naskah  LJBNI  yang
                           kemudian disusul dengan mengajukan pertanyaan. Pertanyaan didiskusikan dalam

                           kelompok  setelah  itu  dituntun  melacak  jejak  dan  fakta  sejarah  untuk  dijadikan
                           basis  membangun  eksplanasi  sejarah.  Dalam  konteks  ini  narasi  imajinatif  yang
                           telah  dikembangkan  diakhiri  dengan  narasi  faktual  yang  dilakukan  siswa  untuk

                           kemudian melakukan komunikasi dan presentasi.
                                 LJBNI  juga  berciri  kooperatif  dan  konstruktivistik.  Kedua  ciri  menjadi

                           kekuatan dan keunggulan model LJBNI yang selama ini justru menjadi salah satu
                           aspek  yang  paling  sering  diabaikan  guru  sejarah.  Berciri  kooperatif  karena

                           penerapan  LJBNI  mensyaratkan  pembagian  kelompok  heterogen.  Instrumen



                                                                20
   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128