Page 129 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 129

dan 3) membutuhkan sumber belajar  yang lebih variatif. Dari ketiga kelemahan
                           LJBNI,  tampaknya  yang  paling  mendasar  adalah  kelemahan  yang  berkaitan
                           dengan  merancang  LKS  LJBNI  karena  dalam  realitas  untuk  mengembangkan

                           LKS  LJBNI  memang  tidak  hanya  membutuhkan  imajinasi  guru  sejarah  terkait
                           materi  yang  akan  dibelajarkan  dengan  LJBNI  melainkan  juga  berkaitan  dengan

                           kompetensi guru sejarah dalam menulis.
                                 LKS  LJBNI  adalah  sebuah  narasi  imajinatif  berbasis  materi  sebagaimana

                           tertera dalam kurikulum. Karena itu, ada dua hal yang perlu dikuasai guru sejarah
                           yakni;  menulis  dan  imajinasi.  Jadi,  hasil  imajinasi  ditulis  dalam  bentuk  narasi

                           yang menarik sehingga pada tahap awal ketika membaca LKS LJBNI, maka siswa
                           sudah  tertarik  dan  termotivasi  untuk  mengikuti  pembelajaran.  Jika  materi  tidak
                           dikembangkan dalam bentuk narasi imajinatif, maka LKS tersebut tidak lebih dari

                           sekadar  memindahkan  narasi  dari  buku  ke  LKS.  Jika  ini  terjadi,  maka  jelas
                           pembelajaran  tidak  akan  menarik  dan  menantang  pemikiran  siswa.  Karena  itu,

                           untuk  mengatasi  keterbatasan  ini,  maka  guru  sejarah  dapat  melakukan
                           pengembangan  LKS  LJBNI  secara  kolektif  melalui  Musyawarah  Guru  Mata
                           Pelajaran (MGMP).

                                 Kelemahan  yang  berkaitan  dengan  waktu  sangat  tergantung  pada
                           kemampuan  guru  sejarah memanej  waktu.  Action  research    memang dilakukan

                           pada  kelas  XI  IPS  dengan  alokasi  waktu  3  JP  sehingga  relatif  tidak  terlalu
                           bermasalah. Bagaimana dengan pembelajaran sejarah dengan alokasi waktu 2 JP.

                           ?    Misalnya  pelaksanaan  pembelajaran  Sejarah  Indonesia,  apakah  2  JP  cukup
                           untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien.?  Meskipun belum

                           diujicobakan  untuk  pembelajaran  2  JP,  akan  tetapi  dinamika  yang  berkembang
                           selama action research dapat diasumsikan, waktu 2 JP dinilai relatif cukup untuk
                           melaksanakan  LJBNI.  Lagi  pula,  jika  dikombinasi  dengan  pendekatan  saintifik,

                           maka  pelaksanaan  LJBNI  tidak  harus  selesai  dalam  satu  paket  pembelajaran.
                           Adapun kelemahan keterbatasan sumber belajar, memang dapat menjadi kendala

                           terutama  untuk  sekolah  yang  memiliki  keterbatasan  sumber  belajar,  misalnya;
                           jaringan internet belum tersedia dan koleksi perpustakaan belum memadai. Akan

                           tetapi, dengan kreativitas guru sejarah, maka kelemahan ini dapat diantisipasi.



                                                                26
   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134