Page 267 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 267

I Gusti Ketut Pudja      253




               Pudja, hlm. 15. Lihat juga I Ketut Ardhana, “Balinese Puri in Historical Perspective:
               The Role of Puri Satria and Puri Pamacutan in Social and Political Changes in Badung,
               South Bali 1906–1950,” Tesis M.A.  Desember 1993, hlm. 125.

               41 I Nyoman Mantik yang awalnya berhubungan dengan pendiri sekolah Taman Siswa
               di Bali, Wiyono Suryokusumo di Yogyakarta. I Made Wija Kusuma berulang kali ke
               Jawa antara 1944–45 untuk berkomunikasi dengan pejuang-pejuang bawah tanah.
               Kelak keduanya berperan sangat penting dalam revolusi kemerdekaan. Robinson,
               The Dark Side, hlm. 90; Pendit, Bali Berjuang, hlm. 46–7.
               42 Para pelajar di Buleleng terutama berhubungan dengan I Gde Puger, pejuang asal
               Denpasar yang bekerja untuk radio pemerintah Jepang, Hoso Kyoku, yang kantornya
               berseberangan dengan sekolah Cu Gakko (setingkat SMP) di Singaraja. Pendit, Bali
               Berjuang, hlm. 50.
               43 Robinson, The Dark Side, hlm. 90–1.

               44 Komando AD Ke-16 Jepang berinisiatif membentuk BPUPKI karena perdebatan di
               kalangan pemerintah di Tokyo berlarut-larut dan tidak menghasilkan putusan apa-
               apa;  lihat  Inomata, “Persiapan  Kemerdekaan.”  Penjelasan  editor  Risalah  Sidang
               BPUPKI dan PPKI, hlm. xxvii, tentang kaitan antara wilayah kekuasaan AD dan AL
               Jepang dengan keputusan tentang persiapan kemerdekaan juga baik diperiksa.

               45 Ricklefs, A History of Modern Indonesia, hlm. 209.

               46 Lihat analisis  yang cukup teliti tentang komposisi  anggota PPKI dalam  Benedict
               Anderson, Java in a Time of Revolution (Ithaca, N.Y.: Cornell University Press, 1972),
               hlm. 64–5.

               47 Wawancara dengan I Gusti Made Arinta Pudja, Jakarta, 23 November 2017.
                Pramoedya Ananta  Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil,  Kronik
               48
               Revolusi Indonesia, Jilid 1 (1945) (Jakarta: KPG, Ikapi, Ford Foundation, 1999), hlm.
               21.
               49 Dari catatan Anderson,  tiga tokoh pemuda, Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana
               juga diusulkan masuk dalam PPKI tetapi mereka menolak karena menganggap PPKI
               ‘bau’ Jepang. Menurut mereka Indonesia sudah  merdeka dan tidak perlu lagi
               mempertahankan hubungan dengan Jepang. Mereka mendesak Sukarno dan Hatta
               untuk mengalihkan sidang PPKI ke tempat yang lebih terbuka sehingga publik dapat
               terlibat dan mengubah nama PPKI menjadi Komite Nasional Indonesia. Lihat
               Anderson, Java, hlm. 86.

               50 Mengenai  penjelasan tentang perubahan yang diusulkan Mohammad Hatta, lihat
               Sekretariat Negara RI, Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI (Jakarta, 1998), hlm. 533–4.

               51 Sekretariat Negara RI, Risalah, hlm. 537.
               52 Wawancara dengan I Gusti Made Arinta Pudja, Jakarta, 23 November 2017.
   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272