Page 264 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 264
250 Gubernur Pertama di Indonesia
CATATAN
1 Ungkapan ini muncul dalam artikel Van Deventer “Een Eeereschuld” (Hutang
Kehormatan) dalam De Gids (1899). Insulinde adalah sebutan tidak resmi untuk
wilayah Hindia Belanda yang diperkenalkan oleh Douwes Dekker alias Multatuli
lewat novelnya yang termasyhur, Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang
Belanda (Jakarta: Djambatan, 1977).
2 Adrian Vickers, Bali: A Paradise Created, Edisi II (Tokyo, Rutland, Singapura: Tuttle,
2012), hlm. 58.
3 Tentang Perang Jagaraga lebih lanjut, lihat Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah
Bali (Jakarta: 1983/1984), Bab III, hlm. 34–51.
Anak Agung Gde Putra Agung, Peralihan Sistem Birokrasi dari Tradisional ke
4
Kolonial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 180.
5 Tentang hukum adat tawan karang secara ringkas dapat dilihat dalam
https://id.wikipedia.org/wiki/ Tawan_Karang. Penjelasan tentang perjanjian antara
penguasa kolonial dan raja-raja Bali, lihat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Sejarah Perlawanan, hlm. 27.
I Made Pageh, Konteks Lampah Mr. I Gusti Ketut Pudja 1908–2010: Kepahlawanan
6
dan Perjuangan Sejarah Sekitar Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (Denpasar: Pustaka Larasan, MSI Cabang Buleleng, Universitas Negeri
Pendidikan Ganesha Singaraja, dan Pemerintah Daerah Buleleng, 2011), hlm. 45–6.
Lihat juga penjelasan M. C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1300
(Stanford, California: Stanford University Press, 1993), hlm. 134.
Butir-butir penjelasan ini dirangkum dari paparan Geoffrey Robinson, The Dark
7
Side: Political Violence in Bali (Ithaca and London: Cornell University Press, 1995),
hlm. 25–6.
8 Gambaran tentang perubahan struktur pemerintahan dan birokrasi di Jawa, lihat
Heather Sutherland, The Making of a Bureaucratic Elite: The Colonial Transformation
of the Javanese Priyayi (Hong Kong, Kuala Lumpur, Singapura: Heinemann
Educational Books [Asia], 1979).
9 Sebagai pembanding dapat dibaca memoar putra-putra raja Karangasem dan
Gianyar, A. A. M. Djelantik, The Birthmark: Memoirs of a Balinese Prince (Hong Kong:
Periplus, 1997) dan Ide Anak Agung Gde Agung, Kenangan Masa Lampau: Zaman
Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali (Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1993). Kerajaan-kerajaan di Jawa juga melalui pengalaman serupa
pada masa yang lebih awal. Lihat Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya,
Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990),
hlm. 76–7.

