Page 265 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 265

I Gusti Ketut Pudja      251




               10 Vickers, Bali,  hlm. 130.

               11 Robinson, The Dark Side Side of Pradise, hlm. 102.
               12 Punggawa  adalah kerabat raja yang diberi kewenangan mengelola area
               administratif tertentu dalam satu wilayah kerajaan. Ia berhak memungut pajak dan
               menggalang rakyat untuk kepentingan pribadinya. Dalam banyak kasus punggawa
               dapat lebih berkuasa dan berada dibandingkan raja. Untuk penjelasan  lebih lanjut
               tentang struktur kerajaan di Bali prakolonial, lihat A. A. G. N. Ari Dwipayana, Kelas
               dan Kasta: Pergulatan Kelas Menengah Bali  (Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama,
               2001), terutama Bab II.
               13 Rika Umar,  Mr. I Gusti Ketut Pudja:  Riwayat Hidup dan Pengabdiannya  (Jakarta:
               Depertemen Pen-didikan dan Kebudayaan, 1986), hlm. 8.
               14 Wawancara dengan I Gusti Made Arinta Pudja (putra kedua I Gusti Ketut Pudja),
               Jakarta, 23 November 2017.
               15 Bagian ini dirangkum dari catatan Udayana P. Tisna (putra raja Buleleng terakhir
               Anak Agung Nyoman Panji Tisna), dalam Pahlawan Nasional: Patih Jelantik, Seorang
               Ksatria Buleleng  (Jakarta: Grafiti, 1996), hlm. 109–10. Menurut catatan Tisna,
               Gempol dibuang ke Jawa; tetapi menurut putra Pudja, Made Arinta, Gempol dibuang
               ke Padang. Wawancara dengan I Gusti Made Arinta Pudja, Jakarta, 23 November
               2017.
               16   Keterangan ini diperoleh dari laman Face Book Persatuan Setia Hati Winongo
               1903                          Madiun;                         lihat
               https://www.facebook.com/283030768421994/photos/a.621134547944946.1073
               741825.283030768421994/987200781338319  dan  “Riwayat  Ki  Ngabehi Suro
               Diwiryo”  http://taufiqna99.blogspot.ca/2012/12/sejarah-psht.html,  diakses  25
               November 2017.

               17 Vickers, Bali, hlm. 211.
               18 Wawancara dengan I Gusti Made Arinta Pudja, Jakarta, 23 November 2017.

               19 Pandangan ini ditemukan dalam catatan Gde Agung, Kenangan Masa Lampau dan
               Jelantik,  The Birthmark, tentang ayah-ayah mereka yang juga mendorong anak-
               anaknya bersekolah tinggi.
                Lihat memoar Gde Agung, Kenangan Masa Lampau, hlm. 31–57 dan Jelantik, The
               20
               Birthmark, hlm. 65–75.

               21 Lihat Rudolf Mrázek,  Sjahrir: Politics and Exile in  Indonesia  (Ithaca, New York:
               Cornell Southeast Asia Program), hlm. 33–55.

               22 Gde Agung, Kenangan Masa Lampau, hlm. 96–7.
   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270