Page 262 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 262

248       Gubernur Pertama di Indonesia



            tak tanggung-tanggung ia melaksanakan tugasnya dan membuktikan
            kesetiaannya terhadap Republik. Ia tidak saja mudah menyerap
            pengetahuan baru dengan baik, tetapi juga mampu mengolahnya
            untuk tujuan kemajuan bangsanya. Ia seakan-akan paham  benar
            bahwa untuk membangun negara baru diperlukan pasukan birokrat
            profesional yang menguasai bidangnya masing-masing dengan baik.
                   Pudja tercebur dalam tugas membangun Republik Indonesia
            karena kepatuhannya terhadap perintah atasan, Minseibu Chōkan. Ia
            mungkin tidak pernah menduga bahwa Indonesia yang ia siap tekuni
            akan berada di tengah pusaran pergolakan yang demikian dahsyat.
            Setelah Proklamasi untuk kali  pertama Indonesia sebagai sebuah
            kesatuan entitas politik berhadapan dengan penjajah Belanda secara
            militer. Pada masa sebelum Perang Dunia II perjuangan kaum
            nasionalis tidak  pernah  menggunakan strategi perlawanan
            bersenjata. Adalah penguasa militer Jepang yang memperkenalkan
            strategi militer, lalu tradisi militeristik, kepada generasi nasionalis
            berikutnya. Tak mengherankan jika pemudalah yang menjadi ujung
            tombak  Revolusi  Kemerdekaan.  Mereka  yang  dididik  untuk
            mengangkat senjata memiliki semangat bertempur  sampai  titik
            darah  penghabisan,  dan  mudah  membentuk  laskar-laskar  berani
            mati, tanpa persenjataan mutakhir. Pimpinan RI  dari generasi
            nasionalis sebelumnya tak punya pengetahuan militer yang memadai
            ataupun pengalaman bertempur.
                   Dalam  kondisi RI  dikepung secara militer, pasukan  gerilya
            republik dengan keterbatasan pelatihan, senjata, dan logistik harus
            berhadapan dengan berbagai pasukan yang derajat semangat serta
            kepentingannya berbeda-beda. Sementara itu, pemimpin-pemimpin
            baru seperti Pudja dihadapkan  pada kerumitan pemindahan
            kekuasaan karena adanya jeda dalam pergantian antar-penguasa.
            Sebagai kepala daerah, Pudja diharapkan memperbarui atau
            membangun struktur pemerintahan baru tetapi kewenangan yang ia
            miliki demikian terbatas dan pemerintahannya tidak memiliki alat-
            alat pemaksa yang efektif untuk menerapkan keteraturan terhadap
            masyarakat. Bali sendiri tidak pernah diperintah oleh satu kekuatan
            tunggal yang menguasai seluruh wilayah sebelum Belanda dan
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267