Page 261 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 261

I Gusti Ketut Pudja      247



               PENUTUP


               I Gusti Ketut Pudja sebenarnya adalah “hasil pelaksanaan” Politik Etis
               yang ideal dari kaca mata pemerintah kolonial. Ia pergi ke sekolah-
               sekolah terbaik, belajar dengan tekun, menjadi kutu buku, dan lulus
               tepat pada waktunya, lalu bekerja sebagai pegawai di kantor-kantor
               pemerintah kolonial. Di balik kemuliaan  maksud Politik  Etis untuk
               membalas budi baik dan meningkatkan harkat hidup kaum
               bumiputra, penyelenggaraan pendidikan modern secara meluas amat
               berkaitan dengan kepentingan pemerintah kolonial mencari pegawai
               baru untuk menjalankan mesin birokrasi negara yang semakin besar
               dan bercabang-cabang. Menariknya ia tidak kemudian sekadar
               menjadi pegawai pangreh praja yang patuh sepenuhnya kepada
               atasan  dan sama sekali menghindari politik demi karirnya sebagai
               birokrat. Pada masa kritis ia memilih mempertahankan Republik
               daripada mengejar jabatan.
                      Ada  kemungkinan  bahwa sikap  ksatria  Pudja  yang
               menunjukkan keteguhan dan tanggung jawab terhadap negara dan
               bangsanya dibangun sudah sejak dari lingkungan keluarganya.
               Penting diperhatikan bagaimana ayah Pudja yang tidak mengenyam
               pendidikan Belanda mengambil setiap kesempatan bagi putranya
               untuk  belajar  di tempat  yang  terbaik, mencapai apa yang  disebut
               Benedict Anderson  the  apex of educational colonial pyramid  atau
               “puncak piramida pendidikan kolonial,” padahal Bali termasuk
               wilayah yang  paling akhir membangun sekolah berorientasi Barat.
               Siapa gerangan yang memberinya pandangan ke depan tentang
               manfaat pendidikan Barat bagi putranya? Apakah ada pengaruh dari
               nenek Pudja yang berasal  dari Minangkabau, tanah yang pernah
               melahirkan begitu banyak kaum bumiputra terpelajar?
                      Pudja tidak pernah terlibat dalam kegiatan kultural maupun
               politik nasionalis kalangan inteligensia  meskipun ia bagian dari
               generasi pelajar yang sangat aktif dan kemudian menjadi pemimpin
               gerakan  nasionalis  yang terkemuka dan pendiri-pendiri bangsa,
               seperti Sutan Sjahrir. Ia  tidak pernah ikut membentuk organisasi
               nasionalis. Namun, begitu ia dipercayai ikut membangun republik,
   256   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266