Page 257 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 257
I Gusti Ketut Pudja 243
Maret 1946, saat Gubernur Pudja sedang mengadakan rapat dengan
Ketua KNI Manuaba dan kepala-kepala jawatan pemerintah di
kediaman resminya, pasukan KNIL mengepung rumah tersebut dan
menangkap Gubernur Pudja, Manuaba, dan seluruh kepala jawatan
pemerintah yang hadir. Alasan yang dikemukakan komandan
pasukan adalah kondisi keamanan di Sunda Kecil memburuk dan
pemerintahan Pudja tidak mampu mengatasi keadaan yang kacau-
balau. Mereka mengusir keluarga Gubernur, menduduki
kediamannya, dan menaikkan bendera Belanda. Setelah itu jam
malam dan larangan berkumpul diberlakukan, plakat-plakat yang
menyuarakan dukungan terhadap RI diturunkan, dan terjadi
penangkapan terhadap orang-orang pro-Republik. 107
Penguasa Belanda tampaknya menduga bahwa dengan
menangkap Gubernur Pudja dan Ketua KNI Manuaba beserta seluruh
stafnya perlawanan terhadap upaya pemulihan kekuasaan Belanda di
Bali akan menjadi lebih lancar. Pemerintahan Pudja dianggap sebagai
organ cangkokan dari Jawa yang tidak ada akarnya dalam budaya
politik Bali. Pihak Belanda berharap bahwa dengan memulihkan
kekuasaan raja-raja rakyat Bali akan serta-merta mendukung
pemerintah Kerajaan Belanda karena kesetiaan mereka terhadap
para raja. Dugaan itu salah besar. Rakyat Bali, terutama kalangan
pemudanya, yang sudah digembleng Jepang untuk mengembangkan
rasa cinta Tanah Air, lalu lewat Proklamasi Kemerdekaan merasakan
semangat pembebasan dan membangun keyakinan akan
kemampuannya mendirikan pemerintahan sendiri, betapapun
terbatasnya, tidak bersedia menyerah begitu saja.
Setelah kegagalan penyerbuan tangsi Jepang pada Desember
1945, I Gusti Ngurah Rai memimpin delegasi TKR ke Jawa untuk
melaporkan situasi di Bali dan meminta bantuan dari pemerintah
pusat. Lawatan selama tiga bulan itu (Januari–April 1946)
membuahkan hasil yang berarti; pemerintah bersedia memberikan
bantuan persenjataan, personel, dan keperluan lainnya untuk
memperjuangkan kemerdekaan RI. Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai
dilantik menjadi Komandan Resimen Tentara Republik Indonesia
(TRI) Resimen Sunda Kecil oleh staf Panglima Besar Sudirman di

