Page 323 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 323

Johannes Latuharhary        309



                   Selanjutnya, untuk melepas petani cengkih dari jerat tengkulak,
                   dibentuk Yayasan Cengkih Maluku (Oktober 1952). Modal
                   yayasan diperoleh dari pinjaman pada  Bank  Rakyat  Indonesia.
                   Atas izin Departemen Perdagangan, yayasan diberi wewenang
                   menetapkan harga pasaran dan hak monopoli penjualan ke luar
                   daerah. Selain itu, Gubernur Latuharhary membentuk Yayasan
                   Mutiara Maluku yang bertujuan  mengentaskan penyelam
                   mutiara dari kemiskinan.

               PENOLAKAN DAN BAYANGAN PERGANTIAN


               Sejak pembentukan Yayasan Cengkih pada 1952, hubungan antara
               Gubernur dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara
               (DPRDS)  Maluku Tengah  mengalami  ketegangan.  Masalahnya,
               pembentukan yayasan itu tidak melibatkan DPRDS setempat.
               Demikian  pula  dalam penetapan  harga  cengkih,  Gubernur
               Latuharhary dianggap “jalan” sendiri. Ketegangan bertambah dengan
               pernyataan anggota Dewan bahwa Gubernur memperlambat
               penyerahan hak-hak otonomi kepada daerah Maluku Tengah. Hingga
               akhirnya DPRDS memutuskan mengirim  delegasi ke Jakarta—yang
               dipimpin  Ketua Dewan itu sendiri—untuk mengurus langsung
               penyerahan hak otonomi tersebut.
                      Di Jakarta, seorang anggota delegasi DPRDS Maluku Tengah
               membuat pernyataan keras agar Gubernur Latuharhary diganti.
               Pernyataan itu mengguncang partai-partai politik di Ambon. Reaksi
               pro-kontra terhadap  pernyataan itu bermunculan. Dalam sidang
               DPRDS pada Februari berikutnya, tanpa  banyak  perdebatan, lewat
               voting, mayoritas anggota menginginkan Latuharhary segera diganti
               dari  jabatannya sebagai gubernur. “Dengan tidak mengurangi
               kecakapan dan  jasa-jasa Mr. Latuharhary sebagai gubernur, dalam
               waktu yang  terakhir ini timbul suara-suara yang ingin melihat
               seorang  yang lain sebagai kepala provinsi Maluku,”  tulis  Merdeka

               (Maret 1953) mengutip suara-suara  yang  beredar  dalam  sidang
               Dewan.
   318   319   320   321   322   323   324   325   326   327   328