Page 261 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 261

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                      Kemudian isi  pamflet tersebut  segera  diterjemahkan oleh  M.  Afiat
                 ke bahasa Indonesia yang isinya adalah bahwa bangsa Indonesia telah
                 merdeka, dan mengajak semua lapisan masyarakat dan golongan (pegawai,
                 polisi, buruh dan rakyat umumnya) untuk bersatu dan supaya menolak
                 kedatangan NICA. Pamflet disebarkan keseluruh masyarat Kaimantan

                 Selatan padatanggal 1 oktober 1945.Di Banjarmasin penyebaran dipelopori
                 oleh Hadhariyah M, F. Mohani, Hamli Tjarang, dan Abdurrahman Noor.



                 c. Kondisi Politik di Kalimantan
                      Ketika proklamasi kemerdekaan diucapkan tanggal 17 Agustus 1945,
                 wilayah Republik Indonesia yang disepakati oleh PPKI (Panitia Persiapan
                 Kemerdekaan Indonesia) meliputi bekas wilayah kolonial Hindia-Belanda
                 sebelum Perang Dunia II. Wilayah itu pada tanggal 19  Agustus 1945

                 ditetapkan secara administratif dibagi atas 8 (delapan) propinsi dengan
                 gubernurnya masing-masing. Salah satunya adalah Borneo atau Kalimantan
                 dengan Ir. Pangeran Mohammad Noor sebagai gubernurnya. Ir. Pangeran

                 Mohammad Noor adalah seorang pemimpin republiken yang berasal dari
                 kalangan aristokrat Banjar.
                      Setelah ditetapkan dan diangkat  sebagai Gubernur  Kalimantan,  Ir.
                 Pangeran Mohammad Noor berangkat ke Banjarmasin bersama staf dan
                 sejumlah  ±  120  orang  pemuda Kalimantan, akhir Oktober 1945  Gubernur

                 bekerjasama dengan Badan Pembantoe Oesaha Goebernoer Republik Indonesia
                 Daerah Borneo (BPOG) merencanakan berangkat dari Surabaya dengan
                 menggunakan kapal Merdeka. Rombongan ini juga mendapat bantuan dari

                 Radio Surabaya berupa dua pemancar radio dan anggota-anggota Palang Merah
                 seperti Tjilik Riwut, Abdurrachman dan A. Barmawi Thaib (ketiga-tiganya adalah
                 putra-putra  Kalimantan).  Akan tetapi  rombongan itu  gagal  berangkat.  Kapal
                 mereka tertembak Sekutu (NICA) karena dalam waktu yang hampir bersamaan
                 Surabaya terperangkap dalam pertempuran 10 November 1945.

                      Setelah beberapa pemuda mendengar berita tentang Proklamasi,

                260
   256   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266