Page 263 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 263

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                 atas saran Jepang, Banjarmasin segera mendirikan partai politik dengan
                 Pangeran Musa sebagai ketua. Tidak lama kemudian PRI membuka cabang
                 dibeberapa daerah,  seperti Amuntai, Martapura dan Kandangan.PRI juga

                 membentuk organisasi untuk kaum pemuda dan wanita.Anggota dalam
                 organisasi ini sebagian adalah orang-orang yang pernah menjadi anggota
                 organisasi Jepang, yaitu Seinendan, Boei Teisin Tai, dan Fu Jin Kai.
                      PRI ikut aktif  membentuk  KNI  Daerah sebagai tindak lanjut dari

                 pembentukan KNI Nasional.Dalam rapatyang diselenggarakan pada
                 tanggal 1 s/d 5 Oktober 1945, setelah memasuki masa kemerdekaan. Rapat
                 tanggal 1 s/d 5 Oktober 1945, dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh
                 agama dan para pemuda, PRI menghasilkan keputusan sebagai berikut:  (1)

                 Mengangkat ketua PB PRI Aongeran Kesuma Ardikesuma sebagai Residen
                 Kalimantan; dan (2) Membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah
                 Kalimantan di Banjarmasin, dengan S. Ruslam sebagai ketua.
                      Keputusan ini secara resmi diproklamirkan dalam suatu upacara yang

                 dihadiri oleh Mayor Van Assenderp (Pimpinan NICA), pemimpin tentara
                 Australia Kolonel Rabson, para kyai dan pejuang. Ini mengherankan karena
                 dari pihak NICA maupun Sekutu tidak melarang ataupun bereaksi terhadap
                 pembentukan KNI daerah maupun pengangkatan Residen Kalimantan versi

                 PRI. Sikap NICA membuat semangat pejuang semakin tinggi.
                      Pemuda yang tergabung dalam barisan PRI merencanakan peresmian
                 dan perayaan berdirinya Pemerintah Republik Indonesia daerah Kalimantan
                 Selatan dan KNI Daerah Kalimantan pada 10 Oktober 1945. Dalam acara

                 tersebut akan dilaksanakan penurunan bendera Belanda da menaikkan
                 bendera Merah Putih, serta pawai keliling dalam kota secara serentak di
                 daerah-daerah Kalimantan Selatan.
                      Namun, rencana ini digagalkan oleh tentara NICA dan  Australia.

                 Hal ini tidak mengherankan sebab sehari sebelum peristiwa itu, tanggal 9
                 Oktober, para pemuda pejuang telah berbicara dengan Kolonel Robson, dan
                 dia tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Sekutu akhirnya mengijinkan

                262
   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267   268