Page 260 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 260

BERITA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DI INDONESIA






                   mendirikan Partai Nasional Indonesia. Ketiga, mendirikan Badan Keamanan
                   Rakyat. Di kemudian hari Hassan Basry dalam bukunya Kisah Gerilya
                   Kalimantan (2003) mengeritik Hamidhan karena tidak satupun dari ketiga

                   tugas itu dilaksanakannya karena ia ”menghilang” kembali ke pulau Jawa.
                         Namun sebelum kepergiannya ke Rantau,  A.A Hamidhan diijinkan
                   untuk bertemu dengan tokoh pejuang Banjarmasin, yaitu Pangeran Musa
                   Andi Kesuma, Mr Roesbandi, dan Dokter Sosodoro Djatikesuma. Dan

                   Surat pengangkatan dari PPKI untuk Mr Soebandi sebagai Ketua Komite
                   Nasional Indonesia Daerah (KNID) dan Dokter Sosodono sebagai Ketua
                   Partai Nasional Indonesia (PNI) Daerah ke -17. Pada kesempatan itu pula,
                   Hamidhan  menyerahkan  surat  kabar  Asia  Raya  pimpinan  B.M.  Diah  dari

                   Jakarta yang memuat berita tentang proklamasi dan teks proklamasi 17
                   Agustus 1945.
                         Jepang baru mengizinkan koran Borneo Simboen edisi Banjarmasin
                   untuk memuat berita proklamasi pada tanggal 26 Agustus 1945. Justru berita

                   proklamasi disiarkan terlebih dahulu oleh surat kabar Borneo Simboen
                   terbitan Hulu Sungai di kota Kandangan, yang mendapatkan sumber berita
                   langsung dari radio Domei di Jakarta secara diam-diam. Berita proklamasi
                   juga disebarkan lewat Pasar Malam yang diselenggarakan di Kandangan

                   tanggal 20-20 Agustus 1945. Berita proklamasi diterima dari bocoran para
                   pegawai Indonesia yang bekerja di siaran Radio Banjarmasin,Hosokyoku,
                   khususnya kepada pelajar Tyugakko.
                         Di  daerah  Kandangan,  pejuang  tidak  mendapat  halangan  untuk

                   mengibarkan  bendera  Merah  Putih  dan  menyanyikan  lagu  kebangsaan
                   Indonesia Raya. Selain sumber radio, surat kabar, dan dari orang per orang,
                   informasi mengenai berita Proklamasi juga diperoleh dari tentara Australia
                   yang tergabung salam Sekutu. Tentara Australia yang bernama Charles Fostar

                   dan Victor Little yang mengaku dari Partao Komunis Australia. Keduanya
                   menyerahkan 5 lembar pamflet yang telah dikeluarkan oleh kaum politisi
                   Indonesia yang berada di Australia.

                                                                                       259
   255   256   257   258   259   260   261   262   263   264   265