Page 321 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 321

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                 Bali adalah karena kekuasaan de facto tidak ada di daerah-daerah tersebut.
                 Pada waktu ini, teori yang dianut di Belanda adalah tulang punggung
                 Republik Indonesia terdapat di Jawa. Jika Jawa hancur, berarti lenyaplah

                 Republik Indonesia. Sekarang, dapat dilihat Belanda sudah mengadakan
                 blokade pada pulau Jawa, dengan menduduki lapangan-lapangan terbang
                 di Denpasar, Banjarmasin, Muntok dan Palembang. Tujuannya apabila
                 sudah tiba saatnya mereka akan menggempur  secara  besar-besaran dan

                 dengan mudah dapat merebut Jawa dari segala penjuru.
                      Pertempuran yang terjadi pada tanggal 20 Nopember 1946 oleh
                 orang-orang Bali disebut Puputan Margarana.Dalam pertempuran tersebut,
                 Letkol Ngurah Rai menyusun kembali induk pasukan Resimen Sunda Kecil

                 yang berjumlah personil 70 orang dengan senjata api melimpah. Sebagai
                 kekuatan  resmi  dari  angkatan  bersenjata  untuk  memertahankan  wilayah
                 Republik Indonesia di Sunda Kecil, maka dibuat sebuah lencana Merah
                 Putih dihiasi huruf berbunyi Ciungwanara yang dilekatkan pada pakaian

                 seragam, sebagian hitam-hitam dan sebagian lagi hijau.
                      Pertempuran yang tidak seimbang itu, sangat didominasi oleh pihak
                 Belanda dengan aksinya yang lebih gencar memuntahkan peluru-peluru,
                 senapan mesin otomatis, granat, bom, mitralyur dari pesawat udara

                 sehingga  di  pihak  pasukan  Ciung  Wanara  sudah  mulai  ada yang tewas
                 kena tembakan musuh. Melihat ini, Letkol Rai sangat berang dan dengan
                 perintahnya kepada anggota pasukan agar mereka menuntut balas sampai
                 titik darah penghabisan. Mendengar perintah dari pimpinan, maka seluruh

                 anggota induk  pasukan  Ciung Wanara maju sambil  berteriak  Puputan!
                 Puputan! Puputan!.
                      Dari pihak tentara Belanda tidak seorangpun berani maju, sebaliknya
                 anak-anak pasukan Ciung Wanara maju dan mengamuk. Tentara Belanda

                 tidak berani menghadapi mereka satu demi satu, kecuali memuntahkan
                 peluru dari semua jurusan di darat dan dari udara. Akibat semburan banjir
                 peluru ini, satu per satu anak-anak pasukan Ciung Wanara roboh ke tanah

                320
   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326