Page 255 - Perdana Menteri RI Final
P. 255

mengakibatkan berkurangnya otoritas tentara   mengejutkan para politisi Masyumi, termasuk   Baru tidak tertarik untuk menghidupkan kembali   Masyumi, HAMKA. Hubungan HAMKA
 territorial yang terikat di wilayahnya bagaikan   Natsir, yang  mengharapkan  bahwa  kolonel   salah satu partai terbesar pada periode Demokrasi   yang baik dengan pemimpin TNI, termasuk

 raja-raja kecil. Ahmad Hussein dari Sumatera   Hussein mampu untuk menolak tentara yang   Liberal itu. Sebaliknya, ide utama Orde   Jenderal Ahmad Nasution, menyelamatkannya
 Tengah dan Maludin Simbolon dari Sumatera   dikirim oleh AH Nasution. Tapi Padang jatuh   Baru adalah proses pengontrolan partai lewat   dari penjara pada periode itu. Pasca kejatuhan
 Utara memproklamirkan dewan pemerintahan   ditangan  tentara  Jawa  dari  Divisi  Diponegoro   pembatasan jumlah partai dan penggabungan   Sukaro pada Desember 1965, sebuah Komite
 yang terpisah dari Jakarta di wilayah mereka.   dan  Brawijaya  dalam waktu  sehari  tanpa ada   partai-partai relijius konservatif kedalam satu   Koordinasi untuk Kegiatan Islam didirikan untuk
 Pada awalnya politisi Jakarta yang memiliki   resistensi militer. Selama beberapa minggu,   partai bernama PPP. Jikapun Masyumi dapat   mendorong pendirian kembali partai Masyumi.
 hubungan darah dengan daerah pemberontak   Natsir dan politisi Masyumi bersembunyi di kota   dihidupkan kembali, Natsir sadar bahwa rejim   Mulai Mei 1966, pemimpin Masyumi, termasuk
 berusaha menengahi crisis tersebut, khususnya   Bukittinggi. Keluarga Natsir, termasuk lima   baru Suharto tidak akan membiarkannya menjadi   Natsir yang sudah keluar dari penjara pada
 politisi dari Masyumi dan PSI yang memang   anaknya bergabung dengannya di kota itu. Natsir   pemimpin partai baru tersebut. Keterbatasan   waktu itu, mengadakan pertemuan di Menteng
 77
 banyak berasal dari Sumatera dan Sulawesi.    dan pemimpin lainnya terpaksa mengungsi dari   politik dibawah Orde Baru tidak menyuruti   Raya no. 58 untuk mendorong pembentukkan
               semangatnya untuk menghidupkan kembali
 Bukittinggi dan menjalani kehidupan gerilya                   Masyumi. Pada tahun 1967, Suharto menyatakan
 Pada September Sumitro Djojohadikusumo   gerakan Islam modernis. Kalangan Islam
 didalam hutan Sumatera Barat. Pengalaman ini                  bahwa tentara dan rakyat korban PRRI tidak
 bertemu dengan para kolonel pemberontak   modernis ini yang melihat Mohammad Natsir
 memperkuat kepercayaan mereka bahwa jalan                     ingin menyaksikan kebangkitan kembali partai
 dan memproklamirkan Piagam Palembang,   80  sebagai pemimpin politik dan spiritual menyebut   Masyumi. Pada tahun 1973, ‘rasionalisasi’ partai
 yang mereka tempuh ini direstui oleh Tuhan.
 yang meminta untuk pengembalian duumvirat   diri mereka sebagai Keluarga Bulan Bintang.   memaksa semua partai-partai Islam untuk

 Sukarno-Hatta, perobahan pemimpin TNI   Masyarakat  melihat  kepergian  Natsir,  Mereka bukan golongan fundamentalis yang   bergabung Partai Persatuan Pembangunan
 dan pelarangan Komunis yang berhaluan   Burhanuddin dan Syafruddin bergabung dengan   meminta pendirikaan Negara Islam, melainkan   (PPP).  Pemimpin-pemimpin  Masyumi  periode
 internasional. Kolonel Hussein, Barlian dan   PRRI  berarti  pemberontakan tersebut salah   berusaha menafsirkan cara untuk membangun   demokrasi terpimpin tidak pernah bisa diterima
 Sumual  datang  ke Jakarta  untuk menghadiri   partai Masyumi. Padahal kepergian Natsir dan   masyarakat Islam dan pengaruh partai Islam   oleh Suharto. Salah satu alasannya adalah
 Musyawarah Nasional yang diselenggarakan   yang lain atas dasar pribadi dan bukan atas   dalam masyarakat.   ketidak-sukaan Suharto dengan pemimpin masa
 81
 untuk menyelesaikan krisis anti-Jakarta yang   nama partai.  Masyumi beserta PSI menjadi   demokrasi parlementer karena Presiden baru
 punya potensi memecah belah bangsa. Kegagalan   organisasi terlarang  pada  tahun  1961. Amnesti   DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH – NATSIR   Indonesia itu melihat demokrasi liberal gaya Barat
               SEBAGAI BAPAK ISLAM KONSERVATIF
 Munas mendorong Syafruddin Prawiranegara   diberikan kepada pemberontak militer, tetapi   itulah sebagai penyebab permasalahan bangsa.
                                                                                                        83
               INDONESIA
 dan Burhanuddin Harahap untuk meninggalkan   semua pemipin politik Masyumi dijebloskan ke
 Jakarta pada Desember 1957. Mohammad   penjara. Natsir dijatuhi ditahan rumah semenjak   Pemimpin-pemimpin Masyumi yang belum   Disisi lain terdapat perbedaan signifikan antara
 78
 Natsir menyusul pada awal Januari di Padang.    tahun 1960 di Malang, dan setelah itu ditransfer   ditangkap pada masa setelah ‘hijrah’, secara   pemikir Muslim generasi Natsir dengan generasi
 Kepergian pemimpin Masyumi ke Padang untuk   ke penjara militer di Jalan Keagungan di   reguler tetap bertemu untuk mempertahankan   baru yang bercokol dalam Himpunan Mahasiswa
 79
 mendirikan PRRI ini disebut dengan hijrah,    Jakarta. Ia ikut bergabung dalam penjara beserta   keberlanjutan  organisasi  jikapun  secara  Islam (HMI) dan dalam grup diskusi ‘Kelompok
 mencontoh hijrah Muhammad dari Mekah ke   Syafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin   informal. Mohammad Roem dan Prawoto   Terbatas’ yang didalamnya termasuk Ahmad
 82
 Madinah. Dalam pandangan Natsir, apa yang   Harahap yang telah  ada  disana  sejak  1961.    Mangkusasmito meneruskan pimpinan Natsir   Wahib, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo
 diperbuat oleh mereka ini direstui oleh Allah.   Baru setelah jatuhnya Sukarno pada tahun 1966,   sebelum merekapun ditangkap oleh pemerintah   dan  Nurcholis  Madjid, seseorang  yang  sering
 Gaya bicara yang dipakai oleh Natsir pada masa   Natsir diperbolehkan untuk balik ke rumahnya.  pada tahun 1962. Keberadaan Masyumi bahkan   disebut  sebagai ‘Natsir  kecil’  dan dilihat  oleh
               dilanjutkan oleh diaspora Minang yang tinggal   Natsir sebagai calon pemimpin Masyumi dimasa
 ini memperkuat kepercayaan mereka bahwa apa
 Usaha-usaha Natsir dan politisi Masyumi lain   di Jakarta ketika mereka mulai berkumpul   mendatang. Tetapi sudut pandang generasi baru
 yang mereka lakukan ada dijalan agama.
 untuk membangkitkan kembali Masyumi yang   secara reguler di masjid Al Azhar di Kebayoran   ini berbeda dengan Natsir. Nurcholis menolak
 Pemberontakan ini tidak berlangsung lama dan   telah menjadi organisasi terlarang oleh Sukarno   Baru. Dibalik Al Azhar adalah imam besar   politik. Ia mengatakan “Islam Yes, Islam Politik,
 dengan mudah digagalkan oleh TNI. Hal ini   pada tahun 1960 ini menemui kegagalan. Orde   dan sosok utama yang melanjutkan perjuangan   No!” Natsir merasa dikhianati oleh generasi muda





 242  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  243
   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259   260