Page 252 - Perdana Menteri RI Final
P. 252

(atau kadang disebut sebagai champagne socialists);   merupakan sebuah percobaan baru penerapan                        bahwa Masyumi tidak sama dengan Darul          masyarakat. Pandangan konservatif ini sangat
                           yaitu kaum elit berpendidikan tinggi yang punya   ide-ide Islam dalam membangun negara                                 Islam, sebuah tuduhan yang sering dilontarkan   bertentangan  dengan ide-ide progresif yang

                           pandangan bahwa negara punya peran penting     modern. Disini Natsir berceramah dengan judul                           oleh PKI untuk menerabas legitimasi dari partai   melihat bahwa manusia itu dapat diubah sesuai
                           dalam mewujudkan pembangunan sosialis.         “Some observations concerning the role of Islam                         dimata masyarakat.                             dengan  zaman  dan  bahwa  tidak  ada  fitrah
                                                                          in national and international affairs.” Ia bertemu                                                                     ataupun nilai universal karena ajaran demikian
                           Salah satu perbuatan awal Natsir setelah                                                                               Perjuangan terbesarnya pada periode 1950an ada
                                                                          dengan pemimpin-pemimpin Muslim League dan                                                                             seringkali merupakan cara kelas penguasa
                           karirnya sebagai Perdana Menteri berakhir                                                                              di Dewan Konstituante yang bertujuan untuk
                                                                          mengunjungi Pusat Kebudayaan Islam di Lahore.                                                                          untuk mengelabuhi kelas yang dikuasai untuk
                           adalah memperluas pergaulan internasional                                                                              merancang Undang Undang Dasar Republik                                     74
                                                                          Setelah dari Pakistan, Natsir lalu melanjutkan                                                                         mendukung penjajahan mereka.
                           dalam dunia Islam. Seperti Sukarno, Natsir                                                                             menggantikan UUDS RIS yang masih berlaku
                                                                          perjalanan ke Arab Saudi, Mesir, Turki, Irak,
                           tidak melanjutkan pendidikan ke negeri                                                                                 sepanjang tahun 1950an. Akhirnya, UUD RI       Tampak cukup jelas bahwa ide-ide utama
                                                                          Iran, Libanon, India dan Birma. Perjalanannya
                           Belanda dan sehingga pandangannya terhadap                                                                             balik kepada UUD 45 setelah Dekrit Presiden    konservatisme Natsir ini sama dan melanjutkan
                                                                          mengelilingi dunia Muslim dan bertemu dengan
                           luar negeri tidak dibuai oleh tarikan demokrasi                                                                        1959,  tetapi  dalam  sidang  itu,  Natsir  berjuang   ide-ide yang telah dicurahkannya dalam berbagai
                                                                          Raja Arab Saudi dan Mesir serta pemimpin
                                                                                                                                                                                                 publikasi pada tahun-tahun 1930an. Rasa curiga
                           parlementer Eropa Barat, seperti yang nampak                                                                           untuk menghapus sekulerisme dalam tata negara
                                                                          dari Ikhwanul Muslimin, ulama-ulama Syiah
                                                                                                                                                                                                 terhadap pergerakan progresif yang berbasis
                           terjadi pada pandangan pemimpin bangsa                                                                                 Indonesia. Menurutnya  faham sekulerisme
                                                                          dan pemimpin agama Maronite membuka
                                                                                                                                                                                                 pada sudut pandang anti-fitrah, perayaannya
                           lain seperti Mohammad Hatta ataupun Sutan      kesempatan Natsir untuk berpartisipasi dalam                            itu menyebabkan penyebaran faham atheisme
                                                                                                                                                                                                 terhadap ulama sebagai pemimpin ummat serta
                           Sjahrir. Tetapi dari awal, pandangan Natsir ini   dunia Islam global yang modern ini tetapi juga                       dikalangan rakyat Indonesia. Tampak disini
                                                                                                                                                                                                 rasa curiga yang tinggi terhadap dunia Barat dan
                           sangat dipengaruhi oleh ide-ide  transnasional   sekaligus  mendorongnya  untuk  meneruskan                            bahwa musuh utama Natsir adalah kaum
                                                                                                                                                                                                 agama Kristen. Pada tahun 1920an dan 1930an,
                           yang berakar dari hasrat umat-umat Islam di    cita-cita  politiknya  di  Indonesia.  Pada                             Komunis dan faham-faham yang ia asosiasikan
                                                                                                                                                                                                 Natsir menulis mengenai bahaya Kristenisasi
                           Timur Tengah untuk menjadi orang modern        tahun 1956, Natsir diundang ke Muktamar                                 dengan PKI itu. Sebagai contoh, ia mendukung
                                                                                                                                                                                                 lewat pendidikan, dan oleh karenanya, usaha
                           tetapi dengan caranya sendiri. Memang beliau   Alam Islami yang mengadakan kongres di                                  konsep hak milik dan menempatkannya sebagai
                                                                                                                                                                                                 terbesarnya pada periode 1930an adalah
                           belajar pengetahuan klasik dan liberal Barat dan   Damaskus, Suriah, dimana permasalahan                               bagian dari hak asasi manusia atau  humanity
                                                                                                                                                                                                 mengembangkan pendidikan alternatif yang
                           sehingga sangat faham mengenai filsafat yang   Palestina dibahas. Perjalanan internasional dan                         yang berbasis agama, karena sesuai dengan fitrah
                                                                                                                                                                                                                         75
                                                                                                                                                                                                 berbasis pada agama Islam.  Pada tahun 1970an
                           mendasari peradaban Barat, tetapi pelajaran ini   penguatan hubungan dengan beragam orang                              agama.
                                                                                                                                                                                                 dan 1980an, kecurigaannya terhadap Kristenisasi
                           lebih dipakainya sebagai alat untuk mengkritik   dan lembaga yang memiliki kesamaan ideologis
                                                                                                                                                  Demokrasi yang ingin diwujudkan disini adalah   bergeser dari pendidikan menuju pada usaha-
                           Barat itu sendiri. Dari sejak perkenalannya    untuk  mewujudkan masyarakat  Islam  modern
                                                                                                                                                  demokrasi Islam, bukan demokrasi Barat.        usaha pembangunan masyarakat (community
                           dengan pemahaman filusuf modernis Muslim       ini menunjukkan pergeseran ideologis Natsir
                                                                                                                                                  Menurut Natsir, Islam menyediakan dasar-       development) yang dilakukan oleh gereja dan
                                                                                                                    73
                           yang diperkenalkan oleh Ahmad Hassan sejak     kembali ke zaman sebelum kedatangan Jepang.
                                                                                                                                                                                                                                       76
                                                                                                                                                  dasar pokok yang berbasis pada fitrah manusia   LSM-LSM yang berkaitan dengan gereja.
                           masa  AMS-nya  di Bandung,  maka Natsir
                                                                          Anggaran Dasar Masyumi yang diubah pada                                 yang  abadi  dan  tidak  berubah.  Basis  fitrah  ini
                           memiliki rasa curiga terhadap pendidikan
                                                                          tahun 1952 menekankan bahwa garis tujuan dan                            mengasumsikan nilai universalitas dari Islam   ‘HIJRAH’ PRRI DAN AKHIR DARI
                           ataupun lembaga-lembaga Barat. Tujuan utama                                                                                                                           MASYUMI
                                                                          perjuangan partai adalah untuk “melaksanakan                            dan sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan;
                           hayatnya adalah mewujudkan sebuah masyarakat
                                                                          ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang-                           dalam demokrasi Islam, nilai-nilai dasar       Pemberontakan PRRI didorong oleh keputusan
                           Indonesia modern yang berbasis pada modernitas
                                                                          seorang, masyarakat dan negara.” Dalam sebuah                           Islam  itu otomatis  diterapkan tanpa perlu  lagi   Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri
                           Islam.
                                                                          pidato Natsir di Muktamar Masyumi tahun                                 diperdebatkan.  Kesakralitasan  nilai-nilai Islam   dari tampuk Wakil Presiden. Dikalangan
                           Pada tahun 1952, Natsir melakukan perjalanan   1956,  ia  menekankan  anggaran  dasar  partai                          yang dianggapnya universal ini tentunya tampak   tentara teritorial di daerah Sumatera, Sulawesi
                           ke Pakistan bersama A.R. Baswedan dan          dalam “menegakkan Republik Indonesia dan                                sangat bertentangan dengan ide demokrasi       dan Kalimantan, ada rasa tidak puas terhadap
                           Anwar Haryono untuk mengunjungi  Pakistan      agama Islam.” Pada saat yang bersamaan, Natsir                          modern  yang  mana  nilai  itu  kontekstual  dan   Jakarta, khususnya usaha Kepala Staf TNI
                           Institute of World Affairs. Pakistan pada waktu itu   juga berusaha untuk meyakinkan masyarakat                        dapat  berubah  seiring  dengan  perubahan     AH Nasution, untuk reorganisasi tentara yang





                           240   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  241
   247   248   249   250   251   252   253   254   255   256   257