Page 253 - Perdana Menteri RI Final
P. 253

(atau kadang disebut sebagai champagne socialists);   merupakan sebuah percobaan baru penerapan   bahwa Masyumi tidak sama dengan Darul   masyarakat. Pandangan konservatif ini sangat
 yaitu kaum elit berpendidikan tinggi yang punya   ide-ide Islam dalam membangun negara   Islam, sebuah tuduhan yang sering dilontarkan   bertentangan  dengan ide-ide progresif yang

 pandangan bahwa negara punya peran penting   modern. Disini Natsir berceramah dengan judul   oleh PKI untuk menerabas legitimasi dari partai   melihat bahwa manusia itu dapat diubah sesuai
 dalam mewujudkan pembangunan sosialis.   “Some observations concerning the role of Islam   dimata masyarakat.   dengan  zaman  dan  bahwa  tidak  ada  fitrah
 in national and international affairs.” Ia bertemu            ataupun nilai universal karena ajaran demikian
 Salah satu perbuatan awal Natsir setelah   Perjuangan terbesarnya pada periode 1950an ada
 dengan pemimpin-pemimpin Muslim League dan                    seringkali merupakan cara kelas penguasa
 karirnya sebagai Perdana Menteri berakhir   di Dewan Konstituante yang bertujuan untuk
 mengunjungi Pusat Kebudayaan Islam di Lahore.                 untuk mengelabuhi kelas yang dikuasai untuk
 adalah memperluas pergaulan internasional   merancang Undang Undang Dasar Republik        74
 Setelah dari Pakistan, Natsir lalu melanjutkan                mendukung penjajahan mereka.
 dalam dunia Islam. Seperti Sukarno, Natsir   menggantikan UUDS RIS yang masih berlaku
 perjalanan ke Arab Saudi, Mesir, Turki, Irak,
 tidak melanjutkan pendidikan ke negeri   sepanjang tahun 1950an. Akhirnya, UUD RI   Tampak cukup jelas bahwa ide-ide utama
 Iran, Libanon, India dan Birma. Perjalanannya
 Belanda dan sehingga pandangannya terhadap   balik kepada UUD 45 setelah Dekrit Presiden   konservatisme Natsir ini sama dan melanjutkan
 mengelilingi dunia Muslim dan bertemu dengan
 luar negeri tidak dibuai oleh tarikan demokrasi   1959,  tetapi  dalam  sidang  itu,  Natsir  berjuang   ide-ide yang telah dicurahkannya dalam berbagai
 Raja Arab Saudi dan Mesir serta pemimpin
                                                               publikasi pada tahun-tahun 1930an. Rasa curiga
 parlementer Eropa Barat, seperti yang nampak   untuk menghapus sekulerisme dalam tata negara
 dari Ikhwanul Muslimin, ulama-ulama Syiah
                                                               terhadap pergerakan progresif yang berbasis
 terjadi pada pandangan pemimpin bangsa   Indonesia. Menurutnya  faham sekulerisme
 dan pemimpin agama Maronite membuka
                                                               pada sudut pandang anti-fitrah, perayaannya
 lain seperti Mohammad Hatta ataupun Sutan   kesempatan Natsir untuk berpartisipasi dalam   itu menyebabkan penyebaran faham atheisme
                                                               terhadap ulama sebagai pemimpin ummat serta
 Sjahrir. Tetapi dari awal, pandangan Natsir ini   dunia Islam global yang modern ini tetapi juga   dikalangan rakyat Indonesia. Tampak disini
                                                               rasa curiga yang tinggi terhadap dunia Barat dan
 sangat dipengaruhi oleh ide-ide  transnasional   sekaligus  mendorongnya  untuk  meneruskan   bahwa musuh utama Natsir adalah kaum
                                                               agama Kristen. Pada tahun 1920an dan 1930an,
 yang berakar dari hasrat umat-umat Islam di   cita-cita  politiknya  di  Indonesia.  Pada  Komunis dan faham-faham yang ia asosiasikan
                                                               Natsir menulis mengenai bahaya Kristenisasi
 Timur Tengah untuk menjadi orang modern   tahun 1956, Natsir diundang ke Muktamar   dengan PKI itu. Sebagai contoh, ia mendukung
                                                               lewat pendidikan, dan oleh karenanya, usaha
 tetapi dengan caranya sendiri. Memang beliau   Alam Islami yang mengadakan kongres di   konsep hak milik dan menempatkannya sebagai
                                                               terbesarnya pada periode 1930an adalah
 belajar pengetahuan klasik dan liberal Barat dan   Damaskus, Suriah, dimana permasalahan   bagian dari hak asasi manusia atau  humanity
                                                               mengembangkan pendidikan alternatif yang
 sehingga sangat faham mengenai filsafat yang   Palestina dibahas. Perjalanan internasional dan   yang berbasis agama, karena sesuai dengan fitrah
                                                                                       75
                                                               berbasis pada agama Islam.  Pada tahun 1970an
 mendasari peradaban Barat, tetapi pelajaran ini   penguatan hubungan dengan beragam orang   agama.
                                                               dan 1980an, kecurigaannya terhadap Kristenisasi
 lebih dipakainya sebagai alat untuk mengkritik   dan lembaga yang memiliki kesamaan ideologis
               Demokrasi yang ingin diwujudkan disini adalah   bergeser dari pendidikan menuju pada usaha-
 Barat itu sendiri. Dari sejak perkenalannya   untuk  mewujudkan masyarakat  Islam  modern
               demokrasi Islam, bukan demokrasi Barat.         usaha pembangunan masyarakat (community
 dengan pemahaman filusuf modernis Muslim   ini menunjukkan pergeseran ideologis Natsir
               Menurut Natsir, Islam menyediakan dasar-        development) yang dilakukan oleh gereja dan
 73
 yang diperkenalkan oleh Ahmad Hassan sejak   kembali ke zaman sebelum kedatangan Jepang.
                                                                                                    76
               dasar pokok yang berbasis pada fitrah manusia   LSM-LSM yang berkaitan dengan gereja.
 masa  AMS-nya  di Bandung,  maka Natsir
 Anggaran Dasar Masyumi yang diubah pada   yang  abadi  dan  tidak  berubah.  Basis  fitrah  ini
 memiliki rasa curiga terhadap pendidikan
 tahun 1952 menekankan bahwa garis tujuan dan   mengasumsikan nilai universalitas dari Islam   ‘HIJRAH’ PRRI DAN AKHIR DARI
 ataupun lembaga-lembaga Barat. Tujuan utama                   MASYUMI
 perjuangan partai adalah untuk “melaksanakan   dan sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan;
 hayatnya adalah mewujudkan sebuah masyarakat
 ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang-  dalam demokrasi Islam, nilai-nilai dasar   Pemberontakan PRRI didorong oleh keputusan
 Indonesia modern yang berbasis pada modernitas
 seorang, masyarakat dan negara.” Dalam sebuah   Islam  itu otomatis  diterapkan tanpa perlu  lagi   Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri
 Islam.
 pidato Natsir di Muktamar Masyumi tahun   diperdebatkan.  Kesakralitasan  nilai-nilai Islam   dari tampuk Wakil Presiden. Dikalangan
 Pada tahun 1952, Natsir melakukan perjalanan   1956,  ia  menekankan  anggaran  dasar  partai   yang dianggapnya universal ini tentunya tampak   tentara teritorial di daerah Sumatera, Sulawesi
 ke Pakistan bersama A.R. Baswedan dan   dalam “menegakkan Republik Indonesia dan   sangat bertentangan dengan ide demokrasi   dan Kalimantan, ada rasa tidak puas terhadap
 Anwar Haryono untuk mengunjungi  Pakistan   agama Islam.” Pada saat yang bersamaan, Natsir   modern  yang  mana  nilai  itu  kontekstual  dan   Jakarta, khususnya usaha Kepala Staf TNI
 Institute of World Affairs. Pakistan pada waktu itu   juga berusaha untuk meyakinkan masyarakat   dapat  berubah  seiring  dengan  perubahan   AH Nasution, untuk reorganisasi tentara yang





 240  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  241
   248   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258