Page 342 - Perdana Menteri RI Final
P. 342

2
                           masuk,  Ali memilih  keluar dari sekolah itu   dibandingkan siswa pribumi. Hanya saja, Ali                             anggota volksraad.  Meskipun HBS berbiaya      dari Sarikat Islam yang namanya sudah cukup
                           karena sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan   mampu meraih prestasi yang bagus, selalu naik                          mahal yang tidak mungkin lagi dijangkau        masyhur di kalangan pergerakan. Meskipun saat

                           teman-temannya yang kerap berlaku kejam.       kelas setiap tahunnya, bahkan dengan nilai-nilai                        oleh ayahnya, lulusan HBS memiliki peluang     itu Ali masih belum begitu tertarik politik,—
                           Meskipun sempat menolak untuk bersekolah       yang tinggi. Pencapaian ini membuat Ali belajar                         untuk melanjutkan studinya ke Belanda. Untuk   karena studi di HBS telah menyita banyak
                           lagi, ayah Ali tetap berusaha agar putranya dapat   untuk mengatasi inferiority complex (rasa rendah                   menempuh pendidikan di HBS, Ali pindah         waktunya, dan barangkali juga kerena takut
                           memperoleh pendidikan yang lebih baik.         diri) dan diskriminasi masyarakat kolonial yang                         ke Batavia dan tinggal di kediaman salah satu   kehilangan beasiswa yang ia terima sejak tahun
                                                                          menganggap bangsa Indonesia lebih rendah                                kakaknya, dokter Seno Sastroamidjojo, yang     kedua—sosok Alimin mengesankan dan cukup
                           Ali kemudian didaftarkan ke sekolah angka
                                                                          ketimbang bangsa Eropa. Pengalamannya                                   bekerja sebagai asisten pengajar di STOVIA.    mempengaruhi pandangan politiknya kala muda.
                           satu (eerste klasse school)  yang  sebenarnya
                                                                          bergaul  dengan anak-anak  Belanda  di  sekolah                                                                        Banyak gagasan Alimin merupakan pemikiran-
                           merupakan sekolah elit untuk anak-anak                                                                                 Ali Sastroamidjojo lahir dan dibesarkan pada
                                                                          elit telah menyadarkan Ali bahwa kemampuan                                                                             pemikiran melampaui zamannya dan baru bagi
                           Belanda. Tentu saja Ali ditolak, secara halus                                                                          zaman bergerak, ketika berbagai kelompok
                                                                          anak-anak Belanda itu juga tidak bagus-bagus                                                                           Ali yang menjadi juga anggota Jong Java, sebuah
                           karena penguasaan bahasa Belandanya tidak                                                                              nasionalis Indonesia muncul. Dalam atmosfer
                                                                          amat, dan dengan ketekunan serta kerja keras,                                                                          perkumpulan yang termasuk salah satu paling
                           terlalu bagus, namun juga oleh karena latar                                                                            metropolitan Batavia, Ali bergaul dengan
                                                                          anak-anak pribumi dapat mengungguli mereka.                                                                            awal namun lebih bercorak konservatif dengan
                           belakang sosialnya sebagai anak pribumi, yang                                                                          berbagai macam orang dari latar belakang sosial
                                                                          Namun hal penting lain yang dirasakannya,                                                                              orientasi pada semangat kejawaanya. Ali untuk
                           hanya putra seorang pensiunan. Tidak kehabisan   Ali  juga  meyakini  bahwa    kolonialisme                            dan etnis. Adapun di HBS Ali mengalami         pertama kali mendengar gagasan persatuan
                           akal, ayah Ali kemudian menghadap kepada       menghambat kemajuan bangsa Indonesia dengan                             persentuhan  awal  dengan  aktivitas  politik.   dari Alimin yang meyakini bahwa penjajahan

                           asisten residen dan mengatakan bahwa anak      menempatkan mereka sebagai kawula nomer                                 Ketika Ali mulai tinggal di Batavia, berbagai   harus dilawan dengan dengan persatuan bangsa
                           yang akan didaftarkannya ke sekolah angka satu   dua. Sebagai contoh, pembagian sekolah yang                           organisasi kedaerahan muncul seperti Jong      Indonesia di bawah payung Islam. Kerap
                           masih merupakan cucu dari bupati Magelang.     bersifat diskriminatif, dimana untuk anak-anak                          Java, Jong Sumatera, Jong Pasundan. Karena     mendengar gagasan-gasagan progresif semacam
                           Dengan berbekal rekomendasi dari pejabat       pribumi disediakan HIS (Holands Inlandsche                              belum memiliki ikatan kebangsaan, kerap kali   itu, wajar jika kemudian Ali menjadi kecewa,
                           Belanda  tadi,  ayah  Ali  dapat  membuat  kepala   School) yang hanya mengajarkan bahasa Belanda                      timbul permusuhan antar organisasi pergerakan   ketika ia hadir dalam sidang Volksraad sebagai
                           sekolah  kesulitan  untuk  menolak  putranya.   tingkat dasar, dan yang untuk dapat masuk                              tersebut. Hanya saja di HBS, antagonisme antar   penonton di tribun, melihat para wakil bangsa
                           Setelah melalui test yang tidak terlampau susah,   membutuhkan banyak persyaratan.                                     perhimpunan dengan latar kedaerahan tidak      Indonesia hanya menyampaikan usul yang datar-
                           akhirnya Ali diizinkan bersekolah dengan syarat                                                                        terjadi karena  jumlah  siswa bumiputra yang   datar saja, itupun dalam bahasa Belanda yang di
                                                                          Setelah lulus dari Eerste Europesche Lagere School
                           bahwa ia akan melanjutkan studinya ke sekolah                                                                          masih  sedikit  dan  mereka  semua  bersepakat   mata Ali lebih menampakan ketundukan pada
                                                                          pada 1918, peluang Ali untuk melanjutkan sekolah
                           kedoktoran. Syarat ini merupakan jalan tengah                                                                          untuk membentuk  Inlandsche  HBS  Vereniging,   budaya penjajah.
                                                                          semakin terbuka lebar. Oleh karena prestasinya
                           dari kepala sekolah  untuk menjaga gengsi                                                                              atau perhimpunan (pelajar) HBS bumiputra.
                                                                          yang baik selama menempuh pendidikan dasar,                                                                            Meskipun Ali adalah produk pendidikan
                           sekolahnya dengan memastikan bahwa anak                                                                                Organisasi ini beranggotakan siswa dari bangsa
                                                                          ditunjang pula  dengan  dukungan  keluarganya,                                                                         Belanda, dan sebagaimana ia rasakan sendiri
                           didiknya yang seorang Jawa putra pensiunan itu                                                                         Indonesia, dan bersifat lintas etnis. Adapun,
                                                                          terutama saudara-saudaranya yang saat itu                                                                              bahwa kemampuannya berbahasa Belanda turut
                           kelak akan menjadi elit bumiputra.                                                                                     sentimen terhadap inlander yang selalu dipandang
                                                                          telah menamatkan pedidikan dan memperoleh                                                                              andil besar dalam kesuksesannya, Ali merasa
                                                                                                                                                  inferior yang merebak di sekolah elit semacam
                           Bagaimanapun, posisi Ali  di sekolah itu tidak   pekerjaan yang mapan—seperti dokter bahkan                                                                           bahwa bahasa adalah alat dominasi penjajah.
                                                                                                                                                  HBS menjadi faktor penting yang menyemaikan
                           menguntungkan. Ia dianggap inlander dan oleh   anggota  volksraad—Ali  dihadapkan  pada  tiga                                                                         Pandangan ini  terus menerus dipegang teguh
                                                                                                                                                  perasaan satu nasib para siswa yang beragam itu.
                           karenanya  inferior.  Di  sisi  lain,  keberadaan   pilihan menarik. Ali dapat memilih studi lanjut                                                                   oleh Ali. Oleh karena itulah ia mulai melakukan
                           Ali di  sekolah elit tersebut juga  meningkatkan   sekolah  teknik,  sekolah  ambtenaar  (Pamong                       Pengetahuan Ali menjadi jauh lebih baik ketika   dekolonisasi kecil-kecilan dalam keluarganya.
                           persaingan bagi kawan-kawan Belandanya.        Praja), atau HBS. Pilihan Ali jatuh ke HBS                              kost di rumah Kartosemito, seorang dokter Jawa.   Bahkan, kelak ketika ia telah berkeluarga dan
                           Mereka    dituntut   untuk    membuktikan      atas  dorongan  kakaknya, Sastrowidjono, yang                           Di rumah itu Ali kerap berjumpa dengan Alimin,   memiliki anak, Ali memilih untuk mendididik
                           bahwa anak-anak kulit putih lebih unggul       merupakan aktifis Budi Utomo sekaligus                                  kerabat ibu kost yang juga seorang tokoh muda   anaknya dengan bahasa Jawa. Sehingga,





                           330   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  331
   337   338   339   340   341   342   343   344   345   346   347