Page 343 - Perdana Menteri RI Final
P. 343

2
 masuk,  Ali memilih  keluar dari sekolah itu   dibandingkan siswa pribumi. Hanya saja, Ali   anggota volksraad.  Meskipun HBS berbiaya   dari Sarikat Islam yang namanya sudah cukup
 karena sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan   mampu meraih prestasi yang bagus, selalu naik   mahal yang tidak mungkin lagi dijangkau   masyhur di kalangan pergerakan. Meskipun saat

 teman-temannya yang kerap berlaku kejam.   kelas setiap tahunnya, bahkan dengan nilai-nilai   oleh ayahnya, lulusan HBS memiliki peluang   itu Ali masih belum begitu tertarik politik,—
 Meskipun sempat menolak untuk bersekolah   yang tinggi. Pencapaian ini membuat Ali belajar   untuk melanjutkan studinya ke Belanda. Untuk   karena studi di HBS telah menyita banyak
 lagi, ayah Ali tetap berusaha agar putranya dapat   untuk mengatasi inferiority complex (rasa rendah   menempuh pendidikan di HBS, Ali pindah   waktunya, dan barangkali juga kerena takut
 memperoleh pendidikan yang lebih baik.  diri) dan diskriminasi masyarakat kolonial yang   ke Batavia dan tinggal di kediaman salah satu   kehilangan beasiswa yang ia terima sejak tahun
 menganggap bangsa Indonesia lebih rendah   kakaknya, dokter Seno Sastroamidjojo, yang   kedua—sosok Alimin mengesankan dan cukup
 Ali kemudian didaftarkan ke sekolah angka
 ketimbang bangsa Eropa. Pengalamannya   bekerja sebagai asisten pengajar di STOVIA.   mempengaruhi pandangan politiknya kala muda.
 satu (eerste klasse school)  yang  sebenarnya
 bergaul  dengan anak-anak  Belanda  di  sekolah               Banyak gagasan Alimin merupakan pemikiran-
 merupakan sekolah elit untuk anak-anak   Ali Sastroamidjojo lahir dan dibesarkan pada
 elit telah menyadarkan Ali bahwa kemampuan                    pemikiran melampaui zamannya dan baru bagi
 Belanda. Tentu saja Ali ditolak, secara halus   zaman bergerak, ketika berbagai kelompok
 anak-anak Belanda itu juga tidak bagus-bagus                  Ali yang menjadi juga anggota Jong Java, sebuah
 karena penguasaan bahasa Belandanya tidak   nasionalis Indonesia muncul. Dalam atmosfer
 amat, dan dengan ketekunan serta kerja keras,                 perkumpulan yang termasuk salah satu paling
 terlalu bagus, namun juga oleh karena latar   metropolitan Batavia, Ali bergaul dengan
 anak-anak pribumi dapat mengungguli mereka.                   awal namun lebih bercorak konservatif dengan
 belakang sosialnya sebagai anak pribumi, yang   berbagai macam orang dari latar belakang sosial
 Namun hal penting lain yang dirasakannya,                     orientasi pada semangat kejawaanya. Ali untuk
 hanya putra seorang pensiunan. Tidak kehabisan   Ali  juga  meyakini  bahwa  kolonialisme  dan etnis. Adapun di HBS Ali mengalami   pertama kali mendengar gagasan persatuan
 akal, ayah Ali kemudian menghadap kepada   menghambat kemajuan bangsa Indonesia dengan   persentuhan  awal  dengan  aktivitas  politik.   dari Alimin yang meyakini bahwa penjajahan

 asisten residen dan mengatakan bahwa anak   menempatkan mereka sebagai kawula nomer   Ketika Ali mulai tinggal di Batavia, berbagai   harus dilawan dengan dengan persatuan bangsa
 yang akan didaftarkannya ke sekolah angka satu   dua. Sebagai contoh, pembagian sekolah yang   organisasi kedaerahan muncul seperti Jong   Indonesia di bawah payung Islam. Kerap
 masih merupakan cucu dari bupati Magelang.   bersifat diskriminatif, dimana untuk anak-anak   Java, Jong Sumatera, Jong Pasundan. Karena   mendengar gagasan-gasagan progresif semacam
 Dengan berbekal rekomendasi dari pejabat   pribumi disediakan HIS (Holands Inlandsche   belum memiliki ikatan kebangsaan, kerap kali   itu, wajar jika kemudian Ali menjadi kecewa,
 Belanda  tadi,  ayah  Ali  dapat  membuat  kepala   School) yang hanya mengajarkan bahasa Belanda   timbul permusuhan antar organisasi pergerakan   ketika ia hadir dalam sidang Volksraad sebagai
 sekolah  kesulitan  untuk  menolak  putranya.   tingkat dasar, dan yang untuk dapat masuk   tersebut. Hanya saja di HBS, antagonisme antar   penonton di tribun, melihat para wakil bangsa
 Setelah melalui test yang tidak terlampau susah,   membutuhkan banyak persyaratan.  perhimpunan dengan latar kedaerahan tidak   Indonesia hanya menyampaikan usul yang datar-
 akhirnya Ali diizinkan bersekolah dengan syarat   terjadi karena  jumlah  siswa bumiputra yang   datar saja, itupun dalam bahasa Belanda yang di
 Setelah lulus dari Eerste Europesche Lagere School
 bahwa ia akan melanjutkan studinya ke sekolah   masih  sedikit  dan  mereka  semua  bersepakat   mata Ali lebih menampakan ketundukan pada
 pada 1918, peluang Ali untuk melanjutkan sekolah
 kedoktoran. Syarat ini merupakan jalan tengah   untuk membentuk  Inlandsche  HBS  Vereniging,   budaya penjajah.
 semakin terbuka lebar. Oleh karena prestasinya
 dari kepala sekolah  untuk menjaga gengsi   atau perhimpunan (pelajar) HBS bumiputra.
 yang baik selama menempuh pendidikan dasar,                   Meskipun Ali adalah produk pendidikan
 sekolahnya dengan memastikan bahwa anak   Organisasi ini beranggotakan siswa dari bangsa
 ditunjang pula  dengan  dukungan  keluarganya,                Belanda, dan sebagaimana ia rasakan sendiri
 didiknya yang seorang Jawa putra pensiunan itu   Indonesia, dan bersifat lintas etnis. Adapun,
 terutama saudara-saudaranya yang saat itu                     bahwa kemampuannya berbahasa Belanda turut
 kelak akan menjadi elit bumiputra.  sentimen terhadap inlander yang selalu dipandang
 telah menamatkan pedidikan dan memperoleh                     andil besar dalam kesuksesannya, Ali merasa
               inferior yang merebak di sekolah elit semacam
 Bagaimanapun, posisi Ali  di sekolah itu tidak   pekerjaan yang mapan—seperti dokter bahkan   bahwa bahasa adalah alat dominasi penjajah.
               HBS menjadi faktor penting yang menyemaikan
 menguntungkan. Ia dianggap inlander dan oleh   anggota  volksraad—Ali  dihadapkan  pada  tiga   Pandangan ini  terus menerus dipegang teguh
               perasaan satu nasib para siswa yang beragam itu.
 karenanya  inferior.  Di  sisi  lain,  keberadaan   pilihan menarik. Ali dapat memilih studi lanjut   oleh Ali. Oleh karena itulah ia mulai melakukan
 Ali di  sekolah elit tersebut juga  meningkatkan   sekolah  teknik,  sekolah  ambtenaar  (Pamong   Pengetahuan Ali menjadi jauh lebih baik ketika   dekolonisasi kecil-kecilan dalam keluarganya.
 persaingan bagi kawan-kawan Belandanya.   Praja), atau HBS. Pilihan Ali jatuh ke HBS   kost di rumah Kartosemito, seorang dokter Jawa.   Bahkan, kelak ketika ia telah berkeluarga dan
 Mereka  dituntut  untuk  membuktikan  atas  dorongan  kakaknya, Sastrowidjono, yang   Di rumah itu Ali kerap berjumpa dengan Alimin,   memiliki anak, Ali memilih untuk mendididik
 bahwa anak-anak kulit putih lebih unggul   merupakan aktifis Budi Utomo sekaligus   kerabat ibu kost yang juga seorang tokoh muda   anaknya dengan bahasa Jawa. Sehingga,





 330  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  331
   338   339   340   341   342   343   344   345   346   347   348