Page 340 - Perdana Menteri RI Final
P. 340

ALI SASTROAMIDJOJO:                                                                                                                   wilayah ini, terdapat pula beberapa fasilitas   pangkat menjadi wedana Jetis Temanggung

                                                                                                                                                  lain seperti pendidikan dan kesehatan yang     hingga pensiun. Dengan latar belakang sosial
            Indonesia untuk Perdamaian                                                                                                            cukup memadahi. Lumrahnya seorang anak         ini, putra-putri R.Ng. Sastroamidjojo dapat

                                                                                                                                                  desa biasa, Ali Sastroamidjojo menghabiskan
                                                                                                                                                                                                 mengenyam pendidikan yang baik. Bahkan,
            Dunia                                                                                                                                 waktu kecilnya untuk bermain bersama teman-    beberapa saudara Ali dapat melanjutkan
                                                                                                                                                  temannya yang sebagian besar merupakan anak-
                                                                                                                                                                                                 pendidikan di Batavia, dan Surabaya.
                                                                                                                                                  anak petani desa. Beberapa kawannya tidak
                                                                                                                                                                                                 Selama bertumbuh sebagai anak desa di Grabag,
                                                                                                                                                  bersekolah, melainkan membantu orang tuanya
                                                                                                                                                                                                 Ali belajar membaca, menulis dan berhitung di
                                                                                                                                                  untuk mengembalakan kerbau. Dalam hal ini,
                                                                                                                                                                                                 sekolah desa. Tampaknya, sekedar mempelajari
                                                                                                                                                  Ali Sastroamidjojo cukup beruntung karena
                                                                                                                                                                                                 ilmu-ilmu dasar semacam itu kurang memuaskan
                                                                                                                                                  orang tuanya cukup terpandang dan sangat
                          “Perdamaian dunia hanya bisa tercapai           Ali Sastroamidjojo yang dalam sejarah Indonesia                         mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya.     hati ayahnya. Terlebih lagi, beberapa saudara Ali
                          apabila jurang kekayaan materiil antara         tercatat sebagai Perdana Menteri sebanyak                                                                              ada yang bersekolah di kedokteran dan teknik.
                                                                                                                                                  R.Ng. Sastroamidjojo, ayah Ali Sastroamidjojo,   Hanya saja untuk dapat mengenyam pendidikan
                          negara-negara industri (Amerika, Eropa,         dua kali merupakan tokoh yang berhasil
                                                                                                                                                  merupakan elit lokal dari kalangan priyayi. Ia   lebih tinggi, Ali harus masuk di sekolah Belanda
                                                                          meyakinkan  pemimpin  negara-negara  Asia-
                          Jepang, dan negara-negara sosialis)
                                                                                                                                                  berasal dari keluarga birokrat setempat, putra R.   dan untuk itu ia harus mahir berbahasa Belanda.
                                                                          Afrika untuk menggalang solidaritas dan untuk
                          dan negara-negara  sedang  berkembang
                                                                          memainkan peran aktif di tengah situasi dunia                           Wirjodipuro, seorang wedana Batur di Banyumas.   Saudara Ali juga menyarankannya untuk dapat
                          (Asia-Afrika dan Amerika Latin) selekas                                                                                 Dalam otobiografinya, Ali Sastroamidjojo
                                                                          yang memanas akibat terpapar Perang Dingin.                                                                            mengusai bahasa  Belanda,  karena  bahasa
                          mungkin dihapuskan”.    1                                                                                               menunjukan peran besar ayahnya baik sebagai
                                                                          Latar belakang penyelenggaraan konferensi ini                                                                          Belanda adalah kunci kemajuan pada waktu itu.
                          Ali Sastroamidjojo                              tidak lepas dari gagasan-gagasan transnasional                          orang  tua  yang  mendorong  anaknya untuk     Usaha pertama untuk memasukan Ali ke sekolah
                                                                                                                                                  menempuh pendidikan tinggi, maupun sebagai
                                                                          Ali    Sastroamidjojo.   Sebagai    Perdana                                                                            Belanda gagal karena Ali dinilai tidak cakap
                          PENGANTAR                                       Menteri sekaligus seorang politisi PNI, Ali                             model pegawai yang rajin. R.Ng. Sastroamidjojo   dalam berbahasa Belanda, terlebih lagi, ayahnya
                                                                                                                                                  muda juga gemar berkelana mengunjungi
                                                                          Sastroamidjojo memiliki visi internasional yang                                                                        hanya seorang pensiunan. Karena penolakan
                          Keberhasilan penyelenggaraan Konferensi Asia                                                                            tempat-tempat baru, kesenangan ini menurun
                                                                          sangat kuat, yang terbentuk melalui pergulatan                                                                         ini, Ali kemudian diberi kursus bahasa Belanda
                          Afrika (KAA) atau dikenal juga sebagai Bandung                                                                          pula kepada Ali. Sepulang dari mengembara di   dengan guru Tuan Westendorp yang menerima
                                                                          dan pengalamannya berinteraksi dengan dunia
                          Conference di tahun 1955 menjadi jalan pembuka                                                                          Batavia, R.Ng. Sastroamidjojo bekerja untuk    sejumlah murid berbangsa Indonesia dengan
                                                                          luar semenjak usianya yang masih belia. Terlepas
                          bagi kiprah yang lebih penting negara-negara                                                                            Bupati Magelang sebagai juru tulis. Oleh       mengutip ongkos yang cukup besar bagi ayah
                                                                          dari cara pandangannya yang sangat mendunia,
                          berkembang dalam percaturan politik global                                                                              karena sang bupati menilai baik kerjanya juga   Ali saat itu.
                                                                          maupun karirnya sebagai diplomat yang
                                                                                                                                                  pribadinya yang tekun, R.Ng. Sastroamidjojo
                          waktu itu. Bagi Indonesia, kesuksesan KAA juga   menonjol, Ali Sastroamidjojo sejatinya adalah
                                                                                                                                                  dinikahkan dengan Kustiyah putri ke-19 Raden   Setelah  belajar  bahasa  selama  kurang  lebih
                          turut menaikan reputasi bangsa ini  di hadapan   anak yang berasal dari lereng Gunung Merbabu.
                                                                                                                                                  Tumenggung Ario Danuningrat II, bupati         setengah tahun, Ali dapat diterima di sekolah
                          khalayak internasional. Seolah tenggelam oleh
                                                                                                                                                  Magelang. Dari pernikahan ini lahirlah duabelas   nomor 2 (tweede klasse school) di Magelang.
                          nama-nama besar para pemimpin negara-negara     MAGELANG DAN BATAVIA
                                                                                                                                                  orang anak: enam laki-laki dan enam perempuan.   Sekolah ini sebenarnya merupakan sekolah
                          dunia ketiga seperti Sukarno; Pandit Jawaharlal
                                                                          Ali Sastroamidjojo lahir pada 21 Mei 1903                               Ali Sastroamidjojo sendiri merupakan putra     untuk anak-anak Indo-Belanda, dan dengan
                          Nehru; dan Gamel Abdul Nasser, Perdana
                                                                          di Grabag, kira-kira 20 km jauhnya dari                                 ke sebelas, dan masih memiliki satu adik       sedikit pengecualian para anak priyayi. Biasanya
                          Menteri Indonesia saat itu, Ali Sastroamidjojo,   Magelang. Sebagai ibukota kawedanan, Grabag                           bernama Usman. Setelah menikah, karir R.Ng.    murid-murid Indo-Belanda di tweede klasse school
                          adalah figur yang memiliki peran besar dalam    merupakan desa  yang  bercorak  kekotaan.                               Sastroamidjojo semakin menanjak. Ia diangkat   berperangai buruk dan berlaku nakal terutama
                          membidani terselenggaranya KAA.                 Jalur kereta api Semarang-Magelang melintasi                            sebagai asisten wedana, dan kemudian naik      terhadap siswa bumiputra. Hanya setahun setelah





                           328   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  329
   335   336   337   338   339   340   341   342   343   344   345