Page 335 - Perdana Menteri RI Final
P. 335

yang sangat menentukan nasib Kabinet Wilopo   merasa memperoleh hak-nya kembali untuk
 dalam menghadapi krisis politik akibat peristiwa   mengerjakan tanah itu.

 Tandjung Morawa.
 Pada bulan Maret 1953, pemerintah mulai
 Sejak 1951, ketika Iskaq masih menjabat sebagai   menjalankan rencananya dengan merelokasi
 menteri pada kabinet Sukiman, ia mensepakati   62.000 orang yang tinggal di Tanjung Morawa.
 untuk mengembalikan sejumlah besar lahan   Namun, petani setempat tidak mau pindah dan
 di Tanjung Morawa Sumatra Timur yang   kemudian melakukan perlawanan. Tindakan keras

 dulunya, sebelum perang, dikuasai oleh  Deli   diambil,  Abdul  Hakim  (Masyumi), Gubernur
 Planters Vereniging (DPV). Kebijakan Iskaq   Sumatra Utara yang tidak mengindahkan
 tersebut erat kaitannya dengan usaha pemerintah   pertimbangan dari Departemen Agraria di
 dalam menarik pemodal asing. Persoalannya   Jakarta yang telah memperingatkannya beberapa
 adalah tanah DPV yang pada masa Jepang   hari sebelumnya bahwa relokasi dapat dilakukan
                                                                                             Beberapa anggota Kabinet Wilopo sedang
 diterlantarkan kemudian diolah oleh para petani   dengan memulihkan terlebih dahulu hak para   bercakap-cakap sebelum Wilopo menyerahkan
                                                                                             mandat 2 Juni 1953
 yang merasa bahwa DPV tidak lagi memiliki hak   petani sebelum dipindahkan dan memastikan
 atas tanah yang mereka garap. DPV sebenarnya   pemindahan dilakukan dengan jalan damai.     Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

 telah  menyetujui  untuk  mengembalikan  Polisi-tentara dikerahkan untuk mengawal
 130.000  hektar  (dari  255.000  hektar)  dari   penggusuran lahan petani menggunakan traktor.
               menghentikan pengembalian tanah kepada DPV,     Laporan berbeda muncul dari lingkaran PNI.
 tanah tersebut dengan syarat bahwa pemerintah   Konflik langsung tidak dapat dihindarkan
               dan membebaskan orang-orang yang ditangkap      Abdullah Jusuf—anggota parlemen dari PNI
 akan memberikan izin kepada DPV untuk   dan pada puncaknya terjadi penembakan yang
               karena kasus tersebut.                          yang ditugaskan untuk menginvestigas kasus
 mengerjakan 125.000 hektar sisanya selama 30   memakan 5 orang korban meninggal dan banyak
                                                               ini menyalahkan Gubernur Sumatra Timur,
 tahun. Hingga kabinet Sukiman bubar, hasil   lainnya luka-luka.   Masyumi yang menganggap mosi Sidik
                                                               Addul  Hakim.  Baginya  persoalan berakar
 negosiasi ini tidak pernah dieksekusi.  Kertapati ditujukan kepada menteri dalam   dari kompensasi yang tidak adil sehingga
 Buntut dari peristiwa ini menjadi masalah pelik
               negeri, M. Roem, memberi back up penuh
                                                               petani menolak direlokasi. Lebih lanjut, ia juga
 Kabinet Wilopo kemudian melakukan usaha   di parlemen. Pada 22 Mei, Sidik Kertapati
               kepada menterinya itu. Pemerintah juga turut
                                                               menuduh bahwa Gubernur meneima f. 600.000,-
 untuk menjalankan kesepakatan dengan DPV   (SAKTI) mengajukan mosi terhadap pemerintah
               menolak mosi tersebut, dan mendukung
                                                               uang kompensasi yang tidak dikelolanya dengan
 tersebut. Permasalahannya pada tanah seluas   yang meminta agar menghentikan pelaksanaan
               kebijaksanaan M. Roem dalam menangani kasus
                                                               baik. Gubernur dianggapnya bertindak sendiri
 125.000 yang akan kembali digarap DPV,   pembagian  tanah  di  Tanjung  Morawa,  Tanjung Morawa. Pihak kementerian dalam
                                                               tanpa konsultasi kepada para wakil rakyat itu dan
 terdapat sekitar 62,000 jiwa yang mendiaminya   membatalkan pedoman dan instruksi yang   negeri mengirimkan staffnya yang disebut-sebut
                                                               sengaja menciptakan ketegangan agar kekuatan
 baik warga pribumi pribumi maupun keturunan   digunakan untuk menangani kasus itu, serta   berasal dari Masyumi untuk mengusut kasus ini
                                                               polisi dapat digunakan.
 Tionghoa.  Mereka beranggapan  bahwa tanah   mendesak agar para tahanan yang terkait dengan   yang kemudian memberikan keterangan yang
 tersebut dahulunya merupakan lahan garapan   peristiwa tersebut segera dibebaskan. Mosi ini   cenderung menyudutkan petani. Laporannya   Pemimpin PNI Sumatera Utara yang juga
 nenek moyang mereka yang jatuh ke tangan   memperoleh dukungan dari Sardjono (BTI),   menyebutkan bahwa bahwa konflik di Tanjung   pemimpin harian  Waspada, M. Said melihat
 para pemodal asing melalui perantaraan Sultan   Rasuna Said (non-partai), Ehem Erningpraja   Morawa bukanlah suatu spontanitas melainkan   bahwa peristiwa Tanjung Morara merupakan
 Deli yang kemudian meyewakan tanah mereka   (SOBSI) dan I.R. Lobo (Progresif). Pengusul   perlawanan politik petani Tionghoa yang anti-  aksi spontan para petani yang akan digusur
 secara  semena-mena  dalam  jangka  waktu   melakukan sejumlah perbaikan pada mosi   pemerintah. Para petani ini berjejaring dengan   dengan menggunakan cara-cara kekerasan,
 99 tahun. Ketika zaman kolonial berakhir   mereka untuk dapat diterima oleh PNI. Sehingga   PKI di Medan dan memiliki organisasi induk di   dan ia mengecam keras tindakan gubernur
 dan muncul negara-nasional, para petani   isi mosi tersebut hanya tersisa tuntutan untuk   Tiongkok.   tersebut. Belakangan, M. Said yang merupakan





 322  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  323
   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340