Page 334 - Perdana Menteri RI Final
P. 334

yang sangat menentukan nasib Kabinet Wilopo    merasa memperoleh hak-nya kembali untuk
                           dalam menghadapi krisis politik akibat peristiwa   mengerjakan tanah itu.

                           Tandjung Morawa.
                                                                          Pada bulan Maret 1953, pemerintah mulai
                           Sejak 1951, ketika Iskaq masih menjabat sebagai   menjalankan rencananya dengan merelokasi
                           menteri pada kabinet Sukiman, ia mensepakati   62.000 orang yang tinggal di Tanjung Morawa.
                           untuk mengembalikan sejumlah besar lahan       Namun, petani setempat tidak mau pindah dan
                           di Tanjung Morawa Sumatra Timur yang           kemudian melakukan perlawanan. Tindakan keras

                           dulunya, sebelum perang, dikuasai oleh  Deli   diambil,  Abdul  Hakim  (Masyumi), Gubernur
                           Planters Vereniging (DPV). Kebijakan Iskaq     Sumatra Utara yang tidak mengindahkan
                           tersebut erat kaitannya dengan usaha pemerintah   pertimbangan dari Departemen Agraria di
                           dalam menarik pemodal asing. Persoalannya      Jakarta yang telah memperingatkannya beberapa
                           adalah tanah DPV yang pada masa Jepang         hari sebelumnya bahwa relokasi dapat dilakukan
                                                                                                                                                                                                                               Beberapa anggota Kabinet Wilopo sedang
                           diterlantarkan kemudian diolah oleh para petani   dengan memulihkan terlebih dahulu hak para                                                                                                        bercakap-cakap sebelum Wilopo menyerahkan
                                                                                                                                                                                                                               mandat 2 Juni 1953
                           yang merasa bahwa DPV tidak lagi memiliki hak   petani sebelum dipindahkan dan memastikan
                           atas tanah yang mereka garap. DPV sebenarnya   pemindahan dilakukan dengan jalan damai.                                                                                                             Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

                           telah  menyetujui   untuk   mengembalikan      Polisi-tentara dikerahkan untuk mengawal
                           130.000  hektar  (dari  255.000  hektar)  dari   penggusuran lahan petani menggunakan traktor.
                                                                                                                                                  menghentikan pengembalian tanah kepada DPV,    Laporan berbeda muncul dari lingkaran PNI.
                           tanah tersebut dengan syarat bahwa pemerintah   Konflik langsung tidak dapat dihindarkan
                                                                                                                                                  dan membebaskan orang-orang yang ditangkap     Abdullah Jusuf—anggota parlemen dari PNI
                           akan memberikan izin kepada DPV untuk          dan pada puncaknya terjadi penembakan yang
                                                                                                                                                  karena kasus tersebut.                         yang ditugaskan untuk menginvestigas kasus
                           mengerjakan 125.000 hektar sisanya selama 30   memakan 5 orang korban meninggal dan banyak
                                                                                                                                                                                                 ini menyalahkan Gubernur Sumatra Timur,
                           tahun. Hingga kabinet Sukiman bubar, hasil     lainnya luka-luka.                                                      Masyumi yang menganggap mosi Sidik
                                                                                                                                                                                                 Addul  Hakim.  Baginya  persoalan berakar
                           negosiasi ini tidak pernah dieksekusi.                                                                                 Kertapati ditujukan kepada menteri dalam       dari kompensasi yang tidak adil sehingga
                                                                          Buntut dari peristiwa ini menjadi masalah pelik
                                                                                                                                                  negeri, M. Roem, memberi back up penuh
                                                                                                                                                                                                 petani menolak direlokasi. Lebih lanjut, ia juga
                           Kabinet Wilopo kemudian melakukan usaha        di parlemen. Pada 22 Mei, Sidik Kertapati
                                                                                                                                                  kepada menterinya itu. Pemerintah juga turut
                                                                                                                                                                                                 menuduh bahwa Gubernur meneima f. 600.000,-
                           untuk menjalankan kesepakatan dengan DPV       (SAKTI) mengajukan mosi terhadap pemerintah
                                                                                                                                                  menolak mosi tersebut, dan mendukung
                                                                                                                                                                                                 uang kompensasi yang tidak dikelolanya dengan
                           tersebut. Permasalahannya pada tanah seluas    yang meminta agar menghentikan pelaksanaan
                                                                                                                                                  kebijaksanaan M. Roem dalam menangani kasus
                                                                                                                                                                                                 baik. Gubernur dianggapnya bertindak sendiri
                           125.000 yang akan kembali digarap DPV,         pembagian    tanah   di  Tanjung   Morawa,                              Tanjung Morawa. Pihak kementerian dalam
                                                                                                                                                                                                 tanpa konsultasi kepada para wakil rakyat itu dan
                           terdapat sekitar 62,000 jiwa yang mendiaminya   membatalkan pedoman dan instruksi yang                                 negeri mengirimkan staffnya yang disebut-sebut
                                                                                                                                                                                                 sengaja menciptakan ketegangan agar kekuatan
                           baik warga pribumi pribumi maupun keturunan    digunakan untuk menangani kasus itu, serta                              berasal dari Masyumi untuk mengusut kasus ini
                                                                                                                                                                                                 polisi dapat digunakan.
                           Tionghoa.  Mereka beranggapan  bahwa tanah     mendesak agar para tahanan yang terkait dengan                          yang kemudian memberikan keterangan yang
                           tersebut dahulunya merupakan lahan garapan     peristiwa tersebut segera dibebaskan. Mosi ini                          cenderung menyudutkan petani. Laporannya       Pemimpin PNI Sumatera Utara yang juga
                           nenek moyang mereka yang jatuh ke tangan       memperoleh dukungan dari Sardjono (BTI),                                menyebutkan bahwa bahwa konflik di Tanjung     pemimpin harian  Waspada, M. Said melihat
                           para pemodal asing melalui perantaraan Sultan   Rasuna Said (non-partai), Ehem Erningpraja                             Morawa bukanlah suatu spontanitas melainkan    bahwa peristiwa Tanjung Morara merupakan
                           Deli yang kemudian meyewakan tanah mereka      (SOBSI) dan I.R. Lobo (Progresif). Pengusul                             perlawanan politik petani Tionghoa yang anti-  aksi spontan para petani yang akan digusur
                           secara  semena-mena  dalam  jangka  waktu      melakukan sejumlah perbaikan pada mosi                                  pemerintah. Para petani ini berjejaring dengan   dengan menggunakan cara-cara kekerasan,
                           99 tahun. Ketika zaman kolonial berakhir       mereka untuk dapat diterima oleh PNI. Sehingga                          PKI di Medan dan memiliki organisasi induk di   dan ia mengecam keras tindakan gubernur
                           dan muncul negara-nasional, para petani        isi mosi tersebut hanya tersisa tuntutan untuk                          Tiongkok.                                      tersebut. Belakangan, M. Said yang merupakan





                           322   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  323
   329   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339