Page 331 - Perdana Menteri RI Final
P. 331

melalui  Technical Cooperation Administration   status SOB dihapuskan tanpa menimbulkan   rakyat untuk menuntut dibubarkannya dewan   M. Simbolon, dan Kolonel AE Kawilarang.
 (TCA). Skema ini memungkinkan Indonesia   pertentangan  yang  tajam,  yang  menunjukan   perwakilan rakyat, dan menuntut segera   Pada intinya mereka mendesak Kepala Negara

 untuk memperoleh bantuan teknis dan ekonomi   suatu perkembangan menuju kondisi yang   dilaksanakannya pemilu. Aksi ini bertambah   untuk membubarkan parlemen sementara yang
 dari  Amerika  tanpa  menyertaka  poin  seperti   demokratis telah mulai berjalan.  anarkis ketika sejumlah orang masuk ke dalam   sekarang dan membentuk sebuah parlemen
 yang sebelumnya diatur dalam MSA poin 511a.   gedung palemen, dan mulai menghancurkan   baru  dalam  waktu  sesingkat mungkin.  Sikap
 Terlepas dari mulai membaiknya hubungan antara
 Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Mukarto   sejumlah perabotan, beberapa kursi, dan kafetaria   Sukarno sangat jelas bahwa ia menolak untuk
 kabinet Wilopo, terutama menteri pertahanan,
 yang  merupakan mantan deputi di kedutaan   parlemen. Massa sempat menyampaikan petisi   mengabulkan  tuntutan  para  petinggi  tentara
 dengan para pimpinan angkatan bersenjata, di
 besar Indonesia di Amerika yang kemudian   kepada Hatta, kemudian mereka bergerak ke   untuk melakukan pembubaran parlemen.
 parlemen sempat muncul perdebatan panjang
 diangkat menjadi Menteri Luar Negeri oleh   arah istana merdeka, dan jumlahnya bertambah
 mengenai  legalitas  peraturan  pemerintah                    Kondisi masih mencekam, tentara masih
 Wilopo. Walaupun awal penunjukannya disebut-  banyak. Feith memperkirakan mencapai sekitar
 tentang  Staf  Kemanan  yang  tercantum  dalam                berpatroli di jalan-jalan, dan pertemuan yang
 sebut memperoleh penolakan dari Presiden—  30.000 orang.
 Peraturan  Pemerintah  No.  15  Tahun 1952.
 yang barangkali saat itu berfikir bahwa                       melibatkan lebih dari lima orang dilarang.
 Dari parlemen pula berlangsung perdebatan
 untuk menangani masalah rumit terutama   Menghadapi situasi sangat menegangkan itu,   Berbagai saluran komunikasi telepon dan telegraf,
 sengit mengenai kebijakan Menteri Pertahanan
 menyangkut MSA dibutuhkan tokoh dengan   ada dua hal yang di lakukan Sukarno. Pertama,   baik internal maupun luar negeri, dihentikan.
 dan Pimpinan AD terutama berkaitan dengan
 kaliber yang lebih besar—Mukarto berhasil   dengan penuh kharisma, ia berpidato di tangga   Demikian halnya dengan perhubungan dari dan
 rencana rasionalisasi anggota tentara. Mosi tidak
 menghapuskan keraguan itu dengan membawa   istana. Kedua, dengan tenang ia menghampiri   menuju Jakarta, baik kapal dan pesawat terbang
 percaya ditujukan kepada Menteri Pertahanan
 Indonesia mengatasi masalah MSA. Bahkan   para demonstran di pagar istana. Laiknya   tertunda untuk sementara waktu. Enam orang
 yang diusulkan anggota DPR mencuat menjadi
 pada era selanjutnya ia dipercaya Sukarno untuk   seorang bapak yang sedang berbicara kepada   anggota parlemen ditangkap yakni Sukiman,
 persoalan panas yang merembet hingga keluar
 mengurus sejumlah posisi penting termasuk   anaknya, Sukarno berhasil mengirim para   Kasman, Bebasa Daeng Lalo, A.B.M. Jusuf,
 gedung wakil rakyat melaui pemberitaan koran-
 menjadi formatur kabinet.  demonstran untuk pulang dengan tertib, lantas   Lamin dan Sjamsuddin Sutan Maknur. Harian
 koran partai politik, seperti harian  Merdeka
               meninggalkan mereka untuk kembali masuk ke      Merdeka dan  Berita Indonesia, serta Mingguan
 yang kemudian dianggap membocorkan rahasia
 Pada sisi lain, perkembangan politik era
               dalam Istana Merdeka. Suasana tegang berubah,   Mimbar Indonesia dan Mingguan  Merdeka,
 tentara.  Pada  puncaknya,  serangan-serangan
 Wilopo ditandai dengan terus digencarkannya
               terdengar kemudian sorak sorai para demonstran   dilarang terbit. Barulah,  tiga hari kemudian
 itu diarahkan kepada para pemimpin tentara
 pemulihan keamanan yang walaupun belum   mengelu-elukan presiden mereka.   semua tindakan darurat tentara telah dicabut
 secara personal dengan mengungkit skandal
 dapat memadamkan semua gangguan namun                         yang diikuti dengan pembebasan anggota
 pribadi, korupsi, nepotisme, dan perkara-perkara
 menunjukan progress yang jelas dengan   Ketika Presiden memulai pidatonya muncul   parlemen yang ditahan dan pencabutan larangan
 lainnya yang seolah-olah mempertentangkan
 dukungan penuh dari angkatan bersenjata.   di hadapannya dua tank, beberapa mobil
                                                               terbit bagi empat media massa.
 antara bekas TNI dan bekas KNIL. Oleh karena
 Sebagai bagian dari rencana pemerintah untuk   lapis  baja  dan  sejumlah  senjata  berat  lainnya.
 persoalan ini, Wilopo harus menghadapi krisis
 melakukan pembangunan daerah yang salah   Satu unit tentara berada di dalam istana dan   Wilopo, yang dalam berbagai testimoni
 politik yang menghantam kabinetnya terutama
 satunya diproyeksikan di Maluku, pemerintah   banyak lagi di luar. Seusai presiden berpidato,   dikatakan menunjukan ketenangan luar biasa
 setelah terjadinya “peristiwa 17 Oktober’.
 menyetujui dilakukannya tindakan tegas untuk   dua kelompok perwira senior termasuk   menghadapi ketegangan pada 17 Oktober,
 menumpas RMS yang kemudian dibarengi   lima dari tujuh komandan territorial datang   memilih untuk memproses peristiwa ini secara
 PERISTIWA 17 OKTOBER
 dengan pemerataan pembangunan. Hal ini   menemuinya. Tidak berselang lama setelah   objektif dan proporsional. Wilopo berpendapat
 menegaskan telah  pulihnya relasi yang sehat   Jakarta, 17 Oktober 1952. Ribuan orang bergerak   Presiden menemui para perwira tersebut. Hatta,   bagaimanapun juga keterlibatan  tentara  dalam
 antara para petinggi militer dengan pemerintah   dari Tanjung Priuk untuk berdemontrasi pada   Mr. A.K. Pringgodigdo, Perdana Menteri   urusan politik tidaklah dibenarkan, demikian
 sekaligus perubahan besar dari era Sukiman   pagi itu. Para demonstran dengan mengarak   Wilopo dan A.M. Tambunan dipanggil untuk   pula perdebatan sengit di parlemen antara
 terdapat dimana antara pemerintah dan elit   spanduk-spanduk berisi kecaman atas paremen.   turut begabung. Para perwira berbicara melalui   yang pro dan kontra terhadap kebijaksanaan
 militer dipisahkan oleh antagonisme. Perlahan,   Mereka berjalan menuju ke gedung wakil   perwakilan mereka: Kolonel Sutoko, Kolonel   menteri pertahanan yang kemudian menyeruak





 318  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  319
   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336