Page 327 - Perdana Menteri RI Final
P. 327

pada mundurnya pelaksanaan pemilu nasional   pesaing dari negara lain yang juga menjadi   kerjanya dimulai. Biro Perencanaan Nasional ini   pengeluaran untuk keperluan konsumsi. Terkait
 yang  tidak  dapat  dilangsungkan pada  tahun   penghasil bahan baku. Terlebih lagi, kabinet ini   berfungsi sebagai badan yang mengkoordinasikan   dengan hal itu, pemerintah menaikan pajak
 itu juga sebagaimana diharapkan oleh banyak   juga mewarisi beban ekonomi dan komitmen   perencanaan pemerintah dan memfasilitasi saran   impor barang-barang non-substansial sebesar

 pihak. Pemilu Nasional baru terselenggara   yang harus ditunaikan dari era sebelumnya dan   ekonomi oleh spesialis asing.  100% hingga 200% untuk item tertentu di mana
 pada tahun 1955 pada masa pemerintahan   ditambah pula dengan kecenderungan impor   para importir juga diwajibkan membayar 40% di
               Sebelum menjabat Perdana  Menteri Wilopo
 Kabinet  Burhanuddin  Harahap.  Selama  masa   terus meningkat. Wilopo memproyeksikan   muka.  Pemerintah  berpedoman  bahwa  politik
 kepemimpinannya, Wilopo memang gagal   pendapatan negara pada tahun 1952 kemungkinan   sering dijuluki sebagai “menteri beras”,   import ini harus disesuaikan dengan politik
 menyelenggarakan  pemilu  sebagaimana  akan jauh dari pendapatan tahun 1951 sebesar   karena kebijakannya semasa menjabat menteri   industrialisasi untuk menjamin kebutuhan rakyat
 direncanakan saat program kerja kabinet   Rp 2.610 juta. Dengan beban sebelumnya yang   perekonomian era kabinet Sukiman, melihat   tanpa menambah saingan bagi pengusaha lokal.
 disusun, namun Wilopo berhasil menciptakan   harus dibayar sebesar Rp 3.800 juta, pemerintah   bahwa pada dasarnya mayoritas rakyat Indonesia   Kebijakan ini dapat dicontohkan dalam import
 dasar hukum sebagai fondasi terpenting bagi   kemungkinan akan menghadapi defisit sebesar   hidup dari sector agraris, namun ironinya untuk   tekstil murah untuk memenuhi kebutuhan
 penyelenggaraan  Pemilu sekaligus  menetapkan   Rp 4.000 juta, dengan pendapatan total kurang   kebutuhan pangan masih harus didatangkan   masyarakat, yang diatur sedemikian rupa
 enam azas pemilu, yakni: jujur; umum;   dari Rp 9.000 juta.   dari luar itupun berbiaya besar. Oleh karenanya,   sehingga tidak mematikan industri tekstil dalam
 berkesamaan; rahasia; bebas; dan langsung—  pemerintah berusaha untuk menggenjot produksi   negeri.
 yang empat diantaranya terwarisi hingga kini.  Secara keseluruhan, Kabinet Wilopo memang   beras guna menghilangkan kebutuhan impor
 tidak  membuat  skema  baru  karena  karena   yang membebani anggaran negara. Langkah   Industrialisasi menjadi bidang yang tidak kalah
 MENAHAN DEFISIT  Indonesia sudah memiliki terlampau banyak   yang ditempuh pemerintah dalam memajukan   pentingnya bagi pemerintahan Wilopo, paling
 rancangan. Ia juga tidak menyusun agenda   pertanian adalah memelihara dan merehabilitasi   tidak karena dua alasan.  Pertama, industri
 Selain berkarakter tenang dan berhati-hari, bagi
 ekonomi yang ambisius, melainkan mengikuti   infrastruktur pertanian, mengusahakan sumber-  harus  dikembangkan  untuk  mengurangi
 orang-orang yang mengenalnya secara dekat,
 garis kebijakan ekonomi yang ditetapkan oleh   sumber baru bagi produksi pertanian, dan   ketergantungan import, dan kedua, memanfaatkan
 Wilopo dikenang sebagai sosok berpikiran logis
 15
 kabinet sebelumnya.  Dengan Soemitro sebagai   membuka sawah di Kalimantan dan Sumatera.    dan menambah nilai bahan-bahan yang ada
                                                         16
 juga sangat sederhana  dan pandai berhemat.
 menteri Ekonomi, dan Sumanang pada posisi   Strategi pemerintah ini cukup berhasil dalam   dalam negeri. Untuk memperkuat industri dalam
 Tampaknya, kedua sifat ini pulalah yang ia
 Menteri Keuangan, kebijakan kabinet ini lebih   meningkatkan  produksi  bahan  makanan  negeri, pemerintah diuntungkan dengan situasi
 teruskan ketika memimpin pemerintahan.
 banyak mengadopsi Rencana Ekonomi Sumitro   pokok seperti beras, jagung, singkong, ikan,   yang semakin stabil dimana jumlah pemogokan
 Tidak  dapat  dipungkiri,  ketika  Kabinet
 yang telah ada sejak Kabinet Natsir. Adapun   dan ternak—meskipun juga sempat terhantam   buruh berkurang secara drastis dibanding era
 Wilopo  mulai  bekerja,  kondisi  ekonomi  dan
 langkah-langkah yang diambil pemerintah   sejumlah  krisis  gagal  panen akibat musim.   sebelumnya, bahkan serikat buruh menunjukan
 keuangan pemerintah sedang suram. Wilopo
 untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang                     sikap kooperatif dengan pemerintah. Situasi
 menggambarkan situasi ekonomi negara saat   Dengan mengusahakan peningkatan produksi
 buruk adalah dengan merangsang produksi                       yang demikian itu selain berpengaruh positif
 itu sebagai “penurunan yang tidak terlihat   domestik yang dikombinasikan dengan membuka
 beras,  meringankan  pajak ekspor, mengurangi                 terhadap produkitifitas, juga bersifat atraktif
 14
 pangkalnya”.  Oleh karenanya, Kabinet Wilopo   kran beras impor, memungkinkan pemerintah
 pengeluaran  untuk  keperluan  konsumsi,                      bagi masuknya investasi asing. Dalam hal ini,
 menjadikan penghematan yang ketat sebagai   untuk mengendalikan harga beras tetap stabil.
 memperbaiki kondisi industri tekstil dalam                    walaupun politik mengadaptasi politik “Ekonomi
 tema ekonominya.
 negeri,  mendorong  kegiatan  wirausaha  di   Adapun untuk memperkuat ekspor, pemerintah   Nasional”,  pemerintah  tidak  bersikap  anti
 Pada  tahun-tahun  ketika  Wilopo  menjabat   sejumlah daerah dengan prioritas pertama di   melakukan pengurangan pajak dan pemberian   terhadap investasi asing sejauh dapat menaati
 sebagai Perdana Menteri, berkah dari Perang   Sumatera dan Maluku. Selain itu, Kabinet   kredit untuk menumbuhkan eksportir Indonesia.   peraturan yang sudah ada. Sebagai negara yang
 Korea telah berakhir dan oleh karenanya harga-  Wilopo juga membentuk sejumlah lembaga baru   Selain itu pemerintah juga merancang suatu   baru, investasi asing sangat dibutuhkan untuk
 harga barang ekspor andalan Indonesia seperti   yang penting bagi pembangunan ekonomi jangka   mekanisme yang memungkinkan para eksportir   menambah modal, mengadakan alat-alat dan
 seperti karet, timah dan kopra sedang merosot.   panjang, diantaranya adalah Biro Perencanaan   mengurus kebutuhannya sendiri. Pada sisi   teknologi baru. Dalam hal ini, pemerintah
 Situasi lebih diperparah dengan munculnya   Nasional yang dibentuk sejak awal periode   lain, pemerintah berusaha untuk menekan   berusaha untuk mempekuat industri fundamental





 314  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  315
   322   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332