Page 325 - Perdana Menteri RI Final
P. 325

mengadopsi  penyelenggaraan menggunakan   undang-undang pemilihan anggota DPR dan   Dimana kemudian diputuskan untuk melakukan
 sistem  langsung.  Kenyataan  tersebut  memberi   badan Konstituante yang baru kepada parlemen.   pemilihan konstituante terlebih dahulu. Dan,

 petunjuk bagi pemerintahan Wilopo tentang   Perlu dicatat pula bahwa dalam penyusunannya,   kedua berkaitan dengan rumusan pasal-pasal.
 sistem pemilu yang dapat dijalankan, yang   terdapat kontribusi besar dua sarjana hukum   Untuk persoalan subtasi RUU, parlemen secara
 berbeda dengan rancangan undang-undang   yang bekerja pada kedua kementrian tersebut   keseluruhan mengajukan beberapa puluh usulan
 sebelumnya yang dihasilkan kabinet Natsir pada   yakni Mr. Kuntjoro dan Mr. Sahardjo.   amandemen. Adapun untuk persoalan berkaitan
 1951 maupun yang diajukan Kabinet Sukiman   dengan rumusan pasal-pasal terdapat 139 usulan
 Rancangan undang-undang pemilihan anggota
 pada 1952 tentang RUU pemilihan anggota   amandemen. Moh. Roem menjelaskan bahwa
 DPR dan badan Konstituante yang diajukan
 badan konstituante yang mengusulkan pemilu   dari 110 pasal yang diajukan pemerintah, PKI
                                                         13
 dengan sistem tidak langsung atau bertingkat. 12  Kabinet Wilopo terdiri dari 110 pasal. Dua   mengajukan lebih dari 100 usulan amandemen.
 hari setelah diajukan parlemen mulai bersidang.
 Meskipun pemerintah memiki dasar yang   Persoalan terbesar terkait dengan penyusunan   Pembahasan RUU ini dilaksanakan dalam
 cukup  kuat,  pada  kenyataannya  proses  undang-undang pemilu adalah terlampau   35 kali sidang pleno yang memakan waktu
 mengundangkan pemilu tidak selalu berjalan   besarnya harapan anggota parlemen untuk   sekitar lima bulan dengan jumlah perubahan   Wilopo bersama Kolonel Nazir.
 mulus. Sejak proses penggodokan rancangan   menciptakan susunan perundang-undangan   sekitar 200 amandemen. Panjangnya durasi
                                                                                             Arsip Nasional Republik Indonesia
 undang-undang dimulai, berbagai kritik sudah   yang  demokratis  dan  sempurna  yang  dapat   pembahasan RUU Pemilu ini selain disebabkan
 banyak bermunculan terutama ditujukan kepada   dijalankan dalam waktu yang singkat. Herbert   oleh banyaknya usulan amandemen, sebenarnya
 kedua kementrian yang bertanggung jawab   Feith mengistilahkannya dengan “ultra democratic   juga dikarenakan beberapa kali terinterupsi   pemilu dilakukan melalui perwakilan partai yang

 menangani urusan ini yang saat itu dipegang   imagination” (impian yang super demokratis).   oleh sejumlah mosi mengenai masalah lain di   menjadi anggota kabinet.
 oleh anggota Masyumi dan PSI. Kebanyakan   Namun pada sisi lain, besarnya harapan ini seolah   luar pemilu yang dilontarkan melalui parlemen.
                                                               Sekitar  bulan  Maret,  kabinet  melaksanakan
 kritik mempertanyakan netralitas pemerintah   mengabaikan kondisi yang lebih realistis dan   Akhirnya, ketika Kabinet Wilopo tepat berusia
                                                               rapat ke-84 yang diantaranya mensepakati
 dalam merancang undang-undang pemilu.
 aktual seperti persoalan-persoalan tingkat melek   satu tahun, DPR menerima RUU yang diajukan
                                                               sejumlah strategi untuk melakukan lobi terhadap
 Bukan hanya berasal dari pihak oposisi, sejumlah
 politik rakyat, dan urusan teknis-praktis dalam   pemerintah untuk diundangkan.  Pada  4  April
                                                               partai-partai pendukung pemerintah. Dalam
 reaksi juga muncul dari partai perdana menteri   hal pembiayaan; percetakan; distribusi; dan   1953,  UU  pemilihan  anggota  DPR  dan  badan
                                                               hal ini, para menteri berperan untuk melakukan
 sendiri  yang  mengkhawatirkan  kedekatan   banyaknya jumlah kandidat peserta pemilu yang   Konstituante yang pertama No. 7/1953 disahkan.
                                                               pembicaraan dengan partai-partai dan fraksi-
 hubungan Masyumi dan PSI dapat mengganggu   waktu itu tidak hanya terdri dari partai poliik
                                                               fraksi pemerintah untuk mesepakati persoalan
 posisi politis PNI terutama dalam pemerintahan.   Melihat panjangnya perundingan dan tingginya
 melainkan pula perkumpulan dan perseorangan.
                                                               meliputi:  daerah pemilihan,  hak  dan  usia
 Memang pada masa itu, antara Masyumi dengan   harapan para wakil rakyat akan dihasilkannya
                                                               minimum pemilih, serta kontestan yang saat itu
 4 kursi menteri dan PSI dengan 2 kursi menteri   Terdapat paling tidak terdapat dua hal utama   peraturan sempurna yang kemudian muncul dalam
                                                               memperdebatkan apakah calon perseorangan
 memang tampak sangat mesra. Oleh karenanya,   yang menjadi perhatian kalangan parlemen untuk   serangan-serangan kerasnya atas RUU Pemilu
                                                               juga boleh ikut dalam pemilu. Selain itu, para
 seperti dinyatakan oleh H. Mohammad Said—  diamandemen,  baik  yang  mengemuka  dalam   pemerintah, kesuksesan yang dicapai Wilopo
                                                               menteri juga mengusahakan agar partainya
 wartawan kawakan yang juga pimpinan PNI   rapat informal maupun pada saat pleno. Pertama   dengan tim perumusnya merupakan akumulasi
                                                               masing-masing  dapat  menyetujui  supaya  tidak
 Sumatra Utara—bahwa sebenarnya koalisi di   adalah persoalan substansial yang terkait dengan   dari berbagai faktor. Menurut Moh. Roem, Sartono
                                                               diadakan pemungutan suara di DPR jika
 kabinet Wilopo dibangun dengan memberikan   hak pilih, daftar pemilih, lembaga penyelenggara   sebagai ketua Parlemen berperan penting dalam
                                                               amandemen yang disampaikan pemerintah
 Masyumi bukan 4 melainkan 6 kursi (terdiri dari   pemilihan, dan daftar calon. Selain itu, terdapat   mengelakan usaha PKI yang bermaksud mengulur
                                                               ditolak semua oleh DPR.
 4 Masyumi ditambah 2 dari PSI). Walaupun   pula persoalan detail teknis semisal pelaksanaan   waktu. Pada sisi lain, keberhasilan ini menunjukan
 memperoleh banyak kritik, pada 25 November   pemilihan DPR dan badan konstituante, apakah   soliditas kabinet dimana sejumlah negosiasi politik   Meskipun pada akhirnya dapat disetujui, lamanya
 pemerintah berhasil menyerahkan Rancangan   dilaksanakan  berbarengan  atau  berurutan?   penting untuk mendorong disahkannya RUU   proses pembahasan RUU tersebut berakibat





 312  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  313
   320   321   322   323   324   325   326   327   328   329   330