Page 324 - Perdana Menteri RI Final
P. 324

mengadopsi  penyelenggaraan menggunakan        undang-undang pemilihan anggota DPR dan                                 Dimana kemudian diputuskan untuk melakukan
                           sistem  langsung.  Kenyataan  tersebut  memberi   badan Konstituante yang baru kepada parlemen.                        pemilihan konstituante terlebih dahulu. Dan,

                           petunjuk bagi pemerintahan Wilopo tentang      Perlu dicatat pula bahwa dalam penyusunannya,                           kedua berkaitan dengan rumusan pasal-pasal.
                           sistem pemilu yang dapat dijalankan, yang      terdapat kontribusi besar dua sarjana hukum                             Untuk persoalan subtasi RUU, parlemen secara
                           berbeda dengan rancangan undang-undang         yang bekerja pada kedua kementrian tersebut                             keseluruhan mengajukan beberapa puluh usulan
                           sebelumnya yang dihasilkan kabinet Natsir pada   yakni Mr. Kuntjoro dan Mr. Sahardjo.                                  amandemen. Adapun untuk persoalan berkaitan
                           1951 maupun yang diajukan Kabinet Sukiman                                                                              dengan rumusan pasal-pasal terdapat 139 usulan
                                                                          Rancangan undang-undang pemilihan anggota
                           pada 1952 tentang RUU pemilihan anggota                                                                                amandemen. Moh. Roem menjelaskan bahwa
                                                                          DPR dan badan Konstituante yang diajukan
                           badan konstituante yang mengusulkan pemilu                                                                             dari 110 pasal yang diajukan pemerintah, PKI
                                                                                                                                                                                           13
                           dengan sistem tidak langsung atau bertingkat. 12  Kabinet Wilopo terdiri dari 110 pasal. Dua                           mengajukan lebih dari 100 usulan amandemen.
                                                                          hari setelah diajukan parlemen mulai bersidang.
                           Meskipun pemerintah memiki dasar yang          Persoalan terbesar terkait dengan penyusunan                            Pembahasan RUU ini dilaksanakan dalam
                           cukup   kuat,  pada   kenyataannya   proses    undang-undang pemilu adalah terlampau                                   35 kali sidang pleno yang memakan waktu
                           mengundangkan pemilu tidak selalu berjalan     besarnya harapan anggota parlemen untuk                                 sekitar lima bulan dengan jumlah perubahan                                   Wilopo bersama Kolonel Nazir.
                           mulus. Sejak proses penggodokan rancangan      menciptakan susunan perundang-undangan                                  sekitar 200 amandemen. Panjangnya durasi
                                                                                                                                                                                                                               Arsip Nasional Republik Indonesia
                           undang-undang dimulai, berbagai kritik sudah   yang  demokratis  dan  sempurna  yang  dapat                            pembahasan RUU Pemilu ini selain disebabkan
                           banyak bermunculan terutama ditujukan kepada   dijalankan dalam waktu yang singkat. Herbert                            oleh banyaknya usulan amandemen, sebenarnya
                           kedua kementrian yang bertanggung jawab        Feith mengistilahkannya dengan “ultra democratic                        juga dikarenakan beberapa kali terinterupsi    pemilu dilakukan melalui perwakilan partai yang

                           menangani urusan ini yang saat itu dipegang    imagination” (impian yang super demokratis).                            oleh sejumlah mosi mengenai masalah lain di    menjadi anggota kabinet.
                           oleh anggota Masyumi dan PSI. Kebanyakan       Namun pada sisi lain, besarnya harapan ini seolah                       luar pemilu yang dilontarkan melalui parlemen.
                                                                                                                                                                                                 Sekitar  bulan  Maret,  kabinet  melaksanakan
                           kritik mempertanyakan netralitas pemerintah    mengabaikan kondisi yang lebih realistis dan                            Akhirnya, ketika Kabinet Wilopo tepat berusia
                                                                                                                                                                                                 rapat ke-84 yang diantaranya mensepakati
                           dalam merancang undang-undang pemilu.
                                                                          aktual seperti persoalan-persoalan tingkat melek                        satu tahun, DPR menerima RUU yang diajukan
                                                                                                                                                                                                 sejumlah strategi untuk melakukan lobi terhadap
                           Bukan hanya berasal dari pihak oposisi, sejumlah
                                                                          politik rakyat, dan urusan teknis-praktis dalam                         pemerintah untuk diundangkan.  Pada  4  April
                                                                                                                                                                                                 partai-partai pendukung pemerintah. Dalam
                           reaksi juga muncul dari partai perdana menteri   hal pembiayaan; percetakan; distribusi; dan                           1953,  UU  pemilihan  anggota  DPR  dan  badan
                                                                                                                                                                                                 hal ini, para menteri berperan untuk melakukan
                           sendiri  yang  mengkhawatirkan  kedekatan      banyaknya jumlah kandidat peserta pemilu yang                           Konstituante yang pertama No. 7/1953 disahkan.
                                                                                                                                                                                                 pembicaraan dengan partai-partai dan fraksi-
                           hubungan Masyumi dan PSI dapat mengganggu      waktu itu tidak hanya terdri dari partai poliik
                                                                                                                                                                                                 fraksi pemerintah untuk mesepakati persoalan
                           posisi politis PNI terutama dalam pemerintahan.                                                                        Melihat panjangnya perundingan dan tingginya
                                                                          melainkan pula perkumpulan dan perseorangan.
                                                                                                                                                                                                 meliputi:  daerah pemilihan,  hak  dan  usia
                           Memang pada masa itu, antara Masyumi dengan                                                                            harapan para wakil rakyat akan dihasilkannya
                                                                                                                                                                                                 minimum pemilih, serta kontestan yang saat itu
                           4 kursi menteri dan PSI dengan 2 kursi menteri   Terdapat paling tidak terdapat dua hal utama                          peraturan sempurna yang kemudian muncul dalam
                                                                                                                                                                                                 memperdebatkan apakah calon perseorangan
                           memang tampak sangat mesra. Oleh karenanya,    yang menjadi perhatian kalangan parlemen untuk                          serangan-serangan kerasnya atas RUU Pemilu
                                                                                                                                                                                                 juga boleh ikut dalam pemilu. Selain itu, para
                           seperti dinyatakan oleh H. Mohammad Said—      diamandemen,  baik  yang  mengemuka  dalam                              pemerintah, kesuksesan yang dicapai Wilopo
                                                                                                                                                                                                 menteri juga mengusahakan agar partainya
                           wartawan kawakan yang juga pimpinan PNI        rapat informal maupun pada saat pleno. Pertama                          dengan tim perumusnya merupakan akumulasi
                                                                                                                                                                                                 masing-masing  dapat  menyetujui  supaya  tidak
                           Sumatra Utara—bahwa sebenarnya koalisi di      adalah persoalan substansial yang terkait dengan                        dari berbagai faktor. Menurut Moh. Roem, Sartono
                                                                                                                                                                                                 diadakan pemungutan suara di DPR jika
                           kabinet Wilopo dibangun dengan memberikan      hak pilih, daftar pemilih, lembaga penyelenggara                        sebagai ketua Parlemen berperan penting dalam
                                                                                                                                                                                                 amandemen yang disampaikan pemerintah
                           Masyumi bukan 4 melainkan 6 kursi (terdiri dari   pemilihan, dan daftar calon. Selain itu, terdapat                    mengelakan usaha PKI yang bermaksud mengulur
                                                                                                                                                                                                 ditolak semua oleh DPR.
                           4 Masyumi ditambah 2 dari PSI). Walaupun       pula persoalan detail teknis semisal pelaksanaan                        waktu. Pada sisi lain, keberhasilan ini menunjukan
                           memperoleh banyak kritik, pada 25 November     pemilihan DPR dan badan konstituante, apakah                            soliditas kabinet dimana sejumlah negosiasi politik   Meskipun pada akhirnya dapat disetujui, lamanya
                           pemerintah berhasil menyerahkan Rancangan      dilaksanakan  berbarengan  atau  berurutan?                             penting untuk mendorong disahkannya RUU        proses pembahasan RUU tersebut berakibat





                           312   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  313
   319   320   321   322   323   324   325   326   327   328   329