Page 397 - Perdana Menteri RI Final
P. 397
tersebut. Di Yogyakarta, Burhanuddin indekost Burhanuddin, Syafruddin Prawiranegara, Jusuf menyewa sebuah kost di daerah Cikini 71 Setelah keluar dari BP-KNIP, Burhanuddin
di Prabuningratan dalam sebuah rumah Wibisono, Mohammad Natsir, Mohammad untuk melihat kemungkinan melanjutkan lalu diangkat sebagai Wakil Ketua dari Kantor
besar bersama delapan orang lainnya dengan Roem dan Sukiman Wirjosandjojo. Burhanuddin, sekolah tingginya kembali. Ketika Supomo Pemilihan Pusat (KPP) mewakili Partai
9
seorang pembantu yang memasak dan mencuci Natsir dan Sukiman akan menjadi Perdana diangkat oleh pemerintahan pendudukan Jepang Masyumi. Oleh karenanya, Burhanuddin sudah
pakaiannya. Kondisi kehidupannya sangat Menteri pada tahun 1950an dan Syafruddin dan di Jakarta menjadi Menteri Kehakiman, ia memiliki pengalaman berhadapan dengan
mewah untuk anak seusia 19 tahun. Pada Jusuf akan mendapat jabatan penting dalam hal membuka kembali sekolah tinggi kehakiman. permasalahan pemilu jauh sebelum ia menjadi
5
periode ini, Buhanuddin mulai aktif dalam ekonomi dan perbankan. Burhanuddin juga Burhanuddin memutuskan untuk melanjutkan Perdana Menteri pada tahun 1955. Selain aktif di
organisasi JIB (Jong Islamieten Bond) tempat tergabung dalam PPI (Perhimpunan Pelajar- sekolah hukumnya dengan menempuh kursus KPP, ia juga kembali aktif di Gerakan Pemuda
dia bertemu Mohammad Roem, Mohammad Pelajar Indonesia) di Jakarta. Islam modernis pendidikan kehakiman. Ia memulai karirnya Islam Indonesia (GPII) dan juga menjadi
6
Natsir, Kasman Singodimedjo serta tokoh utama di Indonesia, khususnya pada tahun 1950an, di Pengadilan Negeri Yogyakarta pada ini. anggota Dewan Pimpinan Pusat Masyumi.
JIB Haji Agus Salim. JIB yang didirikan pada akan memiliki wujud Islam kiri atau sosialis. Setelah kapitulasi Jepang dan pernyataan Ketika Belanda melakukan Agresi Militer
tahun 1925 ini merupakan sempalan dari Jong Pemikiran ini dekat dengan pemikiran orang- kemerdekaan, Burhanuddin bergabung dengan Kedua pada bulan Desember 1948, Burhanuddin
Java ketika kongres organisasi tersebut tidak orang PSI, seperti Sutan Sjahrir atau Sumitro laskar dan berperan dalam peperangan gerilya terpaksa mengungsi. Ia bertemu dengan tokoh-
menyetujui penyelenggaraan kursus pengajian Djojohadikusumo, yang berhaluan sosialisme menghadapi pasukan Belanda di daerah tokoh Masyumi cabang Yogyakarta seperti
Islam. Jong Java merupakan sebuah organisasi Fabian atau sosialisme sampanye, yaitu sosialisme Yogyakarta. Ia menjadi anggota dari BP-KNIP Zaini Dahlan, Wahid Muhari, dan Sirad, dan
yang dekat dengan orang Jawa. Pada tahun 1936, dari kalangan elit berpendidikan tinggi. Mereka pada tahun 1945. Pengangkatan Burhanuddin bersembunyi di rumah ayah Sirad, seorang lurah
Burhanuddin diangkat sebagai ketua dari JIB simpatik terhadap ide-ide sosialis tetapi tetap yang pada waktu itu merupakan seorang di Sidorejo, Godean bernama Haji Abdullah.
cabang Yogyakarta. berpegang teguh pada pandangan-pandangan bujangan berusia 29 tahun dalam BP-KNIP Rumah Haji Abdullah ini menjadi salah satu
7
adalah atas permintaan Sukiman Wirjosandjojo ,
elitis yang konservatif. markas Angkatan Perang Sabil dan Hizbullah
Setelah tiga tahun menempuh pendidikan AMS, seorang tokoh Masyumi yang sudah dikenalnya Sabilllilah.
10
Burhanuddin melanjutkan pendidikannya ke Kedatangan Jepang ke Indonesia menjadi semenjak periode kolonial. Pada Maret 1946,
Rechtshogeschool atau sekolah tinggi hukum Disini pula Burhanuddin bertemu dengan Siti
babak baru dalam perjalanan hidupnya. Pasca KNIP terpaksa pindah dari Jakarta ke Purworejo
di Batavia pada tahun 1938. Para periode ini sebagai bagian dari perpindahan pemerintahan Badriyah, puteri kesembilan dari Haji Abdullah.
kemenangan Jepang atas Belanda di Indonesia,
Burhanuddin juga masuk dan aktif dalam segala bentuk pendidikan yang dilaksanakan RI ke Jawa Tengah. Ia terkenal sebagai seorang Siti Badriyah lahir pada 15 November 1928
SIS (Studenten Islam Studieclub) perkumpulan pada masa pemerintahan Belanda dihapuskan. yang gigih dalam memperjuangkan prinsip- atau beda sekitar 11 tahun dengan Burhanuddin
mahasiswa Indonesia yang tertarik pada isu- Kebijakan inilah yang memaksa Burhanuddin prinsipnya guna mendorong kepentingan umat. yang lebih tua, ia mengenyam pendidikan di
isu keislaman. Pada tahun 1939, Burhanuddin Ketika Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, Volksschool Muhammadiyah atau Sekolah
menghentikan aktivitas pendidikannya di
menjadi sekretaris dari SIS. SIS merupakan yang tidak disukai oleh kalangan Masyumi Ongko-Loro di Sidorejo selama tiga tahun. Ia
Sekolah Tinggi Hukum. Pada tahun 1942,
sebuah perkumpulan mahasiswa Islam modernis dan politikus Muslim lainnya karena berasal lalu melanjutkan sekolahnya ke Vervolg School
Burhanuddin diangkat menjadi jaksa di Jakarta.
merupakan bagian dari pergerakan Islam sosialis dari golongan kiri, menandatangani perjanjian di Moyudan selama empat tahun. Semasa
Meskipun Burhanuddin tidak bisa melanjutkan
di Indonesia. SIS ini banyak dipengaruhi oleh Renville, Burhanuddin dan politisi PNI pendudukan Jepang Badriyah mengikuti
sekolah tingginya, ia dan beberapa mahasiswa
ide-ide Islam sosialis dari India, khususnya Sarmidi Mangunsarkoro mendatanginya pendidikan di Sekolah Keputerian di Godean
lainnya yang berasal dari luar pulau Jawa
dari Mushir Hosein Kidwei, yang bukunya dan memintanya mengundurkan diri dari selama satu tahun. Setelah penyerahan Jepang, ia
berkumpul dalam suatu organisasi yang bertujuan
berjudul Islam dan Sosialisme dipakai oleh jabatan Perdana Menteri. Pada tahun 1947, diajak oleh kakaknya Zainuddin dan Hamdani
8
membantu masalah keuangan mahasiswa yang
HOS Tjokroaminoto dalam terbitannya yang Burhanuddin mengundurkan diri dari BP-KNIP untuk masuk dalam Gerakan Pemuda Islam
berasal dari luar pulau Jawa.
berjudul sama. Pengaruh Tjokroaminoto dan sebagai bentuk penolakan atas penandatanganan Indonesia bagian puteri. Badriyah mengenang
ide sosialismenya sangat kuat terhadap hampir Organisasi ini ia jalankan bersama dengan perjanjian Linggajati oleh Perdana Menteri mengenai perkenalan pertama dengan
semua pemikir utama Masyumi, termasuk Chairul Saleh dan Sukarni. Mereka kemudian Sutan Sjahrir. Burhanuddin pada sebuah wawancara dengan
384 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 385

