Page 402 - Perdana Menteri RI Final
P. 402

rumah Faqih Usman. Ketika ada keputusan        pandangan  soal  urusan  Reforma  Agraria                               Sumatera pro-Masyumi berhadapan langsung       dukungan TNI. PP no. 35 akan menempatkan
                           rapat untuk mengangkatnya sebagai formatur,    di Sumatera Timur atau peristiwa Tanjung                                dengan petani dan buruh tani dari Jawa yang    militer dibawah Kementerian Pertahanan dan

                           ia kaget dan berkeberatan, khususnya karena    Morawa, permasalahan sumber minyak di                                   pro-PNI.                                       sehingga mengurangi otonomi dari TNI, yang
                           usianya yang muda yaitu 36 tahun. Dalam        Sumatera Utara, serta kebijakan luar negeri                                                                            semenjak Revolusi Kemerdekaan beroperasi
                                                                                                                                                  Perpecahan  antara  PNI  dan  Masyumi  juga
                           formasi yang dibentuk oleh Burhanuddin, Jusuf   antara Moskow dan  San Francisco  yang                                                                                seolah di luar negara.
                                                                                                                                                  terwujud dalam perbedaan posisi partai terhadap
                           Wibisono, mantan Menteri Keuangan pada         berkaitan dengan penandatangan  Mutual
                                                                                                                                                  TNI. Masyumi mendukung posisi dari Kepala      Pada Desember 1954, pengurus Masyumi baru
                                                                                                            24
                           Kabinet Sukiman (April 1951–April 1952), akan   Security Act dengan Amerika Serikat.  Tampak
                                                                                                                                                  Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution; seorang   dilantik dengan Mohammad Natsir kembali
                           diangkat sebagai Perdana Menteri dari Masyumi   bahwa permasalahan-permasalahan utama yang
                                                                                                                                                  Batak dari Sumatera yang memiliki kepercayaan   menjadi Ketua Umum dengan didampingi
                           sementara Ali  Sastroamidjojo  akan  diangkat   tidak bisa dijembatani ini bersifat ideologis dan
                                                                                                                                                  Islam kuat dengan pandangan profesional dan    dua wakil ketua; Sukiman Wirjosandjojo dan
                           sebagai Wakil Perdana Menteri dari Fraksi      menyangkut posisi Indonesia dalam Perang
                                                                                                                                                  aspirasi memodernkan TNI. Nasution juga        Kasman Singodimedjo. Burhanuddin Harahap
                               20
                           PNI.                                           Dingin. Penandatanganan MSA oleh Perdana
                                                                                                                                                  merupakan salah satu pendukung utama doktrin   menjadi anggota dari pengurus baru tersebut,
                                                                          Menteri Sukiman di San Fransisco merupakan
                           Sebuah artikel di surat kabar  Pemandangan     pernyataan  akan  ketidak-netralan  Republik                            territorial TNI yang memberi otonomi lebih     beserta Mohammad Roem, Jusuf Wibisono,
                           menyatakan bahwa Burhanuddin merupakan         dalam Perang Dingin. MSA diiming-imingi                                 terhadap pimpinan militer daerah dan sehingga   Prawoto Mangkusasmito, dan Sjafruddin
                           pilihan yang paling baik karena ia tidak       bantuan militer serta perjanjian perlindungan                           membatasi kontrol Jakarta. Otonomi  ini        Prawiranegara.   Burhanuddin     merupakan
                           ambisius dan sehingga tidak akan memikirkan    keamanan dibawah militer AS. Jatuhnya                                   memungkinkan perwujudan kebijakan agraria di   seorang yang relatif masih muda pada waktu

                           kepentingan dirinya. Sementara surat kabar     pemerintahan   Sukiman    yang   didominasi                             daerah, khususnya Sumatera, yang lebih kondusif   itu. Ia juga orang yang tidak terlibat dalam
                           Merdeka berkata bahwa posisi Burhanuddin       oleh Masyumi menandakan perpecahan yang                                 terhadap keinginan Masyumi. Kedekatan          perseturan antara klik Mohammad Natsir dan
                           netral dan bukan bagian dari klik Natsir ataupun   mendalam antara Sayap Kanan–Masyumi dan                             pimpinan militer terhadap elit sipil daerah di   Sukiman  Wirjosandjojo,  walaupun  ia cukup
                           Sukiman. Ia juga dikatakan sebagai seorang     PSI yang cenderung pro-Amerika–dengan                                   Sumatera mendukung kebijakan territorial       dekat secara pribadi dengan Mohammad
                                                                                                                                                                                                       25
                                                    21
                           yang jujur dan berniat baik.  Tetapi pada akhir   Sayap  Kiri  Parlemen–PNI  serta  partai-partai                      dan posisi Nasution dalam militer. Kedekatan   Natsir.  Kejatuhan Kabinet Wilopo yang
                           Juli, Burhanuddin terpaksa menghadap Sukarno   kiri, kadang termasuk PKI, yang mendorong                               pimpinan-pimpinan militer daerah, khususnya    merupakan Kabinet Bersama antara PNI
                           untuk menyerahkan kembali mandat sebagai       pendirian  netralitas  yang  didukung oleh                              daerah militer di Sumatera terhadap partai dan   dan Masyumi serta pengangkatan Kabinet
                           formatur di Istana Negara Bogor karena sulitnya   Sukarno. Selain permasalahan kebijakan luar                          tokoh Masyumi inilah yang memungkinkan         Ali Sastroamidjojo yang merupakan kabinet
                           perundingan dengan PNI dalam membentuk         negeri, perbedaan signifikan lainnya adalah                             mereka beserta PSI melancarkan pemberontakan   PNI tanpa Masyumi dan PSI menandakan
                                       22
                           pemerintahan.  Ia mengatakan bahwa “Bung       kecendrungan    Masyumi    untuk   berpihak                             PRRI  di  Sumatera  pada  akhir  tahun  1950an.   perubahan dalam keseimbangan kekuasaan
                           Karno tampak kaget melihat saya begitu cepat   kepada kelompok-kelompok ningrat dan ulama                              Oleh karenanya, salah satu mosi pertama yang   parlemen   menjelang    pertengahan   tahun
                           menyerahkan mandatnya. Ia minta supaya saya    yang cenderung merupakan kelompok pemilik                               diajukan oleh Burhanuddin sebagai ketua        1950an. Kabinet Ali merupakan kabinet koalisi
                           mau  melanjutkan perundingannya dengan         lahan di Indonesia. PNI punya pendirian yang                            Fraksi  Masyumi  pada  masa  Pemerintahan  Ali   yang melibatkan banyak partai tetapi memiliki
                                                                          ambivalen dalam hal ini, tetapi ada kecendrungan                        Sastroamidjojo Pertama adalah permintaan       oposisi  yang  cukup  berat  dalam  koalisi
                           PNI. Tapi saya menangkap di balik kata-
                                                                          dari kalangan mereka untuk menyokong petani                             penarikan Peraturan Pemerintah no. 35 yang     Masyumi-PSI. Partai yang paling diuntungkan
                           katanya itu Bung Karno tidak memperlihatkan
                           kesungguhannya untuk membantu saya dalam       tak berlahan dalam menyelesaikan permasalahan                           berimplikasi pada pemberian sanksi terhadap    dalam struktur parlemen macam ini adalah
                                                                          Reforma  Agraria.  Dalam  hal  ini,  PNI  sering                        mereka yang terlibat dalam Peristiwa 17 Oktober   PKI yang bisa mendorong konsesi dari PM Ali
                           meyakinkan PNI. Dari itu, mandat tetap saya
                                      23
                           kembalikan.”                                   mendapat dukungan PKI serta partai-partai kiri                          1952, saat Nasution mengerahkan tentara TNI    karena lemahnya pemerintahannya vis-a-vis
                                                                          fringe lainnya. Permasalahan Reforma Agraria                            untuk mengarahkan moncong senjata mereka       oposisi. PKI seolah dianggap sebagai sekutu
                           Menurut formatur PNI, S. Hadikusumo,           menjadi isu yang sangat sensitif khususnya di                           ke Istana Negara dengan harapan meyakinkan     dari pemerintah dan hal ini meninggikan prestis
                           permasalahan utama penolakan PNI menjadi       Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara).                               Sukarno untuk membubarkan Parlemen dan         mereka. Menguatnya PKI mengkhawatirkan
                           bagian dari Kabinet karena adanya perbedaan    Di wilayah ini golongan aristokrat dan ulama                            mengangkat diri sebagai diktator dengan        Angkatan Darat yang semenjak Revolusi





                           390   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  391
   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407