Page 401 - Perdana Menteri RI Final
P. 401

yang dekat dengan tokoh militer daerah yang,    Sukarno menunjuk kembali Mukarto sebagai
               dalam banyak hal, punya kesamaan dalam          formatur tetapi gagal kembali karena Masyumi

               visi, kebijakan serta ideologi. Militer daerah,   menolak usulan Perdana Menteri dalam formasi
               khususnya yang berada di luar Jawa, punya rasa   Mukarto. Menurut Ali Sastroamidjojo, alasan
               curiga terhadap Komunisme dan PKI. Banyak       utama penolakan Masyumi terhadap formasi
               dari mereka juga simpatik dengan politik Islam.   Mukarto adalah karena kedekatannya dengan
               Kebijakan otonomi daerah berkaitan dengan       dan dukungan dari PKI. Dalam kaitan ini,
               penguatan daerah, khususnya daerah luar Jawa,   peristiwa Tanjung Morawa yang merupakan
               agar posisi mereka dengan Jakarta bisa lebih    salah satu peristiwa awal dari usaha Reforma
               berimbang. Basis suara Masyumi pun terletak di   Agraria menjadi bagian dari alasan penolakan
               luar Jawa, khususnya di Sumatera dan bagian-    ini. Tanjung Morawa merupakan  lahan  yang

               bagian tertentu pulau Sulawesi dan Jawa,        dihuni oleh petani ‘liar’ dari Tiongkok dengan
 Presiden Sukarno menunjuk Burhanuddin
 Harahap S.H. sebagai kabinet formateur pada   mengikuti kawasan-kawasan Islam modern   dukungan dan perlindungan organisasi petani
 tanggal 8 Juli 1953.
               seperti di Sumatera Barat. Sebagian dari tokoh-  PKI, BTI. Usaha pemerintah untuk merelokasi
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  tokoh  utama  Masyumi  pun merupakan  orang-  petani-petani ini mengakibatkan  bentrokkan
               orang muslim Sumatera, seperti Mohammad         dengan korban jiwa. Peristiwa ini mengakibatkan
               Natsir  dan KH  Muhammad  Isa  Ansyari dari     kejatuhan Kabinet Wilopo. Masyumi melihat
               Padang, walaupun ada orang-orang Jawa seperti   peristiwa ini sebagai perlawanan orang asing
               Sukiman Wirjosandjojo dan Jusuf Wibisono.       terhadap pemerintahan yang sah dengan
                                                               dukungan oleh pihak Komunis. Mengingat
               Karir  politik  Burhanuddin  semakin  menanjak
                                                               salah satu pendukung utama Masyumi adalah
               pada masa setelah kejatuhan Kabinet Perdana
                                                               ulama  dari  Sumatera  yang  juga  pemilik  lahan,
               Menteri  Wilopo.  Periode  antara  kejatuhan
                                                               peristiwa Tanjung Morawa dengan keterlibatan
               PM Wilopo dan  pengangkatan Kabinet Ali
                                                               dengan orang-orang Tionghoa asing serta kaum
               adalah krisis kabinet pertama Indonesia.
                                                                                                         19
                                                               Komunis menjadi posisi prinsipil ideologis.
               Selama tiga bulan dari April sampai akhir Juli
                                                               Posisi ini tidak diambil oleh PNI sehingga
               1953, Indonesia tidak memiliki pemerintahan.
                                                               menyulitkan proses pembentukkan formatur
               Posisi Burhanuddin sebagai sosok yang relatif
                                                               pemerintah.
               netral dan dianggap tidak ambisius menjadi
               keuntungan bagi dirinya. Pada awalnya Mukarto   Untuk menghindari  stalemate, pada bulan

               Notowidigdo, yang merupakan Menteri Luar        Juli 1953 Sukarno meminta Masyumi untuk
               Negeri dalam Kabinet Wilopo dan anggota partai   menunjuk formatur kabinet. Dewan Eksekutif
               PNI, ditunjuk oleh Presiden Sukarno untuk       Masyumi  meminta  Burhanuddin,  yang  pada
               membentuk kabinet. Mukarto menempatkan          waktu itu masih menjabat sebagai ketua Fraksi
 Presiden Sukarno menunjuk Burhanuddin   satu  orang  Masyumi,  Jusuf  Wibisono  dalam   Masyumi di Parlemen, sebagai formatur.
 Harahap S.H. sebagai kabinet formateur pada
               kabinetnya, tetapi hal ini ditentang oleh Masyumi.   Burhanuddin mengingat proses pengangkatan
 tanggal 8 Juli 1953.
               Presiden Sukarno menginginkan sebuah kabinet    ini sebagai sebuah proses yang amat rumit
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
               bersatu dengan melibatkan PNI dan Masyumi.      dari Dewan Pimpinan  Partai Masyumi di




 388  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  389
   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406