Page 400 - Perdana Menteri RI Final
P. 400

yang dekat dengan tokoh militer daerah yang,   Sukarno menunjuk kembali Mukarto sebagai
                                                                                                                                                  dalam banyak hal, punya kesamaan dalam         formatur tetapi gagal kembali karena Masyumi

                                                                                                                                                  visi, kebijakan serta ideologi. Militer daerah,   menolak usulan Perdana Menteri dalam formasi
                                                                                                                                                  khususnya yang berada di luar Jawa, punya rasa   Mukarto. Menurut Ali Sastroamidjojo, alasan
                                                                                                                                                  curiga terhadap Komunisme dan PKI. Banyak      utama penolakan Masyumi terhadap formasi
                                                                                                                                                  dari mereka juga simpatik dengan politik Islam.   Mukarto adalah karena kedekatannya dengan
                                                                                                                                                  Kebijakan otonomi daerah berkaitan dengan      dan dukungan dari PKI. Dalam kaitan ini,
                                                                                                                                                  penguatan daerah, khususnya daerah luar Jawa,   peristiwa Tanjung Morawa yang merupakan
                                                                                                                                                  agar posisi mereka dengan Jakarta bisa lebih   salah satu peristiwa awal dari usaha Reforma
                                                                                                                                                  berimbang. Basis suara Masyumi pun terletak di   Agraria menjadi bagian dari alasan penolakan
                                                                                                                                                  luar Jawa, khususnya di Sumatera dan bagian-   ini. Tanjung Morawa merupakan  lahan  yang

                                                                                                                                                  bagian tertentu pulau Sulawesi dan Jawa,       dihuni oleh petani ‘liar’ dari Tiongkok dengan
      Presiden Sukarno menunjuk Burhanuddin
      Harahap S.H. sebagai kabinet formateur pada                                                                                                 mengikuti kawasan-kawasan Islam modern         dukungan dan perlindungan organisasi petani
      tanggal 8 Juli 1953.
                                                                                                                                                  seperti di Sumatera Barat. Sebagian dari tokoh-  PKI, BTI. Usaha pemerintah untuk merelokasi
      Perpustakaan Nasional Republik Indonesia                                                                                                    tokoh  utama  Masyumi  pun merupakan  orang-   petani-petani ini mengakibatkan  bentrokkan
                                                                                                                                                  orang muslim Sumatera, seperti Mohammad        dengan korban jiwa. Peristiwa ini mengakibatkan
                                                                                                                                                  Natsir  dan KH  Muhammad  Isa  Ansyari dari    kejatuhan Kabinet Wilopo. Masyumi melihat
                                                                                                                                                  Padang, walaupun ada orang-orang Jawa seperti   peristiwa ini sebagai perlawanan orang asing
                                                                                                                                                  Sukiman Wirjosandjojo dan Jusuf Wibisono.      terhadap pemerintahan yang sah dengan
                                                                                                                                                                                                 dukungan oleh pihak Komunis. Mengingat
                                                                                                                                                  Karir  politik  Burhanuddin  semakin  menanjak
                                                                                                                                                                                                 salah satu pendukung utama Masyumi adalah
                                                                                                                                                  pada masa setelah kejatuhan Kabinet Perdana
                                                                                                                                                                                                 ulama  dari  Sumatera  yang  juga  pemilik  lahan,
                                                                                                                                                  Menteri  Wilopo.  Periode  antara  kejatuhan
                                                                                                                                                                                                 peristiwa Tanjung Morawa dengan keterlibatan
                                                                                                                                                  PM Wilopo dan  pengangkatan Kabinet Ali
                                                                                                                                                                                                 dengan orang-orang Tionghoa asing serta kaum
                                                                                                                                                  adalah krisis kabinet pertama Indonesia.
                                                                                                                                                                                                                                           19
                                                                                                                                                                                                 Komunis menjadi posisi prinsipil ideologis.
                                                                                                                                                  Selama tiga bulan dari April sampai akhir Juli
                                                                                                                                                                                                 Posisi ini tidak diambil oleh PNI sehingga
                                                                                                                                                  1953, Indonesia tidak memiliki pemerintahan.
                                                                                                                                                                                                 menyulitkan proses pembentukkan formatur
                                                                                                                                                  Posisi Burhanuddin sebagai sosok yang relatif
                                                                                                                                                                                                 pemerintah.
                                                                                                                                                  netral dan dianggap tidak ambisius menjadi
                                                                                                                                                  keuntungan bagi dirinya. Pada awalnya Mukarto   Untuk menghindari  stalemate, pada bulan

                                                                                                                                                  Notowidigdo, yang merupakan Menteri Luar       Juli 1953 Sukarno meminta Masyumi untuk
                                                                                                                                                  Negeri dalam Kabinet Wilopo dan anggota partai   menunjuk formatur kabinet. Dewan Eksekutif
                                                                                                                                                  PNI, ditunjuk oleh Presiden Sukarno untuk      Masyumi  meminta  Burhanuddin,  yang  pada
                                                                                                                                                  membentuk kabinet. Mukarto menempatkan         waktu itu masih menjabat sebagai ketua Fraksi
      Presiden Sukarno menunjuk Burhanuddin                                                                                                       satu  orang  Masyumi,  Jusuf  Wibisono  dalam   Masyumi di Parlemen, sebagai formatur.
      Harahap S.H. sebagai kabinet formateur pada
                                                                                                                                                  kabinetnya, tetapi hal ini ditentang oleh Masyumi.   Burhanuddin mengingat proses pengangkatan
      tanggal 8 Juli 1953.
                                                                                                                                                  Presiden Sukarno menginginkan sebuah kabinet   ini sebagai sebuah proses yang amat rumit
      Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                                                                                                                                                  bersatu dengan melibatkan PNI dan Masyumi.     dari Dewan Pimpinan  Partai Masyumi di




                           388   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  389
   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405