Page 403 - Perdana Menteri RI Final
P. 403

rumah Faqih Usman. Ketika ada keputusan   pandangan  soal  urusan  Reforma  Agraria   Sumatera pro-Masyumi berhadapan langsung   dukungan TNI. PP no. 35 akan menempatkan
 rapat untuk mengangkatnya sebagai formatur,   di Sumatera Timur atau peristiwa Tanjung   dengan petani dan buruh tani dari Jawa yang   militer dibawah Kementerian Pertahanan dan

 ia kaget dan berkeberatan, khususnya karena   Morawa, permasalahan sumber minyak di   pro-PNI.   sehingga mengurangi otonomi dari TNI, yang
 usianya yang muda yaitu 36 tahun. Dalam   Sumatera Utara, serta kebijakan luar negeri   semenjak Revolusi Kemerdekaan beroperasi
               Perpecahan  antara  PNI  dan  Masyumi  juga
 formasi yang dibentuk oleh Burhanuddin, Jusuf   antara Moskow dan  San Francisco  yang   seolah di luar negara.
               terwujud dalam perbedaan posisi partai terhadap
 Wibisono, mantan Menteri Keuangan pada   berkaitan dengan penandatangan  Mutual
               TNI. Masyumi mendukung posisi dari Kepala       Pada Desember 1954, pengurus Masyumi baru
 24
 Kabinet Sukiman (April 1951–April 1952), akan   Security Act dengan Amerika Serikat.  Tampak
               Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution; seorang   dilantik dengan Mohammad Natsir kembali
 diangkat sebagai Perdana Menteri dari Masyumi   bahwa permasalahan-permasalahan utama yang
               Batak dari Sumatera yang memiliki kepercayaan   menjadi Ketua Umum dengan didampingi
 sementara Ali  Sastroamidjojo  akan  diangkat   tidak bisa dijembatani ini bersifat ideologis dan
               Islam kuat dengan pandangan profesional dan     dua wakil ketua; Sukiman Wirjosandjojo dan
 sebagai Wakil Perdana Menteri dari Fraksi   menyangkut posisi Indonesia dalam Perang
               aspirasi memodernkan TNI. Nasution juga         Kasman Singodimedjo. Burhanuddin Harahap
 20
 PNI.    Dingin. Penandatanganan MSA oleh Perdana
               merupakan salah satu pendukung utama doktrin    menjadi anggota dari pengurus baru tersebut,
 Menteri Sukiman di San Fransisco merupakan
 Sebuah artikel di surat kabar  Pemandangan   pernyataan  akan  ketidak-netralan  Republik   territorial TNI yang memberi otonomi lebih   beserta Mohammad Roem, Jusuf Wibisono,
 menyatakan bahwa Burhanuddin merupakan   dalam Perang Dingin. MSA diiming-imingi   terhadap pimpinan militer daerah dan sehingga   Prawoto Mangkusasmito, dan Sjafruddin
 pilihan yang paling baik karena ia tidak   bantuan militer serta perjanjian perlindungan   membatasi kontrol Jakarta. Otonomi  ini   Prawiranegara.  Burhanuddin  merupakan
 ambisius dan sehingga tidak akan memikirkan   keamanan dibawah militer AS. Jatuhnya   memungkinkan perwujudan kebijakan agraria di   seorang yang relatif masih muda pada waktu

 kepentingan dirinya. Sementara surat kabar   pemerintahan  Sukiman  yang  didominasi  daerah, khususnya Sumatera, yang lebih kondusif   itu. Ia juga orang yang tidak terlibat dalam
 Merdeka berkata bahwa posisi Burhanuddin   oleh Masyumi menandakan perpecahan yang   terhadap keinginan Masyumi. Kedekatan   perseturan antara klik Mohammad Natsir dan
 netral dan bukan bagian dari klik Natsir ataupun   mendalam antara Sayap Kanan–Masyumi dan   pimpinan militer terhadap elit sipil daerah di   Sukiman  Wirjosandjojo,  walaupun  ia cukup
 Sukiman. Ia juga dikatakan sebagai seorang   PSI yang cenderung pro-Amerika–dengan   Sumatera mendukung kebijakan territorial   dekat secara pribadi dengan Mohammad
                                                                     25
 21
 yang jujur dan berniat baik.  Tetapi pada akhir   Sayap  Kiri  Parlemen–PNI  serta  partai-partai   dan posisi Nasution dalam militer. Kedekatan   Natsir.  Kejatuhan Kabinet Wilopo yang
 Juli, Burhanuddin terpaksa menghadap Sukarno   kiri, kadang termasuk PKI, yang mendorong   pimpinan-pimpinan militer daerah, khususnya   merupakan Kabinet Bersama antara PNI
 untuk menyerahkan kembali mandat sebagai   pendirian  netralitas  yang  didukung oleh   daerah militer di Sumatera terhadap partai dan   dan Masyumi serta pengangkatan Kabinet
 formatur di Istana Negara Bogor karena sulitnya   Sukarno. Selain permasalahan kebijakan luar   tokoh Masyumi inilah yang memungkinkan   Ali Sastroamidjojo yang merupakan kabinet
 perundingan dengan PNI dalam membentuk   negeri, perbedaan signifikan lainnya adalah   mereka beserta PSI melancarkan pemberontakan   PNI tanpa Masyumi dan PSI menandakan
 22
 pemerintahan.  Ia mengatakan bahwa “Bung   kecendrungan  Masyumi  untuk  berpihak  PRRI  di  Sumatera  pada  akhir  tahun  1950an.   perubahan dalam keseimbangan kekuasaan
 Karno tampak kaget melihat saya begitu cepat   kepada kelompok-kelompok ningrat dan ulama   Oleh karenanya, salah satu mosi pertama yang   parlemen  menjelang  pertengahan  tahun
 menyerahkan mandatnya. Ia minta supaya saya   yang cenderung merupakan kelompok pemilik   diajukan oleh Burhanuddin sebagai ketua   1950an. Kabinet Ali merupakan kabinet koalisi
 mau  melanjutkan perundingannya dengan   lahan di Indonesia. PNI punya pendirian yang   Fraksi  Masyumi  pada  masa  Pemerintahan  Ali   yang melibatkan banyak partai tetapi memiliki
 ambivalen dalam hal ini, tetapi ada kecendrungan   Sastroamidjojo Pertama adalah permintaan   oposisi  yang  cukup  berat  dalam  koalisi
 PNI. Tapi saya menangkap di balik kata-
 dari kalangan mereka untuk menyokong petani   penarikan Peraturan Pemerintah no. 35 yang   Masyumi-PSI. Partai yang paling diuntungkan
 katanya itu Bung Karno tidak memperlihatkan
 kesungguhannya untuk membantu saya dalam   tak berlahan dalam menyelesaikan permasalahan   berimplikasi pada pemberian sanksi terhadap   dalam struktur parlemen macam ini adalah
 Reforma  Agraria.  Dalam  hal  ini,  PNI  sering   mereka yang terlibat dalam Peristiwa 17 Oktober   PKI yang bisa mendorong konsesi dari PM Ali
 meyakinkan PNI. Dari itu, mandat tetap saya
 23
 kembalikan.”    mendapat dukungan PKI serta partai-partai kiri   1952, saat Nasution mengerahkan tentara TNI   karena lemahnya pemerintahannya vis-a-vis
 fringe lainnya. Permasalahan Reforma Agraria   untuk mengarahkan moncong senjata mereka   oposisi. PKI seolah dianggap sebagai sekutu
 Menurut formatur PNI, S. Hadikusumo,   menjadi isu yang sangat sensitif khususnya di   ke Istana Negara dengan harapan meyakinkan   dari pemerintah dan hal ini meninggikan prestis
 permasalahan utama penolakan PNI menjadi   Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara).   Sukarno untuk membubarkan Parlemen dan   mereka. Menguatnya PKI mengkhawatirkan
 bagian dari Kabinet karena adanya perbedaan   Di wilayah ini golongan aristokrat dan ulama   mengangkat diri sebagai diktator dengan   Angkatan Darat yang semenjak Revolusi





 390  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  391
   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407   408