Page 426 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 426

sejak abad ke-17 sampai awal abad       Haramayn kelihatannya tidak menyusut.                       Darat al-Samarani (Semarang), Hasan,   aspek esoteris; baik tasawuf falsafi
            ke-20 sebagai “ashab al-Jawiyyin”, yang   Konsolidasi kolonial pada abad ke-19                      Mustafa Bandung, Muhammad Mahfuz       maupun tasawuf `amali. Kontroversi
            datang tidak harus dari Jawa, tetapi bisa   yang menimbulkan perlawanan seperti                     al-Termasi (Termas, Jawa Timur).       yang sudah cukup klasik mengenai
            dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi,     Perang Diponegoro atau Perang Padri                                                                kedua corak tasawuf ini juga mewarnai
            Semenanjung Malaya, dan bahkan          hanya memberikan dorongan lebih                             Peranan “ashab al-Jawiyyin” atau       wacana intelektual; memunculkan
            Patani, yang kini termasuk wilayah      besar (push factor) bagi pengembaraan                       murid-murid Jawi jebolan Haramayn      diskusi intens tentang “wujudiyyah
            negara Thailand.                        menuntut ilmu ke Tanah Suci.                                in dalam wacana intelektual dan        muwahhid” dan “wujudiyyah mulhid”.
                                                    Sebagaimana diungkapkan Hamka                               gerakan Islam di Asia Tenggara sangat   Pada akhirnya, “wujudiyyah muwahhid”
            Kebangkitan “ashab al-Jawiyyin” di      dalam Ajahku banyak kalangan Padri                          penting. Mereka sangat instrumental    atau tasawwuf yang menekankan
            Haramayn (Makkah dan Madinah)—          yang dikalahkan Belanda mengirim                            dalam kebangkitan intelektualisme      transendensi Tuhan di atas segala
            sebagaimana telah penulis ungkapkan     anak-kemenakan mereka ke Makkah                             Islam di Kepulauan Nusantara secara    makhluk, kesesuaian dengan syariah,
            secara panjang lebar dalam Jaringan     untuk menuntut ilmu termasuk                                keseluruhan setidaknya sejak abad ke-  peningkatan akhlak dan amal berhasil
            `Ulama, berkaitan dengan semakin        misalnya yang kemudian menjadi                              17. Dan, sejak abad ke-17 sampai akhir   mencapai supremasinya di atas
            meningkatnya jumlah para penuntut       terkenal seperti Ahmad Khatib al-                           abad ke-19 kita melihat kontinuitas dan   “wujudiyyah mulhid”, atau tasawuf
            ilmu yang datang dari bilad al-Jawa     Minangkabawi.                                               perubahan dalam wacana intelektual     yang menekankan immanensi Tuhan,
            ke Haramayn sejak awal abad ke-                                                                     dan gerakan yang bersumber dari        dan cenderung sangat filosofis dan
            17. Peningkatan itu dalam banyak        Argumen terakhir ini dapat dilihat                          mantan murid-murid Jawi sebagai akibat   spekulatif.
            hal berkaitan dengan meningkatnya       dari murid-murid Jawi yang kemudian                         dari perubahan-perubahan yang terjadi
            kemakmuran di kerajaan-kerajaan         menjadi ulama terkemuka di Kepulauan                        di Haramayn sendiri dan Timur Tengah,   Pada segi lain, para ulama Jawi ini juga
            Islam di Kepulauan Nusantara yang       Nusantara dalam abad ke-ke abad                             dan juga di Kepulauan Nusantara        memainkan peranan penting dalam
            terlibat dalam perdagangan bebas        ke-. Dalam abad ke-17 kita mengenal                         sendiri.                               kebangkitan intelektualisme Islam
            internasional setidak-tidaknya sejak abad   nama-nama terkemuka seperti Hamzah                                                             Asia Tenggara dan bidang-bidang
            ke-15. Masa-masa inilah yang disebut    Fansuri, Nur al-Din al-Raniri, `Abd                         Dalam abad ke-17 kiprah ulama Jawi     eksoterik. Ini diwujudkan dengan
            sejarawan Antony Reid sebagai “masa     al-Ra’uf al-Singkili, Muhammad Yusuf                        lebih terpusat pada pengembangan       menulis karya-karya yang kemudian
            perdagangan”, the age of commerce       al-Maqassari; dalam abad ke-18 terdapat                     wacana intelektual daripada gerakan.   sangat monumental dalam bidang fiqh,
                                                    nama-nama terkenal seperti `Abd                             Meski begitu, wacana intelektual yang   tafsir, hadits dan lain-lain. Al-Raniri
            Perdagangan bebas ini menjadi           al-Samad al-Palimbani, Muhammad                             mereka kembangkan tak bisa tidak       misalnya menghasilkan karya al-Sirat
            terganggu sejak munculnya kolonialisme   Arsyad al-Banjari, Muhammad Nafis al-                      sangat mempengaruhi dinamika Islam     al-Mustaqim yang merupakan kitab
            Eropa di Kepulauan Nusantara, mulai     Banjari, Daud ibn `Abd Allah al-Patani;                     di Kepulauan Nusantara. Wacana         fiqh ibadah pertama dalam bahasa
            dengan Portugis pada awal abad ke-      kemudian abad ke-19 muncul `ulama-                          intelektual yang dikembangkan tokoh-   Melayu; al-Singkili menulis Mir’at al-
            16, yang kemudian disusul Belanda,      ulama seperti Ahmad Rifai Kalisalak,                        tokoh ulama Jawi seperti Hamzah        Tullah, kitab fiqh mu`amalah pertama
            Inggris dan lain-lain; tetapi hampir    Muhammad Nawawi al-Bantani,                                 Fansuri, ar-Raniri, al-Singkili, al-   dalam bahasa Melayu dan Tarjuman
            bisa dipastikan arus murid-murid        Ahmad Khatib Sambas, Ahmad Khatib                           Makassari mencakup dua aspek Islam     al-Mustafid yang merupakan tafsir
            Jawi yang datang menuntut ilmu ke       al-Minangkabawi, Muhammad Saleh                             yang tidak bisa dipisahkan. Pertama,   lengkap 30 juz pertama dalam bahasa



         414    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   415
   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430   431