Page 427 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 427
sejak abad ke-17 sampai awal abad Haramayn kelihatannya tidak menyusut. Darat al-Samarani (Semarang), Hasan, aspek esoteris; baik tasawuf falsafi
ke-20 sebagai “ashab al-Jawiyyin”, yang Konsolidasi kolonial pada abad ke-19 Mustafa Bandung, Muhammad Mahfuz maupun tasawuf `amali. Kontroversi
datang tidak harus dari Jawa, tetapi bisa yang menimbulkan perlawanan seperti al-Termasi (Termas, Jawa Timur). yang sudah cukup klasik mengenai
dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Perang Diponegoro atau Perang Padri kedua corak tasawuf ini juga mewarnai
Semenanjung Malaya, dan bahkan hanya memberikan dorongan lebih Peranan “ashab al-Jawiyyin” atau wacana intelektual; memunculkan
Patani, yang kini termasuk wilayah besar (push factor) bagi pengembaraan murid-murid Jawi jebolan Haramayn diskusi intens tentang “wujudiyyah
negara Thailand. menuntut ilmu ke Tanah Suci. in dalam wacana intelektual dan muwahhid” dan “wujudiyyah mulhid”.
Sebagaimana diungkapkan Hamka gerakan Islam di Asia Tenggara sangat Pada akhirnya, “wujudiyyah muwahhid”
Kebangkitan “ashab al-Jawiyyin” di dalam Ajahku banyak kalangan Padri penting. Mereka sangat instrumental atau tasawwuf yang menekankan
Haramayn (Makkah dan Madinah)— yang dikalahkan Belanda mengirim dalam kebangkitan intelektualisme transendensi Tuhan di atas segala
sebagaimana telah penulis ungkapkan anak-kemenakan mereka ke Makkah Islam di Kepulauan Nusantara secara makhluk, kesesuaian dengan syariah,
secara panjang lebar dalam Jaringan untuk menuntut ilmu termasuk keseluruhan setidaknya sejak abad ke- peningkatan akhlak dan amal berhasil
`Ulama, berkaitan dengan semakin misalnya yang kemudian menjadi 17. Dan, sejak abad ke-17 sampai akhir mencapai supremasinya di atas
meningkatnya jumlah para penuntut terkenal seperti Ahmad Khatib al- abad ke-19 kita melihat kontinuitas dan “wujudiyyah mulhid”, atau tasawuf
ilmu yang datang dari bilad al-Jawa Minangkabawi. perubahan dalam wacana intelektual yang menekankan immanensi Tuhan,
ke Haramayn sejak awal abad ke- dan gerakan yang bersumber dari dan cenderung sangat filosofis dan
17. Peningkatan itu dalam banyak Argumen terakhir ini dapat dilihat mantan murid-murid Jawi sebagai akibat spekulatif.
hal berkaitan dengan meningkatnya dari murid-murid Jawi yang kemudian dari perubahan-perubahan yang terjadi
kemakmuran di kerajaan-kerajaan menjadi ulama terkemuka di Kepulauan di Haramayn sendiri dan Timur Tengah, Pada segi lain, para ulama Jawi ini juga
Islam di Kepulauan Nusantara yang Nusantara dalam abad ke-ke abad dan juga di Kepulauan Nusantara memainkan peranan penting dalam
terlibat dalam perdagangan bebas ke-. Dalam abad ke-17 kita mengenal sendiri. kebangkitan intelektualisme Islam
internasional setidak-tidaknya sejak abad nama-nama terkemuka seperti Hamzah Asia Tenggara dan bidang-bidang
ke-15. Masa-masa inilah yang disebut Fansuri, Nur al-Din al-Raniri, `Abd Dalam abad ke-17 kiprah ulama Jawi eksoterik. Ini diwujudkan dengan
sejarawan Antony Reid sebagai “masa al-Ra’uf al-Singkili, Muhammad Yusuf lebih terpusat pada pengembangan menulis karya-karya yang kemudian
perdagangan”, the age of commerce al-Maqassari; dalam abad ke-18 terdapat wacana intelektual daripada gerakan. sangat monumental dalam bidang fiqh,
nama-nama terkenal seperti `Abd Meski begitu, wacana intelektual yang tafsir, hadits dan lain-lain. Al-Raniri
Perdagangan bebas ini menjadi al-Samad al-Palimbani, Muhammad mereka kembangkan tak bisa tidak misalnya menghasilkan karya al-Sirat
terganggu sejak munculnya kolonialisme Arsyad al-Banjari, Muhammad Nafis al- sangat mempengaruhi dinamika Islam al-Mustaqim yang merupakan kitab
Eropa di Kepulauan Nusantara, mulai Banjari, Daud ibn `Abd Allah al-Patani; di Kepulauan Nusantara. Wacana fiqh ibadah pertama dalam bahasa
dengan Portugis pada awal abad ke- kemudian abad ke-19 muncul `ulama- intelektual yang dikembangkan tokoh- Melayu; al-Singkili menulis Mir’at al-
16, yang kemudian disusul Belanda, ulama seperti Ahmad Rifai Kalisalak, tokoh ulama Jawi seperti Hamzah Tullah, kitab fiqh mu`amalah pertama
Inggris dan lain-lain; tetapi hampir Muhammad Nawawi al-Bantani, Fansuri, ar-Raniri, al-Singkili, al- dalam bahasa Melayu dan Tarjuman
bisa dipastikan arus murid-murid Ahmad Khatib Sambas, Ahmad Khatib Makassari mencakup dua aspek Islam al-Mustafid yang merupakan tafsir
Jawi yang datang menuntut ilmu ke al-Minangkabawi, Muhammad Saleh yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, lengkap 30 juz pertama dalam bahasa
414 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 415

