Page 549 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 549

Diskusi singkat di atas telah   “validitas ide-ide yang dikandung teks   antara ajaran yang diadopsi dari dunia   India dalam melihat hakikat wujud
 memperlihatkan peran penting kitab   ini hanya dapat diverifikasi dengan   luar dan kepercayaan lokal. Pemikiran   Tuhan dan hubugannya dengan alam.
 Taj al-Salathin dalam kajian sejarah umat   merujuk kepada berbagai historiografi   tasawuf falsafi Syaikh Siti Jenar secara   Mendamaikan syari‘at dengan tasawuf
 Islam di Nusantara. Beberapa contoh   tradisional—yang berbeda dengan Taj   substansial merupakan ajaran wahdat   merupakan karakter yang kuat dari
 yang diangkat dari sejarah kerajaan Aceh   al-Salathin—harus berbicara mengenai   al-wujud yang dikembangkan oleh   gerakan pemikiran neo-sufisme.
 abad ke-17 memperlihatkan keterkaitan   berbagai pengalaman historis dan   Ibn ‘Arabi, akan tetapi unsur-unsur   Transformasi ajaran ini ke Nusantara
 yang erat dengan pemikiran dan ajaran   ingatan-ingatan kolektif dari komunitas-  kepercayaan Jawa (kejawen) juga   dilakukan baik melalui jaringan
 yang diberikan oleh teks ini. Karena   komunitas politik tertentu.”  Dalam   mengambil peran. Hamzah Fansuri   intelektual para ulama dari Timur
 295
 naturnya yang berbentuk sastra dan   konteks ini, ide-ide yang dikandung   juga membawa ajaran mistiko-filosofis   Tengah, maupun melalui karya-karya
 ideal, karya ini tentu tidak ditujukan   dalam teks ini sesungguhnya   Ibn ‘Arabi ke Nusantara (tepatnya   mereka.
 sebagai sebuah sajian berbagai peristiwa   merefleksikan trend intelektual dan   Aceh). Syams al-Din al-Sumatrani juga
 masa lalu dalam bentuk apa pun.   arus-utama keagamaan pada saat itu;   mengimpor ajaran wahdat al-wujud   Pada ranah politik, proses transformasi
 Sebagai sebuah karya jenis “Cermin   dan karena naturnya yang universal, ia   ke Aceh, dengan mengadopsi konsep   terlihat lebih mulus dan damai. Upaya
 Raja-Raja”, ia dimaksud sebagai nasihat   juga masih relevan dan melampaui batas   martabat tujuh yang dikembangkan oleh   menerjemahkan konsep politik Islam
 dan petuah bagi para penguasa -- dan   tempat dan waktu.  Muhammad b. Fadhlillah al-Burhanpuri   yang berasal dari Timur Tengah
 siapa saja yang terlibat – dalam urusan   dari India.  terjadi secara bertahap dan variatif,
 kenegaraan. Namun, karya ini masih                 tergantung pada budaya politik lokal
 dapat memainkan peran penting dalam   Kata Akhir  Pola yang serupa juga ditemukan dalam   yang telah ada sebelumnya. Melaka
 merekonsruksi sejara umat Islam di   Paparan di atas telah memperlihatkan   trasnformasi pemikiran pembaruan   memperlihatkan bagaimana konsep
 Nusantara, termasuk Aceh.  tasawuf (neo-sufisme) ke Nusantara,   politik Islam diadopsi dengan masih
 dinamika pemikiran Islam Nusantara.   yang semuanya mengacu pada ajaran   mempertahankan kepercayaan dan
 Tidak diragukan lagi bahwa Taj al-  Sejarah intelektual Islam abad ke-17   ortodoksi ahl-sunnah wa al-jama‘ah.   budaya politik Melayu klasik. Penguasa
 Salathin merefleksikan trend intelektual,   mempertontonkan diskursus dalam   Baik al-Raniri, al-Singkili, maupun   Islam (sultan) dipercayai memiliki
 sosial, politik, dan agama pada   bidang tasawuf falsafi, ilmu kalam   al-Maqassari, semuanya mengajarkan   dimensi keislaman sebagai “wakil
 masanya. Dalam konteks ini ia mampu   (teologi), neo-sufisme (sebagai bentuk   keesaan Tuhan yang mutlak dan haqiqi,   Allah” di muka bumi (khalifat Allah)
 menyajikan kepada sejarawan konsep   pembaruan terhadap tasawuf) dan   dan menekankan transendensi Tuhan   dan/atau “bayangan Allah” di muka
 yang melatarbelakangi berbagai perilaku   politik. Masing-masing muncul dan   atas alam. Ajaran panteisme Ibn ‘Arabi   bumi (zhill Allah). Namun, konsep
 dan praktik di masa lalu. Sebagian   berkembang melaui proses adopsi dan   ditolak, meskipun beberapa elemen   tradisional Melayu pra-Islam, yaitu
 konsep yang ia tawarkan sesungguhnya   adaptasi terhadap ajaran dan trend   dari konsep wahdat al-wujud diterima,   daulat dan derhaka, masih dipertahankan.
 juga dapat ditemukan dalam berbagai   pemikiran yang datang. Karakteristik   seperti pancaran (emanasi) dan tajalli.   Tidak demkian halnya dengan kerajan
 historiografi tradisional, karya-karya   mistis masyarakat Nusantara   Namun, al-Maqassari lebih cenderung   Pasai dan Aceh, yang lebih berhasil
 para ulama, dan bahkan dalam beberapa   memberikan pengaruh besar terhadap   mengadopsi ajaran wahdat al-syuhud   memasukkan konsep Politik Islam ke
 sumber Eropa. Dalam hal imi, Abdullah   masuk dan berkembangnya ajaran   yang dikembangkan oleh Syekh Ahmad   dalam budaya politik mereka. Kerajaan
 dengan akurat menegaskan bahwa   tasawuf dengan warna campuran   Sirhindi dan Syah Waliyullah dari   Mataram terlihat masih enggan, atau



 536  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   537
   544   545   546   547   548   549   550   551   552   553   554