Page 547 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 547

masjid dengan takhta kerajaannya dan   berambisi menjadi raja [sultan].”    ratu; dan model singgasana yang   kudrati sa-puloh mutu, yang bertatahkan
 289
 kebesarannya dan raja perempuan itu   Dalam kondisi yang panas ini, akhirnya   digunakan juga disesuaikan dengan   ratna mutu manikam, dalam kelambu
 tiada harus,… 288  dicapai kesepakatan untuk menunjuk   ajaran ini.  rawa yang berpakankan emas, di-
 janda Iskandar Thani, yang juga putri              hadap segala raja2, dan para menteri,
 Kutipan ini penting, karena ia dapat   Iskandar Muda, sebagai ratu, dengan   Para penulis dan pengunjung Eropa
 membantu kita memahami kontroversi   gelar Taj al-‘Alam Shafiyyat al-Din   memaparkan kepada kita gambaran   dan segala anak isteri hulubalang
 yang menyelimuti pemerintahan   (memerintah, 1641-1675). Munculnya Taj   yang relatif jelas tentang hal ini.   sekalian, dan segala dayang2, perwara,
                                                                      293
 perempuan (ratu) di Aceh ketika itu dan   al-‘Alam di puncak kekuasaan menandai   Mengenai singgasana para ratu, secara   isi maligai sekalian.”  Paparan yang
 segala konsekuensi yang diakibatkan.   awal pemerintahan ratu di kerajaan ini,   umum, William Marsden menulis   serupa juga diberikan oleh sebuah
 Di sini bukan tempatnya untuk   yang berakhir pada tahun 1699, dengan   bahwa “sebuah gorden tipis digantung   rombongan utusan kerajaan Inggris yang
 mendiskusikan kontroversi mengenai   Ratu Kamalat Syah sebagai penguasa   di depannya, yang tidak mengganggu   menyaksikan langsung singgasana Ratu
 pemerintahan perempuan (ratu) di   perempuan yang terakhir.  Yang   audensi, akan tetapi tidak mungkin   Zakiyyat al-Din pada tahun 1684. Mereka
 290
 Aceh. Namun, beberapa contoh kecil   menarik juga adalah bahwa keberadaan   terlihat secara sempurna.”  Deskripsi   menulis:
                                    291
 dapat ditampilkan di sini untuk melihat   para penguasa perempuan ini, yang   yang lebih detail disajikan oleh Thomas   Berdampingan dengan ini [tempat
 bagaimana pengaruh Taj al-Salathin ini   berjumlah empat orang secara berturut-  Bowrey, sebagai saksi mata. Ketika   audiensi] terdapat sebuah ruang yang agak
 terhadap keberadaan pemerintahan   turut, juga mendapat restu (legitimasi)   melakukan audiensi dengan Ratu   tinggi dan terbuka tempat ratu duduk
 perempuan di kerajaan ini.  dari para ulama ketika itu, terutama   Shafiyyat al-Din, Bowrey menyaksikan   di atas sebuah singgasana yang terbuat

 Secara eksplisit Taj al-Salathin   Nur al-Din al-Raniri dan ‘Abd al-Ra’uf   ratu duduk di dalam singgasana yang   dari gading dan [kulit] kura-kura, dan ia
            berbentuk sebuah rumah ukuran kecil.
 menegaskan bahwa pemerintahan   al-Singkili.  Siapa saja yang hendak menghadap ratu   dikelilingi oleh para perempuan, dan di
 perempuan dibolehkan hanya pada   Contoh berikutnya dari praktik kerajaan   harus duduk menghadap rumah kecil   bagian bawah singgasana terdapat dua lagi
 kondisi darurat, yaitu ketika tidak ada   pada masa pemerintahan di bawah   tersebut. Gerakan sembah dilakukan   tempat duduk perempuan. Di depan ruang
 putra mahkota atau pewaris kerajaan   para ratu adalah model singgasana   melalui jendela. “Beliau ketika itu   ini terdapat sebuah gorden tipis yang tidak
 yang berjenis kelamin laki-laki. Adalah   yang digunakan, sesuai dengan   melihat kita,” tulis Bowrey, “meskipun   mengganggu proses audiensi akan tetapi
 benar bahwa krisis suksesi terjadi pada   anjuran yang diberikan oleh Taj al-  kita tidak dapat melihatnya.” 292  menghalangi penglihatan [kita] yang jelas
                                                                294
 tahun 1641 setelah wafatnya Iskandar   Salathin. Sebagaimana yang dikutip di   terhadap ratu.
 Thani, yang tidak meninggalkan pewaris   atas, teks secara eksplisit menegaskan   Gambaran ini sejalan dengan informasi   Para utusan ini juga mendeskripsikan
 laki-laki. Nicolaus de Graaf, yang ketika   bahwa seorang penguasa perempuan   yang diberikan oleh al-Raniri dalam   bahwa singgasan ratu dihiasi dengan
 itu sedang berada di Aceh, memberikan   tidak diperbolehkan muncul di depan   karyanya Bustan. Tokoh agama dan   emas, terutama di dalam sebuah galeri
 potongan informasi mengenai hal ini.   publik; dan ia juga tidak diperbolehkan   sejarawan ini memberikan deskripsi   yang berdekatan dengan singgasana.
 Orang Belanda ini mengatakan bahwa   melakukan tatap muka langsung dengan   singgasana Ratu Shafiyyat al-Din. Al-  Gambaran singkat ini, sekali lagi,
 ketika itu para Orang Kaya berperan   laki-laki. Hanya suaranya yang boleh   Raniri menulis bahwa “… Hadharat Yang   memperlihatkan bagaimana ajara-ajaran
 dalam menjerumuskan kerajaan ke   didengar. Ketentuan inilah yang diikuti   Di-muliakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala   yang dikandung di dalam Taj al-Salathin
 dalam krisis, karena “setiap mereka   dan dilakukan pada masa pemerintahan   pun semayam di atas singgasana emas   dipraktikan di Aceh saat itu.



 534  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   535
   542   543   544   545   546   547   548   549   550   551   552