Page 545 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 545

menegaskan bahwa jenis karya “Cermin   dapat memberikan jawaban yang   untuk prosesi kerajaan menuju ke mesjid   menjadi penguasa tertinggi kerajaan
 Raja-Raja” ini memainkan peran yang   pasti, dapat dikatakan di sini bahwa   di hari Jum‘at, ia dilakukan hanya oleh   (ratu) dalam situasi tertentu. Taj al-
 sangat signifikan “di saat negara sedang   krisis politik yang terjadi di kerajaan   penguasa laki-laki, bukan perempuan.   Salathin menegaskan sebagai berikut:
 menghadapi krisis…pergantian dinasti,   Aceh ketika itu menjadi salah satu   Memang, prosesi resmi kerajaan ini
 ancaman yang datang dari luar atau   pendorong lahirnya Taj al-Salathin ini.   dilaksanakan bukan di Aceh saja; ia   Maka nyatalah perempuan itu tiada
 disintegrasi di dalam.”  Hikmah dan   Pandangan ini bisa saja keliru, dan   juga telah mentradisi di hampir semua   dapat dijadikan raja melainkan pada
 285
 petuah yang diberikan berbentuk   dituduh terlalu menyederhanakan   kerajaan Islam di Nusantara, termasuk   ketika kesukaran soal, jika dalam suatu
 ideal dan, oleh karenanya, ia bersifat   masaalah. Namun, model khas dari   Pasai, Melaka, dan Mataram. Namun,   negeri mati rajanya, dan tiada seseorang
 “universal”, melampaui batas-batas   jenis karya ini sesungguhnya telah   kelihatannya hal ini dilakukan lebih   laki-laki daripada anak cucunya, dan
 waktu dan tempat. Karya jenis ini, yang   diperlihatkan oleh kitab Taj al-Salathin,   serius dan lebih besar lagi di Aceh   kaum keluarganya, melainkan perempuan
 merupakan warisan budaya Arab-  yaitu pertanyaan yang hipotetikal,   di mana aturan-aturan dan langkah-  juga, maka dapatlah dijadikan raja
 Islam dengan warna Persia yang kental,   yang tidak terdapat pada karya-karya   langkah yang detail dari tradisi ini   perempuan itu, sebab kesukaan segala
 banyak ditemukan di dunia Islam, di   lain jenis ini. Selanjutnya, pandangan   ditulis dalam panduan resmi (manual)   hamba Allah jangan jadi fitnah negeri
 antaranya adalah Qabus Namah karya   ini juga diperkuat oleh realitas sejarah   kerajaan, yang dikenal dengan Adat   Soal: Apa bedanya raja laki-laki dan raja
 Kayka’us (tahun 375 H/1092 M), yang   bahwa kerajaan Aceh setelah munculnya   Aceh.  Secara singkat dapat disebutkan   perempuan dalam takhta kerajaan?
                 287
 ditulis dalam bahasa Persia, dan Siyasat   karya ini cenderung mengikuti petuah   di sini bahwa tradisi melakukan berbagai   Jawab: Perbedaan raja laki-laki dan raja
 Namah, karya Nizam al-Muluk (wafat   dan ajaran yang diberikan. Berikut   prosesi dan perayaan kerajaan yang   perempuan itu maka laki-laki harus
 485 H/1092 M), yang juga dalam bahasa   dipaparkan secara singkat beberapa hal   terkait dengan agama Islam dianjurkan   duduk dihadap orang banyak, dan
 Persia. Sementara jenis karya ini yang   yang menunjukkan relevansi kitab ini   dalam kitab Taj al-Salathin, dibahas seara   raja perempuan haram dengan nyata
 ditulis dalam bahasa Arab, di antaranya,   dengan realitas sejarah Aceh.  detail di dalam manual kerajaan, yaitu   rupanya dilihat orang yang menghadap
 adalah Kitab Nasihat al-Muluk karya Abu   Adat Aceh, dan dipraktikkan dalam   melainkan di dalam tirai dari karena
 Hamid Muhammad al-Ghazali (wafat   Di antara poin yang secara eksplisit   sejarah.  fardhu atas itu menutup segala tubuhnya
 505 H/1111 M). Banyak lagi ditemukan   disebutkan dalam Taj al-Salathin adalah   melainkan mukanya dan kedua telapak
 karya-karya jenis ini yang ditulis dalam   anjuran bahwa pada setiap hari besar   Taj al-Salathin juga berbica mengenai   tangannya, itu pun dalam rumahnya
 berbagai bahasa dunia Islam lainnya,   Islam, terutama Hari Raya dan hari   kemungkinan perempuan sebagai kepala   dan pada ketika sembahyang jua dapat
 termasuk Urdu dari anak benua India,   Jum‘at, seorang penguasa laki-laki   negara. Pemerintahan ratu merupakan   membuka mukanya dan tangannya, itu
 dan Turki. Kitab Taj al-Salathin yang kita   diharuskan untuk melakukan prosesi   salah satu isu yang diangkat. Dengan
 286
 bahas di sini merupakan sebuah karya   kebesaran kerajaan menuju mesjid.    mengutip pandangan Imam al-Ghazali   pun hingga pergelangan tangan jua.
 jenis “Cermin Raja-Raja” versi Melayu   Praktik ini dilaksanakan oleh kerajaan   dalam karyanya Nashihat al-Muluk, Taj al-  Adapun suaranya raja perempuan harus
 (Nusantara), yang juga memperlihatkan   ini, di mana di setiap hari besar Islam   Salathin memberikan sepuluh kualifikasi   didengar orang supaya dikenal rakyatnya
                                                    ada rajanya atau tiada, maka perempuan
 pengaruh Arab (Islam) dan Persia.  dan hari Jum‘at sultan melakukan   seseorang untuk menjadi penguasa,
 prosesi kerajaan besar-besaran yang   yang salahsatunya adalah jenis kelamin   yang bukan raja itu haram didengar
 Apa yang ingin ditekankan di sini   dilengkapi dengan segala perangkat   “lelaki”, bukan perempuan. Namun, teks   orang yang helat akan suaranya. Maka
 adalah bahwa, meskipun kita tidak   dan simbol kebesaran kerajaan. Khusus   ini membolehkan perempuan untuk   raja laki-laki pada hari Jum‘at keluar ke



 532  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   533
   540   541   542   543   544   545   546   547   548   549   550