Page 541 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 541

penguasa disajikan, termasuk para Nabi,   al-Rahman (wakil Yang Maha Pengasih)   keniscayaan. Pertanyaan yang perlu   melihat mukanya pun tiada harus, karena
 seperti Yusuf, Dawud, Sulayman, Musa   dan zhill Allah fi al-‘alam atau al-ardh   diangkat di sini adalah sejauh mana   raja salah berpaling pada hukum Allah
 dan Muhammad. Beberapa nama para   (bayangan Allah di muka alam atau   batas loyalitas dan kepatuhan yang   ta‘ala, maka yang berpaling daripada hukum
 khalifah juga disebut, termasuk Abu   bumi) ketika merujuk kepada sultan.  harus ditunjukkan oleh rakyat? Apakah   Allah dan menyangkal syari‘at itu seteru
 Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali dan khalifah   seorang penguasa berhak mendapat   Allah ta‘ala dan seteru Rasul Allah. Maka
 dari dinasti Banu Umayyah, yaitu   Gelar-gelar yang disandang oleh   loyalitas dan kepatuhan tanpa syarat   haruslah kami berseteru dengan seteru
 ‘Umar b. ‘Abd al-‘Aziz.Teks kemudian   penguasa memberikan makna bahwa ia   (absolut) dari rakyatnya, seperti halnya   Allah ta‘ala itu. 275
 menegaskan bahwa para penguasa   tidak hanya memiliki otoritas “politik”   konsep yang ada di Melaka? Jawabannya
 (raja-raja) yang mengikuti jalan yang   akan tetapi juga otoritas “agama.”   dapat ditemukan dalam Taj al-Salathin   Memang, adalah sesuatu yang berada di
 ditempuh oleh semua wali Allah disebut   Namun, otoritas agama yang dimiliki   sendiri, yang memberikan pertanyaan   luar tradisi sebuah karya “Cermin Raja-
 dengan zhill Allah fi al-‘alam atau al-ardh   oleh penguasa tidak bermakna bahwa   hipotetikal, sebagai berikut:  Raja” untuk mengangkat pertanyaan-
 (bayangan Allah di muka bumi). 271  ia pemegang otoritas tertinggi dalam   pertanyaan hipotetikal, karena naturnya
 urusan keagamaan, karena otoritas   Adapun yang harus diikuti raja itu yang   yang teoritis dan ideal, bukan empiris.
 Banyak terdapat hadits yang   tertinggi dalam hal ini dimiliki oleh   mengikut hukum Allah ta‘ala dan hukum   Pertanyaannya adalah mengapa Taj al-
 menganjurkan kaum Muslimin untuk   ulama. Dengan kata lain, otoritas   Rasul Allah.  Salathin mengangkat isu yang bersifat
 mematuhi pemimpin mereka, sejak   keagamaan penguasa dimaknai   hipotetikal? Tidak mudah untuk
 dari yang menekankan bawa seorang   dari perspektif bahwa ia adalah   Soal: Jikalau raja itu tiada mengikut hukum   menemukan jawaban pasti mengenai
 penguasa merupakan zhill Allah fi   penanggungjawab pelaksanaan agama   Allah dan syari‘at Nabi, betapa engkau ikut   hal ini. Akan tetapi, melihat kondisi
 al-ardh sampai kepada yang melarang   Allah di wilayah kekuasaannya. Inilah   raja durhaka, dan jahil, dan kafir?  politik Aceh yang mengalami masa
 umat untuk membangkang dan   konsep yang dikenal dengan “otoritas   Jawab: Yang kami ikut segala raja-raja   krisis yang serius sebelum munculnya
 mengutuk pemimpin mereka.  Konsep   yang diberi sanksi agama” (religiously-  yang adil melakukan hukum Allah itu dua   karya ini (1602) barangkali tidak salah
 272
 kepemimpinan ini membutuhkan ajaran   sanctioned authority) yang dimiliki oleh   perkara, pertama, kami ikut perkataannya,   untuk ditegaskan di sini bahwa latar
 agama yang menekankan bahwa patuh   penguasa. Ini bermakna bahwa seorang   kedua, kami ikut segala kerjanya. Adapun   belakang historis sebelum lahirnya karya
 terhadap penguasa merupakan suatu   penguasa butuh terhadap ulama dalam   segala raja-raja yang salah itu kami ikut   ini sedikit banyak telah memberikan
 kewajiban yang harus dilaksanakan   urusan keagamaan. Hal inilah yang   katanya dalam takhta kerajaannya dan tiada   pengaruh terhadap berbagai pertanyaan
 setelah tunduk kepada Allah SWT dan   ditekankan dalam Taj al-Salathin bahwa   kami ikut kerjanya yang salah itu.  yang hipotetikal.
 Rasul-Nya. Ini adalah konsep yang   penguasa harus menghormati ulama   Soal: Adapun raja yang salah itu harus kita
 diformulasikan pada awal Islam dan   dan menjadikan mereka sebagai rujukan   menyangkal segala katanya dan kerjanya,   Pada akhir abad ke-16 Aceh mengalami
 diwujudkan dalam bentuk gelar yang   dalam persoalan keagamaan. 274  maka betapa kami ikut katanya itu?  satu dekade kekacauan politik,
 digunakan oleh penguasa dinasti                    tepatnya antara tahun 1579 dan 1589,
 Umayyah dan ‘Abbasiyyah, khususnya   Dengan kepemilikan kedua otoritas   Jawab: Maka kami ikut katanya itu karena   di mana hampir semua penguasa
 gelar khalifat Allah (wakil Allah).    dari seorang penguasa, yaitu otoritas   menolak fitnah dan fasad dalam negeri jua,   yang memerintah berakhir dengan
 273
 Atas dasar konsep otoritas inilah Taj   politik dan agama, maka sikap patuh   jikalau karena bukan kesukaran tiadalah   pembunuhan. Krisis suksesi bermula
 al-Salathin menggunakan gelar khalifat   dan loyal dari rakyat merupakan suatu   harus kami ikuti katanya dan kerjanya, dan   setelah wafatnya Sultan Husayn pada



 528  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   529
   536   537   538   539   540   541   542   543   544   545   546