Page 540 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 540
penguasa disajikan, termasuk para Nabi, al-Rahman (wakil Yang Maha Pengasih) keniscayaan. Pertanyaan yang perlu melihat mukanya pun tiada harus, karena
seperti Yusuf, Dawud, Sulayman, Musa dan zhill Allah fi al-‘alam atau al-ardh diangkat di sini adalah sejauh mana raja salah berpaling pada hukum Allah
dan Muhammad. Beberapa nama para (bayangan Allah di muka alam atau batas loyalitas dan kepatuhan yang ta‘ala, maka yang berpaling daripada hukum
khalifah juga disebut, termasuk Abu bumi) ketika merujuk kepada sultan. harus ditunjukkan oleh rakyat? Apakah Allah dan menyangkal syari‘at itu seteru
Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali dan khalifah seorang penguasa berhak mendapat Allah ta‘ala dan seteru Rasul Allah. Maka
dari dinasti Banu Umayyah, yaitu Gelar-gelar yang disandang oleh loyalitas dan kepatuhan tanpa syarat haruslah kami berseteru dengan seteru
‘Umar b. ‘Abd al-‘Aziz.Teks kemudian penguasa memberikan makna bahwa ia (absolut) dari rakyatnya, seperti halnya Allah ta‘ala itu. 275
menegaskan bahwa para penguasa tidak hanya memiliki otoritas “politik” konsep yang ada di Melaka? Jawabannya
(raja-raja) yang mengikuti jalan yang akan tetapi juga otoritas “agama.” dapat ditemukan dalam Taj al-Salathin Memang, adalah sesuatu yang berada di
ditempuh oleh semua wali Allah disebut Namun, otoritas agama yang dimiliki sendiri, yang memberikan pertanyaan luar tradisi sebuah karya “Cermin Raja-
dengan zhill Allah fi al-‘alam atau al-ardh oleh penguasa tidak bermakna bahwa hipotetikal, sebagai berikut: Raja” untuk mengangkat pertanyaan-
(bayangan Allah di muka bumi). 271 ia pemegang otoritas tertinggi dalam pertanyaan hipotetikal, karena naturnya
urusan keagamaan, karena otoritas Adapun yang harus diikuti raja itu yang yang teoritis dan ideal, bukan empiris.
Banyak terdapat hadits yang tertinggi dalam hal ini dimiliki oleh mengikut hukum Allah ta‘ala dan hukum Pertanyaannya adalah mengapa Taj al-
menganjurkan kaum Muslimin untuk ulama. Dengan kata lain, otoritas Rasul Allah. Salathin mengangkat isu yang bersifat
mematuhi pemimpin mereka, sejak keagamaan penguasa dimaknai hipotetikal? Tidak mudah untuk
dari yang menekankan bawa seorang dari perspektif bahwa ia adalah Soal: Jikalau raja itu tiada mengikut hukum menemukan jawaban pasti mengenai
penguasa merupakan zhill Allah fi penanggungjawab pelaksanaan agama Allah dan syari‘at Nabi, betapa engkau ikut hal ini. Akan tetapi, melihat kondisi
al-ardh sampai kepada yang melarang Allah di wilayah kekuasaannya. Inilah raja durhaka, dan jahil, dan kafir? politik Aceh yang mengalami masa
umat untuk membangkang dan konsep yang dikenal dengan “otoritas Jawab: Yang kami ikut segala raja-raja krisis yang serius sebelum munculnya
mengutuk pemimpin mereka. Konsep yang diberi sanksi agama” (religiously- yang adil melakukan hukum Allah itu dua karya ini (1602) barangkali tidak salah
272
kepemimpinan ini membutuhkan ajaran sanctioned authority) yang dimiliki oleh perkara, pertama, kami ikut perkataannya, untuk ditegaskan di sini bahwa latar
agama yang menekankan bahwa patuh penguasa. Ini bermakna bahwa seorang kedua, kami ikut segala kerjanya. Adapun belakang historis sebelum lahirnya karya
terhadap penguasa merupakan suatu penguasa butuh terhadap ulama dalam segala raja-raja yang salah itu kami ikut ini sedikit banyak telah memberikan
kewajiban yang harus dilaksanakan urusan keagamaan. Hal inilah yang katanya dalam takhta kerajaannya dan tiada pengaruh terhadap berbagai pertanyaan
setelah tunduk kepada Allah SWT dan ditekankan dalam Taj al-Salathin bahwa kami ikut kerjanya yang salah itu. yang hipotetikal.
Rasul-Nya. Ini adalah konsep yang penguasa harus menghormati ulama Soal: Adapun raja yang salah itu harus kita
diformulasikan pada awal Islam dan dan menjadikan mereka sebagai rujukan menyangkal segala katanya dan kerjanya, Pada akhir abad ke-16 Aceh mengalami
diwujudkan dalam bentuk gelar yang dalam persoalan keagamaan. 274 maka betapa kami ikut katanya itu? satu dekade kekacauan politik,
digunakan oleh penguasa dinasti tepatnya antara tahun 1579 dan 1589,
Umayyah dan ‘Abbasiyyah, khususnya Dengan kepemilikan kedua otoritas Jawab: Maka kami ikut katanya itu karena di mana hampir semua penguasa
gelar khalifat Allah (wakil Allah). dari seorang penguasa, yaitu otoritas menolak fitnah dan fasad dalam negeri jua, yang memerintah berakhir dengan
273
Atas dasar konsep otoritas inilah Taj politik dan agama, maka sikap patuh jikalau karena bukan kesukaran tiadalah pembunuhan. Krisis suksesi bermula
al-Salathin menggunakan gelar khalifat dan loyal dari rakyat merupakan suatu harus kami ikuti katanya dan kerjanya, dan setelah wafatnya Sultan Husayn pada
528 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 529

