Page 546 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 546

masjid dengan takhta kerajaannya dan    berambisi menjadi raja [sultan].”                           ratu; dan model singgasana yang        kudrati sa-puloh mutu, yang bertatahkan
                                                                                 289
            kebesarannya dan raja perempuan itu     Dalam kondisi yang panas ini, akhirnya                      digunakan juga disesuaikan dengan      ratna mutu manikam, dalam kelambu
            tiada harus,… 288                       dicapai kesepakatan untuk menunjuk                          ajaran ini.                            rawa yang berpakankan emas, di-
                                                    janda Iskandar Thani, yang juga putri                                                              hadap segala raja2, dan para menteri,
            Kutipan ini penting, karena ia dapat    Iskandar Muda, sebagai ratu, dengan                         Para penulis dan pengunjung Eropa
            membantu kita memahami kontroversi      gelar Taj al-‘Alam Shafiyyat al-Din                         memaparkan kepada kita gambaran        dan segala anak isteri hulubalang
            yang menyelimuti pemerintahan           (memerintah, 1641-1675). Munculnya Taj                      yang relatif jelas tentang hal ini.    sekalian, dan segala dayang2, perwara,
                                                                                                                                                                          293
            perempuan (ratu) di Aceh ketika itu dan   al-‘Alam di puncak kekuasaan menandai                     Mengenai singgasana para ratu, secara   isi maligai sekalian.”  Paparan yang
            segala konsekuensi yang diakibatkan.    awal pemerintahan ratu di kerajaan ini,                     umum, William Marsden menulis          serupa juga diberikan oleh sebuah
            Di sini bukan tempatnya untuk           yang berakhir pada tahun 1699, dengan                       bahwa “sebuah gorden tipis digantung   rombongan utusan kerajaan Inggris yang
            mendiskusikan kontroversi mengenai      Ratu Kamalat Syah sebagai penguasa                          di depannya, yang tidak mengganggu     menyaksikan langsung singgasana Ratu
            pemerintahan perempuan (ratu) di        perempuan yang terakhir.  Yang                              audensi, akan tetapi tidak mungkin     Zakiyyat al-Din pada tahun 1684. Mereka
                                                                           290
            Aceh. Namun, beberapa contoh kecil      menarik juga adalah bahwa keberadaan                        terlihat secara sempurna.”  Deskripsi   menulis:
                                                                                                                                       291
            dapat ditampilkan di sini untuk melihat   para penguasa perempuan ini, yang                         yang lebih detail disajikan oleh Thomas   Berdampingan dengan ini [tempat
            bagaimana pengaruh Taj al-Salathin ini   berjumlah empat orang secara berturut-                     Bowrey, sebagai saksi mata. Ketika     audiensi] terdapat sebuah ruang yang agak
            terhadap keberadaan pemerintahan        turut, juga mendapat restu (legitimasi)                     melakukan audiensi dengan Ratu         tinggi dan terbuka tempat ratu duduk
            perempuan di kerajaan ini.              dari para ulama ketika itu, terutama                        Shafiyyat al-Din, Bowrey menyaksikan   di atas sebuah singgasana yang terbuat

            Secara eksplisit Taj al-Salathin        Nur al-Din al-Raniri dan ‘Abd al-Ra’uf                      ratu duduk di dalam singgasana yang    dari gading dan [kulit] kura-kura, dan ia
                                                                                                                berbentuk sebuah rumah ukuran kecil.
            menegaskan bahwa pemerintahan           al-Singkili.                                                Siapa saja yang hendak menghadap ratu   dikelilingi oleh para perempuan, dan di
            perempuan dibolehkan hanya pada         Contoh berikutnya dari praktik kerajaan                     harus duduk menghadap rumah kecil      bagian bawah singgasana terdapat dua lagi
            kondisi darurat, yaitu ketika tidak ada   pada masa pemerintahan di bawah                           tersebut. Gerakan sembah dilakukan     tempat duduk perempuan. Di depan ruang
            putra mahkota atau pewaris kerajaan     para ratu adalah model singgasana                           melalui jendela. “Beliau ketika itu    ini terdapat sebuah gorden tipis yang tidak
            yang berjenis kelamin laki-laki. Adalah   yang digunakan, sesuai dengan                             melihat kita,” tulis Bowrey, “meskipun   mengganggu proses audiensi akan tetapi
            benar bahwa krisis suksesi terjadi pada   anjuran yang diberikan oleh Taj al-                       kita tidak dapat melihatnya.” 292      menghalangi penglihatan [kita] yang jelas
                                                                                                                                                                   294
            tahun 1641 setelah wafatnya Iskandar    Salathin. Sebagaimana yang dikutip di                                                              terhadap ratu.
            Thani, yang tidak meninggalkan pewaris   atas, teks secara eksplisit menegaskan                     Gambaran ini sejalan dengan informasi   Para utusan ini juga mendeskripsikan
            laki-laki. Nicolaus de Graaf, yang ketika   bahwa seorang penguasa perempuan                        yang diberikan oleh al-Raniri dalam    bahwa singgasan ratu dihiasi dengan
            itu sedang berada di Aceh, memberikan   tidak diperbolehkan muncul di depan                         karyanya Bustan. Tokoh agama dan       emas, terutama di dalam sebuah galeri
            potongan informasi mengenai hal ini.    publik; dan ia juga tidak diperbolehkan                     sejarawan ini memberikan deskripsi     yang berdekatan dengan singgasana.
            Orang Belanda ini mengatakan bahwa      melakukan tatap muka langsung dengan                        singgasana Ratu Shafiyyat al-Din. Al-  Gambaran singkat ini, sekali lagi,
            ketika itu para Orang Kaya berperan     laki-laki. Hanya suaranya yang boleh                        Raniri menulis bahwa “… Hadharat Yang   memperlihatkan bagaimana ajara-ajaran
            dalam menjerumuskan kerajaan ke         didengar. Ketentuan inilah yang diikuti                     Di-muliakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala   yang dikandung di dalam Taj al-Salathin
            dalam krisis, karena “setiap mereka     dan dilakukan pada masa pemerintahan                        pun semayam di atas singgasana emas    dipraktikan di Aceh saat itu.



         534    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   535
   541   542   543   544   545   546   547   548   549   550   551