Page 596 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 596

sebagai kerajaan universal. Selain itu,   menceritakan putra Arjuna, yakni                          Pada periode Majapahit, tepatnya pada   tersebut ditulis. Gejala ini tentu berbeda
            cerita perkawinan Arjuna tersebut       Abimanyu, yang menjalin hubungan                            periode Raja Hayamwuruk, ditulis juga   jika pengayom dalam aktivitas penulisan
            sekaligus merupakan bentuk proklamasi   asmara dengan Siti Sundari putri Kresna.                    sejumlah naskah kakawin oleh pujangga   naskah kakawin bukan raja, seperti yang
            Airlangga sebagai penguasa semesta      Hubungan Abimanyu dengan Siti                               keraton, seperti Arjunawijaya dan      berlangsung di lingkungan asrama atau
            yang universal (Ras 2014, 161).         Sundari dalam cerita tersebutbterancam                      Surasoma oleh Mpu Tantular. Dalam      mandala.
                                                    gagal karena intervensi dari Baladewa,                      dua naskah kakawin tersebut, pujian
            Sementara itu, dalam naskah Hariwangsa                                                              ditujukan kepada Buddha yang tertinggi.  Dalam konteks Jawa kuno, kata asrama
            Mpu Panuluh dengan jelas dalam          tetapi dapat diselamatkan oleh                                                                     digunakan dalam dua pengertian.
            manggala atau mukadimah karyanya        Gatotkaca. Kakawin Gatotkacsraya                            Selain karya Mpu Tantular, pada        Pertama, sebagai pertapaan untuk
            itu mengatakan bahwa penulisan          tampak dipersembahkan kepada Raja                           periode Majapahit juga ditulis kakawin   menjalani kehidupan asketik dan kedua,
            kakawinnya itu didasarkan atas perintah   Jayakerta yang diidentikkan dengan Raja                   Negarakertagama oleh Rakawi Prapanca   sebagai tatanan kehidupan seorang
            Raja Jayabaya (Sedyawati dkk, 2001: 36).   Kertajaya (Ras 2014, 173).                               pada masa pemerintahan Hayamwuruk.     brahmana yang mencakup empat
            Lebih dari sekadar penguasa, raja dalam   Selain tiga kakawin tersebut di atas,                     Dalam kakawin tersebut, pengarang      tahapan kehidupan yang harus dilalui
            beberapa hal juga dianggap sebagai guru   kajian Ras (Ras 2014, 176–77) terhadap                    menjelaskan tujuan penulisannya untuk   oleh seorang brahmana (Ras, 2014: 186).
            bagi para pujanga. Berkaitan dengan itu,   sastra Jawa Kuno juga memperlihatkan                     raja di Wilwatikta sebagai inkarnasi
            Mpu Panuluh dalam Hariwangsa juga                                                                   Dewata yang menjaga tatanan alam dan   Selain asrama, di Jawa kuno juga terdapat
            mengatakan bahwa ia masih dalam tarap   sejumlah kakawin lain yang berasal                          mengusir unsur-unsur jahat. Dalam      lembaga pendidikan yang diasuh oleh
            belajar kepada raja mengenai segi-segi   dari lingkungan keraton yang juga                          Negarakertagama anggota kerajaaan juga   seorang dewaguru atau guru agama, yaitu
            keindahan dalam menulis (Zoetmulder     memperlihatkan relasi pengayom-                             disebut, ibu kota kerajaan digambarkan,   lembaga mandala. Di lembaga tersebut,
            1983: 583).                             pengarang. Dalam hal ini adalah                             dan semua daerah bawahan dijelaskan    para murid harus taat kepada sang guru.
                                                    kakawin Smaradahana karya Mpu                                                                      Para murid juga harus mencari nafkah
            Selain itu, Jayabaya dalam Hariwangsa   Darmaja yang dipersembahkan                                 (Ras, 2014: 179-180).                  sendiri untuk memenuhi kebutuhan
            bukan hanya sebagai pengayom,           kepada dewa asmara yang dikenal                             Sejumlah naskah kakawin yang ditulis   hidupnya sendiri dan kebutuhan
            tetapi juga disebut sebagai manifestasi   sebagai Kameswara. Dalam konteks                          oleh pujanga keraton di atas dengan    gurunya melalui usaha pertanian.
            dari Wisnu dan disebut sebagai          ini yang dimaksud adalah Kameswara                          jelas memperlihatkan relasi pengarang-  Jika murid sudah dinilai mumpuni,
            Dharmeswara, sosok yang mengausai       II, Raja Kediri yang hidup pada                             pengayom dengan kecenderungan yang     maka sang murid dapat diinisiasi oleh
            dharma, sehingga terhubungkan dengan    tahun 1182-1185; Sumasantaka, yang                          menunjukkan bahwa apa yang ditulis     gurunya sebagai wiku atau rohaniwan.
            Yudhistira, seorang kesatria tertua     ditulis oleh Mpu Monaguna, yang                             oleh pujangga keraton adalah untuk     Selanjutnya, murid yang dinilai sebagai
            Pandawa, sebagai putra Dharma (Ras,     dipersembahkan kepada dewa yang                             dipersembahkan ke pengayomnya          wiku tersebut dapat mendirikan mandala
            2014: 172).                                                                                                                                baru (Ras, 2014: 187).
                                                    merupakan awal dan akhir keindahan;                         yang dalam hal ini adalah raja.
            Selain Hariwangsa, karya lain dari Mpu   Bhomakawya atau Bhomantaka,                                Kalaupun di sebagian naskah ada yang   Melihat dua pengertian kata asrama di
            Panuluh yang memperlihatkan relasi      yang dipersembahkan kepada                                  dipersembahkan kepada dewa, maka hal   atas, dan melihat lembaga pendidikan
            pengarang-pengayom juga tampak pada     pengejawentahan puisi dan sekaligus                         itu pun dihubungkan dengan raja yang   mandala, tidak menghernakan jika
            Ghatotkacasraya. Dalam kakawin tersebut   inkarnasi dewa asmara.                                    berkuasa pada masa naskah kakawin      naskah-naskah yang Jawa yang



         584    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   585
   591   592   593   594   595   596   597   598   599   600   601