Page 594 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 594
dirinya (mukashafah), catur warna (hitam, menghakimi faham mistik Haji Ahmad pengayom terhadap seluruh rakyatnya, mukaddimah naskah-naskah Jawa yang
merah, kuning, dan putih), satu nyala Mutamakin sebagai heterodoks, sesat, termasuk para pengarang dan pendeta ditulis di kraton sering secara eksplisit
berwarna delapan, dan boneka gading. dan bertentangan dengan syariat Islam yang hidup dalam lingkaran kraton berisi puji-pujian kepada raja dan
Semua hal yang disaksikan Werkudara (Soebardi 1975, 41). (Sedyawati 2001, 40). dimaksudkan untuk pengabdian kepada
tersebut kemudian ditafsirkan dan raja.
dijelaskan oleh Dewa Ruci sebagai Tentu saja, motif akhir cerita dalam Serat Posisi raja yang demikian sentral
ajaran-ajaran ilmu hakikat, termasuk Cabolek ini berbeda dengan kasus-kasus dalam sistem kekuasan di Jawa, dalam Berkaitan dengan relasi pengayom
soal hubungan ontologis antara Tuhan pengkafiran terhadap ajaran mistik arti sebagai pengayom bagi seluruh dengan pengarang/penyalin naskah,
dan manusia (Nasuhi 2009, 180–81). tokoh-tokoh lain, seperti Shaykh Siti rakyatnya di atas dengan sendirinya dalam kakawin Arjunawiwaha, Mpu
Jenar, Sunan Panggung, Ki Bebeluk, dan membawa implikasi pada pertumbuhan Kanwa mengatakan bahwa kakawin
Dalam Serat Cabolek, motif penghakiman Shaykh Among Raga, yang kesemuanya tradisi pernaskahan di lingkungan karyanya itu ditulis untuk sebagai
ajaran Haji Ahmad Mutamakin sebagai berakhir dengan pembunuhan terhadap kraton di mana raja menjadi patron bagi bentuk penghormatan kepada Raja
ajaran heterodoks dan sesat memang tokoh-tokoh utamanya. para penulis/penyalin naskah. Oleh Airlangga. Dalam bait-bait di bagian
tidak diakhiri dengan pembunuhan karena itu, tidak mengherankan jika mandala, Mpu Kanwa menjelaskan
terhadap tokoh utamanya, meski Selain melibatkan peran pengarang dan kraton pun dalam sejarah peradaban mengenai siapa yang menjadi
hal itu sempat diusulkan oleh Ketib penyalin, tradisi penulisan manuskrip di Jawa bukan semata-mata sebagai pelindung karyanya. Pelindung
Anom Kudus kepada Raja Kartasura Jawa melibatkan aspek lain yang juga pusat politik pemerintahan, tetapi juga tersebut digambarkan sebagai sosok
Paku Buwana II. Dalam hal ini, sang sangat berpengaruh terhadap produksi menjadi pusat pernaskahan Jawa. yang arif bijaksana yang sudah
Raja memberikan ampunan kepada dan reproduksi manuskrip Jawa; dalam terlepas dari ambisi keduniaan, tetapi
Haji Ahmad Mutamakin dengan hal ini adalah aspek kepengayoman. Jika Tidak dapat dimungkiri, keberadaan raja tetap menginginkan kekuasaan demi
catatan bahwa ia tidak diperkenankan melihat sejumlah manuskrip Jawa kuno sebagai pengayom bagi para penulis/ kesejahteraan umat manusia (Ras 2014,
lagi menyebarkan ajaran tersebut yang berhasil ditemukan, tampak bahwa penyalin naskah mampu menciptakan 156). Lebih jauh lagi, pelindung yang
kepada Muslim awam kebanyakan. penulisan manuskrip Jawa tidak dapat hubungan simbiosis mutualisme antara dimaksud oleh Mpu Kanwa disamakan
Tampaknya, pengarang Serat Cabolek, dilepaskan dari aspek kepengayoman raja dan penulis/penyalin naskah dengan Arjuna, seorang kesatria
yakni Yasadipura I, yang notabene yang berkaitan erat dengan konsep kraton. Dalam hal ini, raja memfasilitasi Pandawa yang mampu mengalahkan
adalah seorang Pujangga Kraton, ingin kekuasaan, baik kekuasan yang sifatnya kebutuhan hidup para penulis/penyalin raja raksasa yang mengancam Indraloka.
menekankan kebaikan sang Raja dalam politik maupun kultural. Dalam konteks kraton, termasuk menyediakan sarana
memberikan ampunan kepada mereka Jawa, kekuasaan raja merupakan tulis-menulis naskah, sedangkan para Dari segi isi, kakawin Arjuna Wiwaha
yang dianggap bersalah. Kendati manifestasi dari kekuasaan dewa, yang penulis/penyalin kraton mengabdi yang menceritakan perkawinan
demikian, motif Serat Cabolek ini jelas dikenal sebagai konsep Dewaraja atau kepada raja melalui karya-karya tulisnya, Arjuna dengan isitri-istri dari
menunjukkan superioritas ajaran Raja-Dewa, sebuah konsep kekuasaan sehingga dalam banyak hal naskah- kayangan yang dihubungkan dengan
Islam ortodoks dengan menempatkan yang bersumber dari ajaran Tri-Purasa naskah yang dihasilkannya memang upacara perkawinan Airlangga
Ketib Anom Kudus, dengan dukungan (Brahma-Wisnu-Siwa). Bertolak dari untuk melayani kepentingan raja. Oleh yang diumpamakan sebagai Indra
Penguasa, sebagai pahlawan, dan konsep tersebut, raja merupakan karena itu, tidak mengherankan dalam di Kayangan yang menguasai Jawa
582 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 583

