Page 589 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 589

Saya mempunyai keyakinan bahwa   lain—seperti ‘Umdat al-muḥtajin, Sullam   Abdurrauf lebih suka dan lebih   kesalahfahaman itulah, Abdurrauf
 teks asli Tanbih al-mashi tersebut ditulis   al-mustafidin dan Daqa’iq al-ḥurūf—yang   terbiasa menulis serta berpikir dalam   kemudian menulis kitab Tanbih al-
 setelah tahun 1660, dan tidak lama   sudah dipastikan sebagai karangannya.  bahasa Arab daripada bahasa Melayu,   mashi ini sebagai sebuah penjelasan
 setelah Abdurrauf kembali dari tanah   khususnya Melayu Sumatra, karena   yang dimaksudkan untuk meluruskan
 Arab. Hal ini, terutama didasarkan   Ketika penelitian atas Tanbih al-mashi ini   terlalu lamanya ia tinggal di tanah Arab,   pemahaman keliru berkaitan dengan
 pada dua hal. Pertama, dalam teks   saya lakukan, informasi tentang karya-  sehingga untuk menulis karya-karyanya   doktrin wahdatul wujud tersebut. Azra
 ini, Abdurrauf secara eksplisit   karya Abdurrauf yang berbahasa Arab   dalam bahasa Melayu, Abdurrauf selalu   (Azra 1994, 199), meyakini bahwa
 menyebutkan tanggal wafat gurunya,   juga belum banyak diketahui, sehingga   dibantu oleh dua guru bahasa Melayu   ‘seseorang’ yang dimaksud dalam
 al-Qushashi, yaitu 19 Zulhijah 1071   saat itu saya sempat membuat sebuah   yaitu Katib Seri Raja, seorang sekretaris   catatan tersebut adalah utusan rahasia
 H, atau 16 Agustus 1660 M. Itu berarti   kesimpulan awal bahwa Tanbih al-mashi   pribadi Sultanah Safiyatuddin, dan Faqih   Sultanah Safiatudin, seorang pejabat
 menutup kemungkinan ditulisnya   merupakan satu-satunya karangan   Indera Salih (Azra 1994, 201; Voorhoeve   istana, yang bernama Khatib Seri Raja b.
 teks ini sebelum tahun 1660. Kedua,   Abdurrauf yang ditulis seutuhnya dalam   1952, 89). Salinan manuskrip Tanbih   Hamzah al-Asyi.
 berdasar kajian yang telah saya lakukan   bahasa Arab. Akan tetapi, seiring dengan   al-mashi sendiri tersebar di mana-mana,
 (Fathurahman 1999), salah satu naskah   semakin digalakannya upaya inventarisasi,   baik dalam koleksi pribadi maupun   Tradisi penulisan dan penyalinan
 Tanbih al-mashi yang menjadi objek kajian   katalogisasi, dan penelitian atas naskah-  lembaga.  manuskrip keislaman di Aceh
 ini, disalin dari sebuah teks lain yang   naskah Nusantara, diketahui bahwa   sesungguhnya terus berlanjut,
 ditulis pada 1081/1670. Ini memberikan   setidaknya Abdurrauf memiliki satu karya   Penting juga diketahui bahwa latar   setidaknya hingga abad ke- ke-19
 kemungkinan telah ditulisnya teks   lain dalam bahasa Arab yang berjudul   belakang penulisan sebuah manuskrip   di masa Faqih Jalaluddin. Namun,
 Tanbih al-mashi sebelum tahun 1670.  Sharh al-mawahib al-mustarsalah ‘alá al-tuḥfah   terkadang dapat ditemui dalam salinan   dalam tulisan kali ini saya ingin
 al-mursalah (Behrend 1998, 6; Fathurahman   manuskrip tersebut. Dalam contoh   berhenti sampai tokoh Abdurrauf,
 Yang agak mengherankan adalah, Tanbih   and Holil 2007, 156). Tidak tertutup   manuskrip Tanbih al-masyi misalnya,   agar porsi tulisan bisa dipakai untuk
 al-mashi merupakan karya Abdurrauf   kemungkinan bahwa ada informasi lain   ada sebuah catatan yang ditemukan   mengemukakan tradisi penulisan dan
 yang paling sering tidak disebut atau   berkaitan dengan karya-karya Abdurrauf   pada salinan manuskripnya versi   penyalinan manuskrip di tempat-tempat
 didaftarkan dalam beberapa literatur   yang berbahasa Arab ini.  Dayah Tanoh Abee (Fakhriati 2008,   lainnya.
 tentang naskah-naskah karangannya.   82–83). Catatan tersebut menjelaskan
 Padahal, dibanding beberapa naskah   Memang, seperti terlihat dalam daftar   bahwa tidak lama setelah tiba di Aceh,   Secara umum, tentu kita bisa menyebut
 lain yang didaftarkan dalam Abdullah   karangan Abdurrauf, kebanyakan   Abdurrauf didatangi oleh seseorang   bahwa tradisi penulisan manuskrip
 1991 misalnya, Tanbih al-mashi lebih dapat   karyanya ditulis dalam bahasa Melayu.   yang beberapa kali menemuinya dan   keislaman Nusantara ini berlanjut di
 dipastikan sebagai karangan Abdurrauf,   Atau kalau pun ada yang berbahasa   mengemukakan pandangan-pandangan   tempat-tempat lainnya antara lain berkat
 selain karena disebutkan secara eksplisit   Arab, selalu disertai dengan bahasa   tentang wahdatul wujud, tetapi tidak   para ulama Melayu-Nusantara yang
 di bagian akhir teks, juga didukung oleh   Melayu. Sedikitnya karangan Abdurrauf   sesuai dengan pengetahuan doktrin   pernah belajar ilmu-ilmu keislaman di
 kenyataan bahwa ajaran tasawuf dalam   dalam bahasa Arab ini sebetulnya agak   wahdatul wujud yang ia terima dari kedua   Haramayn, dan dikenal sebagai bagian
 Tanbih al-mashi, sama dengan ajaran   mengherankan, karena—seperti pernah   gurunya, al-Qusyasyi dan al-Kurani.   dari jamaḥat al-Jawiyin (komunitas
 yang terkandung dalam naskah-naskah   dikeluhkan dalam salah satu karyanya—  Karena tidak ingin menanggung akibat   Jawi) di Mekah. Mereka antara lain:



 576  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   577
   584   585   586   587   588   589   590   591   592   593   594