Page 586 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 586

Islam, sehingga mereka yang tidak mau   ‘yad Allah fawqa aydihim’ (Tangan Allah                     ahli syariat pada zamannya (Simuh 1996,   Safiyatuddin (1641-1676). Al-Raniri
            bertobat dan menolak menanggalkan       di atas tangan mereka), pada hadis-                         139–58).                               melukiskan bahwa pada masa Sultan
            paham tersebut, dapat dianggap kafir,   hadis sifat Tuhan, seperti ‘al-hajar al-                                                           Iskandar Tsani, pihak Kesultanan pernah
            dan dijatuhi hukuman mati (Azra 1994,   aswad yamin Allah fi al-ard’ (Hajar Aswad                   Selain Fath al-mubin, karya al-Raniri   terlibat perdebatan dengan murid-murid
            182).                                   adalah tangan kanan Allah di bumi),                         lain yang dianggap sebagai salah       al-Sumatra’i yang dengan sangat stereotif
                                                    dan pada ungkapan-ungkapan shatahat                         satu yang terpenting dalam konteks     disebut sebagai ‘kaum Wujudiyyah yang
            Sikap al-Raniri tersebut didukung penuh   para sufi, seperti: ‘ana Allah’ (Aku adalah               pengkafiran ajaran Wujudiyyah adalah   zindiq, mulhid lagi sesat’.
            oleh Sultan Iskandar Sani, sehingga     Tuhan), ‘ana al-Haq’ (aku adalah al-Haq),                   Tibyan fi ma’rifat al-adyan, selanjutnya
            para pengikut Hamzah Fansuri harus      ‘subhani ma a’zama sha’ni’ (Mahasuci Aku,                   akan disebut Tibyan. Secara lebih      Tentu saja tulisan kali ini tidak
            menanggung tindak kekerasan aparat                                                                  spesifik, dalam lebih dari sepertiga   dimaksudkan untuk membahas secara
            kerajaan. Mereka dikejar-kejar dan      alangkah agungnya diriku), dan ‘ma fi                       kitab ini al-Raniri mengemukakan       lebih detil perdebatan pemikiran
            dipaksa melepaskan keyakinannya         jubbati siwa Allah’ (di kantong bajuku                      pembahasan tentang argumen-argumen     keislaman yang terjadi di Aceh tersebut,
            terhadap doktrin wujudiyah, bahkan      hanya ada Allah).                                           kesesatan ajaran Hamzah Fansuri dan    melainkan sekadar untuk menunjukkan
            karya-karya mistik Hamzah Fansuri       Menanggapi pandangan-pandangan                              al-Sumatra’i. Al-Raniri sendiri bahkan   bahwa maraknya tradisi penulisan
            dikumpulkan dan dibakar di depan        tersebut, al-Raniri memberikan penilaian                    merekomendasikan secara khusus untuk   karya-karya keislaman Nusantara
            mesjid besar Banda Aceh, Baiturrahman,   bahwa kaum Wujudiyyah sudah keliru                         membaca Tibyan bagi mereka yang ingin   juga dilatarbelakangi oleh perdebatan
            karena karya-karya tersebut dianggap    menafsirkan ayat, hadis, dan ungkapan                       mengetahui secara mendalam faham       pemikiran keagamaan yang melibatkan
            sebagai sumber penyimpangan akidah      syatahat, yang menurut al-Raniri harus                      mereka yang disebut oleh al-Raniri     para penulisnya.
            umat Islam (lihat Azra 1994, 182; Hadi   difahami makna takwilnya, bukan                            sebagai ‘i’tikad kaum yang dalalah’. Dalam
            WM 1995, 13; Simuh 1996, 53–54; Snouck   makna lahir.                                               kitab Ma al-hayah li ahl al-mamat misalnya,   Lihat misalnya bahwa sikap dan kritik
            Hurgronje 1997, II: 12).                                                                            al-Raniri mengatakan:                  keras al-Raniri seperti yang terungkap
                                                    Dalam manuskrip Fath al-mubin, al-                                                                 dalam karya-karyanya itu pada
            Tentang kritiknya ini, al-Raniri menulis   Raniri menegaskan bahwa fatwa kafir                      “Hai talib, jika kau kehendak mengetahui   gilirannya juga mendorong penulis
            setidaknya dua buah kitab berbahasa     dan sesat atas kaum wahdat al-mutlaq                        setiap-tiap i’tikad kaum yang dalalah itu,   berikutnya untuk berkarya. Sebut
            Melayu, yakni Tibyan fi ma’rifat al-    itu dihubungkan dengan motif fatwa                          maka hendaklah kamu mutala’ahkan kitab   misalnya Abdurrauf al-Sinkili. Untuk
            adyan dan Fath al-mubin ‘ala al-mulhidin   sesat terhadap para Sufi di dunia Islam                  Tibyan fi ma’rifat al-adyan yang telah   menanggapi kontroversi al-Raniri dan
            (Fathurahman 2011b).                                                                                kami ta’lifkan.” (Abdullah 1991, 53)
                                                    sebelumnya, seperti Abu Yazid al-Bistami                                                           pengikut Hamzah Fansuri dan al-
            Dalam teks Fath al-mubin, misalnya,     (w. 875) yang terkenal dengan faham                         Memperhatikan mukaddimah yang          Sumatra’i, Syekh Abdurrauf menulis
            al-Raniri melukiskan bahwa di           ittihadnya, seperti melalui ungkapan                        ditulis oleh al-Raniri pada bagian awal   manuskrip berbahasa Arab, Tanbih
            antara hal yang dikemukakan oleh        ‘subhani ma a’zama sha’ni’ di atas, dan ajaran              Tibyan, dapat diketahui bahwa karya ini   al-masyi al-mansub ila tariq al-Qusyasyi.
            kaum wahdat al-mutlaq adalah mereka     hulul Husayn bin Mansur al-Hallaj (w. 922),                 ditulis pada masa ketika al-Raniri berada   Manuskrip ini adalah salah satu naskah
            menyandarkan pandangan teologisnya      yang terkenal dengan ungkapan ‘ana al-                      di antara akhir Pemerintahan Sultan    karya Abdurrauf Singkel di bidang
            tentang Wujudiyyah itu pada ayat-ayat   Haq’. Seperti diketahui, keduanya difatwa                   Iskandar Tsani (1636-1641) dan awal    tasawuf yang teks aslinya ditulis pada
            mutasyabihat dalam al-Quran, seperti    sesat dan dihukum mati oleh para ulama                      Pemerintahan penggantinya, Sultanah    paruh kedua abad ke- 17.



         574    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   575
   581   582   583   584   585   586   587   588   589   590   591