Page 584 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 584

teks aslinya dalam bentuk yang baru,    tertulis bahwa ajaran martabat pitu dan                     di Perpustakaan Universitas Leiden     sumber-sumber primer berupa naskah-
            seolah-olah „diterjemahkan“ dari bahasa   manunggaling kawula Gusti yang tersebar                   (Voorhoeve 1957, 171).                 naskah tulisan tangan (manuscript) di
            Arab ke dalam bahasa Arab yang lebih    dan menyebabkan pertentangan antara                                                                bidang ini. Hidayat al-habib kemungkinan
            sederhana.                              ortodoksi dan heterodoksi di Jawa                           Pasca Hamzah Fansuri dan al-Sumatra’i,   ditulis pada 6 Syawal 1045 H/14 Maret
                                                    merujuk pada ajaran yang sama dalam                         tradisi penulisan manuskrip keislaman   1636 M. Kitab ini mengandung 831 buah
            Patut diduga bahwa tujuan al-Falimbani   al-Tuhfah al-mursalah. Akan tetapi, jelas                  di dunia Melayu diramaikan oleh        hadis dari berbagai sumber, seperti kitab
            ketika melakukan semacam “modifikasi”   bahwa teks al-Tuhfah al-mursalah sendiri                    Nuruddin al-Raniri (w. 1658) dan       Bukhari, Muslim, Turmudzi, dll.
            atas teks al-Tuhfah al-Mursalah tersebut   cukup populer di wilayah ini.                            Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri
            dan kemudian menerjemahkannya ke                                                                    (1615-1693), atau juga dikenal dengan   Kajian atas manuskrip hadis di dunia
            dalam bahasa Melayu, adalah agar lebih   Salah satu indikasi popularitasnya                         al-Sinkili.                            Melayu memang agak terlupakan. Belum
            dapat dipahami oleh kalangan Muslim     adalah ditemukannya terjemahan kitab                                                               banyak sarjana pengkaji Islam Indonesia
            awam ortodoks. Nyatanya, al-Falimbani   al-Tuhfah al-mursalah dalam bentuk                          Al-Raniri dapat dianggap sebagai       yang memberikan perhatian khusus
            memang tidak pernah dihukumi serta      tembang Jawa (macapat). Telaah A.H.                         penulis pertama kitab fikih ibadah     serta menelusuri sejauh mana tradisi dan
            dikategorikan sebagai heretis, meski di   Johns atas teks al-Tuhfah al-mursalah                     dalam bahasa Melayu. Ia menulis kitab   perkembangan awal penulisan kitab-
            dalamnya karya masterpiece nya, yakni   versi Jawa ini menunjukkan betapa                           Sirat al-mustaqim. Salinan manuskrip   kitab hadis di Nusantara sejak masa awal
            Siyar al-salikin, ia juga mencantumkan   sang pengarang sangat akrab dengan                         ini dapat dijumpai di berbagai koleksi,   tersebut. Meski demikian, karya-karya di
            doktrin martabat tujuh seperti yang     teks aslinya, dan bahkan merujuk pada                       baik koleksi perorangan maupun         bidang hadis sesungguhnya juga sangat
            diajarkan oleh al-Burhanpuri dalam al-  beberapa salinan lain dari teks tersebut                    perpustakaan dan museum. Ini jelas     signifikan.
            Tuhfah al-mursalah, atau oleh al-Sumatra’i   (Johns 1965, 13–20).                                   menunjukkan popularitas karya al-
            dalam Jawhar al-haqa’iq.                                                                            Raniri tersebut pada masanya.          Produktifitas al-Raniri dalam menulis
                                                    Selain itu, di Jawa juga dijumpai sebuah                    Selain di bidang fikih ibadah, al-Raniri   karya keislaman, juga dapat ditempatkan
            Sebuah benih yang sama, tampaknya       karya terjemahan dari komentar                                                                     dalam konteks kritik kerasnya terhadap
            memang belum tentu membuahkan           atas kitab al-Tuhfah al-mursalah. Kitab                     juga dapat disebut sebagai penulis     paham wujudiyah yang dikemukakan
            hasil yang sama pula, jika benih tersebut   komentar yang dimaksud berjudul                         Nusantara paling awal di bidang        oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
            ditanam dalam konteks tempat dan        al-Mawahib al-mustarsalah ‚ala al-tuhfah                    hadis. Ia menulis Hidayat al-habib fi-al-  al-Sumatra’i seperti dikemukakan di
            waktu yang berbeda. Itulah contoh yang   (Aneka karunia yang terkait al-Tuhfah),                    targhib wa-al-tarhib, atau disebut juga   atas. Puncak kontroversi paham ini
            ditunjukkan oleh al-Falimbani.                                                                      dengan judul lain, al-Fawa’id al-bahiyah
                                                    yang beberapa salinan manuskripnya                          ‘an al-ahadith al-nabawiyah. Karya ini   terjadi pada masa pemerintahan Sultan
            Lain di wilayah Melayu Sumatra,         tersimpan di sejumlah perpustakaan,                         dapat dianggap sebagai kitab hadis     Iskandar Sani (1637-1641). Al-Raniri, yang
            lain pula dengan apa yang terjadi di    antara lain dua salinan di Perpustakaan                     Melayu pertama dalam sejarah Islam     berada di Aceh dari tahun 1637 sampai
            wilayah Jawa. Benih heterodoksi yang    Nasional dengan kode A 97 dan A                             Nusantara. Minimnya kajian tentang     1644, menganggap sesat ajaran wujudiyah
            tersebar di wilayah ini pada abad ke-   98 (Behrend 1998, 6), satu salinan di                       tradisi penulisan karya-karya hadis,   Hamzah Fansuri dan Syamsudin al-
            ke-18 dan 19 sebagian juga bermuara     Museum dan Yayasan Pendidikan                               termasuk terhadap teks Hidayat al-habib   Sumatra’i. Al-Raniri mengeluarkan
            pada ajaran martabat tujuh dan wahdat   Ali Hasjmy (Fathurahman and Holil                           ini tampaknya sangat dipengaruhi       fatwa bahwa doktrin wujudiyah bersifat
            al-wujud. Memang tidak ada bukti kuat   2007, 156–57), dan satu salinan lainnya                     oleh masih terbatasnya akses terhadap   heretiks, menyimpang dari akidah



         572    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   573
   579   580   581   582   583   584   585   586   587   588   589