Page 585 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 585

teks aslinya dalam bentuk yang baru,   tertulis bahwa ajaran martabat pitu dan   di Perpustakaan Universitas Leiden   sumber-sumber primer berupa naskah-
 seolah-olah „diterjemahkan“ dari bahasa   manunggaling kawula Gusti yang tersebar   (Voorhoeve 1957, 171).  naskah tulisan tangan (manuscript) di
 Arab ke dalam bahasa Arab yang lebih   dan menyebabkan pertentangan antara   bidang ini. Hidayat al-habib kemungkinan
 sederhana.  ortodoksi dan heterodoksi di Jawa   Pasca Hamzah Fansuri dan al-Sumatra’i,   ditulis pada 6 Syawal 1045 H/14 Maret
 merujuk pada ajaran yang sama dalam   tradisi penulisan manuskrip keislaman   1636 M. Kitab ini mengandung 831 buah
 Patut diduga bahwa tujuan al-Falimbani   al-Tuhfah al-mursalah. Akan tetapi, jelas   di dunia Melayu diramaikan oleh   hadis dari berbagai sumber, seperti kitab
 ketika melakukan semacam “modifikasi”   bahwa teks al-Tuhfah al-mursalah sendiri   Nuruddin al-Raniri (w. 1658) dan   Bukhari, Muslim, Turmudzi, dll.
 atas teks al-Tuhfah al-Mursalah tersebut   cukup populer di wilayah ini.  Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri
 dan kemudian menerjemahkannya ke   (1615-1693), atau juga dikenal dengan   Kajian atas manuskrip hadis di dunia
 dalam bahasa Melayu, adalah agar lebih   Salah satu indikasi popularitasnya   al-Sinkili.  Melayu memang agak terlupakan. Belum
 dapat dipahami oleh kalangan Muslim   adalah ditemukannya terjemahan kitab   banyak sarjana pengkaji Islam Indonesia
 awam ortodoks. Nyatanya, al-Falimbani   al-Tuhfah al-mursalah dalam bentuk   Al-Raniri dapat dianggap sebagai   yang memberikan perhatian khusus
 memang tidak pernah dihukumi serta   tembang Jawa (macapat). Telaah A.H.   penulis pertama kitab fikih ibadah   serta menelusuri sejauh mana tradisi dan
 dikategorikan sebagai heretis, meski di   Johns atas teks al-Tuhfah al-mursalah   dalam bahasa Melayu. Ia menulis kitab   perkembangan awal penulisan kitab-
 dalamnya karya masterpiece nya, yakni   versi Jawa ini menunjukkan betapa   Sirat al-mustaqim. Salinan manuskrip   kitab hadis di Nusantara sejak masa awal
 Siyar al-salikin, ia juga mencantumkan   sang pengarang sangat akrab dengan   ini dapat dijumpai di berbagai koleksi,   tersebut. Meski demikian, karya-karya di
 doktrin martabat tujuh seperti yang   teks aslinya, dan bahkan merujuk pada   baik koleksi perorangan maupun   bidang hadis sesungguhnya juga sangat
 diajarkan oleh al-Burhanpuri dalam al-  beberapa salinan lain dari teks tersebut   perpustakaan dan museum. Ini jelas   signifikan.
 Tuhfah al-mursalah, atau oleh al-Sumatra’i   (Johns 1965, 13–20).  menunjukkan popularitas karya al-
 dalam Jawhar al-haqa’iq.  Raniri tersebut pada masanya.  Produktifitas al-Raniri dalam menulis
 Selain itu, di Jawa juga dijumpai sebuah   Selain di bidang fikih ibadah, al-Raniri   karya keislaman, juga dapat ditempatkan
 Sebuah benih yang sama, tampaknya   karya terjemahan dari komentar   dalam konteks kritik kerasnya terhadap
 memang belum tentu membuahkan   atas kitab al-Tuhfah al-mursalah. Kitab   juga dapat disebut sebagai penulis   paham wujudiyah yang dikemukakan
 hasil yang sama pula, jika benih tersebut   komentar yang dimaksud berjudul   Nusantara paling awal di bidang   oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
 ditanam dalam konteks tempat dan   al-Mawahib al-mustarsalah ‚ala al-tuhfah   hadis. Ia menulis Hidayat al-habib fi-al-  al-Sumatra’i seperti dikemukakan di
 waktu yang berbeda. Itulah contoh yang   (Aneka karunia yang terkait al-Tuhfah),   targhib wa-al-tarhib, atau disebut juga   atas. Puncak kontroversi paham ini
 ditunjukkan oleh al-Falimbani.  dengan judul lain, al-Fawa’id al-bahiyah
 yang beberapa salinan manuskripnya   ‘an al-ahadith al-nabawiyah. Karya ini   terjadi pada masa pemerintahan Sultan
 Lain di wilayah Melayu Sumatra,   tersimpan di sejumlah perpustakaan,   dapat dianggap sebagai kitab hadis   Iskandar Sani (1637-1641). Al-Raniri, yang
 lain pula dengan apa yang terjadi di   antara lain dua salinan di Perpustakaan   Melayu pertama dalam sejarah Islam   berada di Aceh dari tahun 1637 sampai
 wilayah Jawa. Benih heterodoksi yang   Nasional dengan kode A 97 dan A   Nusantara. Minimnya kajian tentang   1644, menganggap sesat ajaran wujudiyah
 tersebar di wilayah ini pada abad ke-   98 (Behrend 1998, 6), satu salinan di   tradisi penulisan karya-karya hadis,   Hamzah Fansuri dan Syamsudin al-
 ke-18 dan 19 sebagian juga bermuara   Museum dan Yayasan Pendidikan   termasuk terhadap teks Hidayat al-habib   Sumatra’i. Al-Raniri mengeluarkan
 pada ajaran martabat tujuh dan wahdat   Ali Hasjmy (Fathurahman and Holil   ini tampaknya sangat dipengaruhi   fatwa bahwa doktrin wujudiyah bersifat
 al-wujud. Memang tidak ada bukti kuat   2007, 156–57), dan satu salinan lainnya   oleh masih terbatasnya akses terhadap   heretiks, menyimpang dari akidah



 572  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   573
   580   581   582   583   584   585   586   587   588   589   590