Page 583 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 583

tampaknya merupakan hasil ‚perasan‘ dari   Jawiyyin (komunitas Muslim Nusantara)   Nusantara lain, yang menganggap bahwa   Terlepas dari kesimpulan baru dari Johns
 berbagai sumber untuk memperlihatkan   bergabung di dalamnya.  pada dasarnya tidak ada masalah dengan   di atas, pengaruh al-Tuhfah al-mursalah
 konsep kunci tertentu di bidang pemikiran   ajaran yang terkandung di dalamnya,   memang sangat jelas terlihat dalam
 tasawuf (Johns 1965, 6).  Meski ada persamaan tema yang dibahas,   hanya saja perlu penjelasan dan penafsiran   karya-karya para ulama Sufi Nusantara
 yakni tentang martabat tujuh dan wahdatul   yang kemungkinan dapat diterima oleh   lain yang menganggap bahwa pada
 Dalam perkembangan berikutnya,   wujud, namun tidak ada bukti tertulis   kalangan Muslim ortodoks sekalipun.  dasarnya tidak ada masalah dengan
 seperti terjadi juga di wilayah Nusantara,   yang meyakinkan bahwa karya-karya al-  ajaran yang terkandung di dalamnya,
 kitab al-Tuhfah al-mursalah kemudian   Sumatra’i menerima pengaruh dari kitab   Penting dikemukakan bahwa setelah   hanya saja perlu penjelasan dan
 ‘dibesarkan’ oleh teks-teks lain yang   al-Tuhfah al-mursalah. A.H. Johns bahkan   menelaah lebih saksama lagi teks   penafsiran yang kemungkinan dapat
 ditulis sebagai komentar atasnya, seperti   meyakini bahwa gagasan al-Sumatra’i   Jawhar al-haqa’iq, Johns mengakui bahwa   diterima oleh kalangan Muslim ortodoks
 al-Haqiqah al-muwafiqah li al-shari’ah    sangat genuine dan tidak dipengaruhi oleh   kesimpulannya tentang pengaruh al-  sekalipun.
 5
 karya al-Burhanpuri sendiri, Nukhbat al-  konsep martabat tujuh yang dirumuskan   Burhanpuri terhadap al-Sumatra’i itu
 mas’alah sharh al-Tuhfah al-mursalah karya   oleh ulama India tersebut. Johns meyakini   keliru. Sebaliknya, ia kini meyakini   Salah satu contoh yang baik dalam
 ‘Abd al-Ghani ibn Isma’il al-Nabulusi,   hal tersebut setelah mengkaji karya-  bahwa teks Jawhar al-haqa’iq itu lahir   konteks ini adalah kitab Mulakhkhas li al-
 Ithaf al-dhaki bi-sharh al-Tuhfah al-mursalah   karya al-Sumatra’i secara mendalam,   lebih duluan ketimbang al-Tuhfah,   Tuhfah karya Abdussamad al-Falimbani,
 ila al-Nabi  karya Ibrahim al-Kurani,   khususnya kita Jawhar al-haqa’iq (Permata   sehingga dapat dianggap sebagai karya   yang merupakan terjemahan harfiyah
 6
 al-Mawahib al-mustarsalah ‘ala al-Tuhfah    Hakikat), yang oleh sejumlah sarjana   asli al-Sumatra’i. Johns mengatakan:  antarbaris dalam bahasa Melayu dari
 7
 (‘Abd al-Ra’uf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri?),   dianggap sebagai salah satu bukti puncak   al-Tuhfah al-Mursalah. Dalam karya
 al-mulakhkhas ila al-Tuhfah (Melayu) karya   pencapaian intelektual Islam tertinggi   There is a general view that the   terjemahannya ini, al-Falimbani terkesan
 ‘Abd al-Samad al-Falimbani. Umumnya,   yang pernah dicapai oleh seorang   Jawhar is post-Tuhfah, and is either   ingin melakukan “akomodasi” atas teks
 kitab-kitab komentar tersebut mencoba   pemikir Muslim di wilayah Kepulauan   derived from it or a commentary   aslinya, karena sebagai sebuah karya
 memberikan penjelasan lebih terperinci   Nusantara (Johns 1975, 152). Kitab ini   on it. Up to the present I had   terjemahan harfiyah, al-Falimbani
 tentang konsep-konsep tasawuf filosofis   mengandung penjelasan mendalam al-  accepted and indeed endorsed this   malah melakukan perubahan yang
 yang dibahas secara sangat singkat   Sumatra’i tentang konsep wahdat al-wujud,   assumption, believing I had found   sangat signifikan menyangkut pilihan
 dalam al-Tuhfah al-mursalah.  serta menawarkan pengetahuan tentang   references to the TuÍfah and its   kata-kata dan susunan kalimat bahasa
 Tuhan melalui Sifat-sifat dan Nama-  author encrypted into its text. After   Arabnya, kendati substansi dan
 Dalam konteks Nusantara, popularitas   nama-Nya.  a closer study of the Jawhar, I now   sistematikanya tetap sama; sejumlah
 al-Tuhfah al-mursalah, hingga   believe I was wrong. The schema   kata kerja (fi’il), misalnya, diungkapkan
 menjadikannya sebagai salah satu   Pengaruh al-Tuhfah al-mursalah   of five levels of being in the Jawhar   kembali dalam bentuk kata benda
 karya otoritatif di bidang tasawuf   sesungguhnya tidak terbatas pada al-  as compared with that of seven in   (masdar) ; beberapa ungkapan kalimat
 filosofis tersebut, diawali pada awal   Sumatra’i dan sejumlah ulama Sufi   the Tuhfah suggests that the works,   yang dianggap panjang dan njelimet
 abad ke-17 ketika karya ini mulai   Aceh lainnya, melainkan juga diadopsi,   although in the same theosophical   pun diganti dengan kalimat yang lebih
 dikaji oleh kelompok Sufi asal India   diakomodasi, disalin ulang, dan bahkan   tradition, were written independently   pendek dan sederhana. Ini berarti
 di Madinah, dan sejumlah jamaat al-  ditafsirkan lagi oleh para ulama Sufi   (Johns 2013, 32).  al-Falimbani menghadirkan ulang



 570  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   571
   578   579   580   581   582   583   584   585   586   587   588