Page 587 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 587

Islam, sehingga mereka yang tidak mau   ‘yad Allah fawqa aydihim’ (Tangan Allah   ahli syariat pada zamannya (Simuh 1996,   Safiyatuddin (1641-1676). Al-Raniri
 bertobat dan menolak menanggalkan   di atas tangan mereka), pada hadis-  139–58).  melukiskan bahwa pada masa Sultan
 paham tersebut, dapat dianggap kafir,   hadis sifat Tuhan, seperti ‘al-hajar al-  Iskandar Tsani, pihak Kesultanan pernah
 dan dijatuhi hukuman mati (Azra 1994,   aswad yamin Allah fi al-ard’ (Hajar Aswad   Selain Fath al-mubin, karya al-Raniri   terlibat perdebatan dengan murid-murid
 182).  adalah tangan kanan Allah di bumi),   lain yang dianggap sebagai salah   al-Sumatra’i yang dengan sangat stereotif
 dan pada ungkapan-ungkapan shatahat   satu yang terpenting dalam konteks   disebut sebagai ‘kaum Wujudiyyah yang
 Sikap al-Raniri tersebut didukung penuh   para sufi, seperti: ‘ana Allah’ (Aku adalah   pengkafiran ajaran Wujudiyyah adalah   zindiq, mulhid lagi sesat’.
 oleh Sultan Iskandar Sani, sehingga   Tuhan), ‘ana al-Haq’ (aku adalah al-Haq),   Tibyan fi ma’rifat al-adyan, selanjutnya
 para pengikut Hamzah Fansuri harus   ‘subhani ma a’zama sha’ni’ (Mahasuci Aku,   akan disebut Tibyan. Secara lebih   Tentu saja tulisan kali ini tidak
 menanggung tindak kekerasan aparat   spesifik, dalam lebih dari sepertiga   dimaksudkan untuk membahas secara
 kerajaan. Mereka dikejar-kejar dan   alangkah agungnya diriku), dan ‘ma fi   kitab ini al-Raniri mengemukakan   lebih detil perdebatan pemikiran
 dipaksa melepaskan keyakinannya   jubbati siwa Allah’ (di kantong bajuku   pembahasan tentang argumen-argumen   keislaman yang terjadi di Aceh tersebut,
 terhadap doktrin wujudiyah, bahkan   hanya ada Allah).  kesesatan ajaran Hamzah Fansuri dan   melainkan sekadar untuk menunjukkan
 karya-karya mistik Hamzah Fansuri   Menanggapi pandangan-pandangan   al-Sumatra’i. Al-Raniri sendiri bahkan   bahwa maraknya tradisi penulisan
 dikumpulkan dan dibakar di depan   tersebut, al-Raniri memberikan penilaian   merekomendasikan secara khusus untuk   karya-karya keislaman Nusantara
 mesjid besar Banda Aceh, Baiturrahman,   bahwa kaum Wujudiyyah sudah keliru   membaca Tibyan bagi mereka yang ingin   juga dilatarbelakangi oleh perdebatan
 karena karya-karya tersebut dianggap   menafsirkan ayat, hadis, dan ungkapan   mengetahui secara mendalam faham   pemikiran keagamaan yang melibatkan
 sebagai sumber penyimpangan akidah   syatahat, yang menurut al-Raniri harus   mereka yang disebut oleh al-Raniri   para penulisnya.
 umat Islam (lihat Azra 1994, 182; Hadi   difahami makna takwilnya, bukan   sebagai ‘i’tikad kaum yang dalalah’. Dalam
 WM 1995, 13; Simuh 1996, 53–54; Snouck   makna lahir.  kitab Ma al-hayah li ahl al-mamat misalnya,   Lihat misalnya bahwa sikap dan kritik
 Hurgronje 1997, II: 12).  al-Raniri mengatakan:    keras al-Raniri seperti yang terungkap
 Dalam manuskrip Fath al-mubin, al-                 dalam karya-karyanya itu pada
 Tentang kritiknya ini, al-Raniri menulis   Raniri menegaskan bahwa fatwa kafir   “Hai talib, jika kau kehendak mengetahui   gilirannya juga mendorong penulis
 setidaknya dua buah kitab berbahasa   dan sesat atas kaum wahdat al-mutlaq   setiap-tiap i’tikad kaum yang dalalah itu,   berikutnya untuk berkarya. Sebut
 Melayu, yakni Tibyan fi ma’rifat al-  itu dihubungkan dengan motif fatwa   maka hendaklah kamu mutala’ahkan kitab   misalnya Abdurrauf al-Sinkili. Untuk
 adyan dan Fath al-mubin ‘ala al-mulhidin   sesat terhadap para Sufi di dunia Islam   Tibyan fi ma’rifat al-adyan yang telah   menanggapi kontroversi al-Raniri dan
 (Fathurahman 2011b).  kami ta’lifkan.” (Abdullah 1991, 53)
 sebelumnya, seperti Abu Yazid al-Bistami           pengikut Hamzah Fansuri dan al-
 Dalam teks Fath al-mubin, misalnya,   (w. 875) yang terkenal dengan faham   Memperhatikan mukaddimah yang   Sumatra’i, Syekh Abdurrauf menulis
 al-Raniri melukiskan bahwa di   ittihadnya, seperti melalui ungkapan   ditulis oleh al-Raniri pada bagian awal   manuskrip berbahasa Arab, Tanbih
 antara hal yang dikemukakan oleh   ‘subhani ma a’zama sha’ni’ di atas, dan ajaran   Tibyan, dapat diketahui bahwa karya ini   al-masyi al-mansub ila tariq al-Qusyasyi.
 kaum wahdat al-mutlaq adalah mereka   hulul Husayn bin Mansur al-Hallaj (w. 922),   ditulis pada masa ketika al-Raniri berada   Manuskrip ini adalah salah satu naskah
 menyandarkan pandangan teologisnya   yang terkenal dengan ungkapan ‘ana al-  di antara akhir Pemerintahan Sultan   karya Abdurrauf Singkel di bidang
 tentang Wujudiyyah itu pada ayat-ayat   Haq’. Seperti diketahui, keduanya difatwa   Iskandar Tsani (1636-1641) dan awal   tasawuf yang teks aslinya ditulis pada
 mutasyabihat dalam al-Quran, seperti   sesat dan dihukum mati oleh para ulama   Pemerintahan penggantinya, Sultanah   paruh kedua abad ke- 17.



 574  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   575
   582   583   584   585   586   587   588   589   590   591   592